Awal Mula Tradisi Menggantung Kaus Kaki Dekat Pohon Natal
- Beberapa rumah turut menggantung kaus kaki di dinding, perapian jika memilikinya, dan area dekat pohon Natal, sebagai tradisi perayaan Natal.
Kaus kaki yang digantung sering kali berwarna merah dengan tepian bulu berwarna putih, terkadang ada motif pohon Natal berwarna hijau atau nama anggota keluarga, dan dibiarkan kosong untuk diisi hadiah-hadiah kecil.
Namun, mengapa menggantung kaus kaki juga identik dengan perayaan Natal, sama halnya dengan mendirikan dan menghias pohon Natal?
Sejarah menggantung kaus kaki saat Natal
Jenis pakaian yang sangat penting di musim dingin
Melansir Discovery Channel UK, Rabu (24/12/2025), sebelum kaus kaki ditambahkan menjadi salah satu ornamen unik dalam perayaan Natal, kaus kaki hanyalah sebuah pakaian sehari-hari.
Bahkan, di negara dengan iklim yang lebih dingin, kaus kaki menjadi jenis pakaian yang sangat penting. Sering kali, kaus kaki dirajut dari wol agar pemakaian sehari-hari terasa lebih hangat.
Pada malam hari, kaus kaki biasanya digantung di dekat perapian untuk dikeringkan. Ini adalah solusi praktis di rumah-rumah yang lembab dan dingin.
Di sisi lain, perapian adalah jantung rumah. Furnitur ini tidak hanya memberi kehangatan, tetapi juga tempat untuk memasak, dan menjadi sumber cahaya setelah matahari terbenam.
Perapian juga menjadi tempat bagi seluruh anggota keluarga untuk berkumpul dan berbagi cerita, mewariskan tradisi, dan menandai pergantian tahun.
Ketika Natal tiba, perapian menjadi pusat perayaan. Di sinilah kayu-kayu dibakar, doa dipanjatkan, dan akhirnya, kaus kaki Natal digantung semalaman.
Santo Nikolas yang baik hati
Di sisi lain, asal usul tradisi menggantung kaus kaki saat Natal disebut terinspirasi dari kisah Santo NIkolas. Ini adalah kisah yang paling umum diceritakan tentang tradisi tersebut.
Konon katanya, Santo Nikolas yang menjadi inspirasi dari tokoh Santa Klaus, mendengar kabar tentang seorang pria miskin yang tidak mampu memberikan mas kawin untuk ketiga putrinya.
Tanpa mas kawin, ketiganya tidak bisa menikah. Santo Nikolas ingin membantu pria tersebut, tetapi tanpa mempermalukan mereka.
Menurut Legenda, Santo Nikolas diam-diam pergi ke rumah pria miskin itu saat tengah malam. Lalu, ia melemparkan kantung-kantung berisi emas ke cerobong asap.
Pada saat yang bersamaan, keluarga pria tersebut menggantung kaus kaki di perapian untuk dikeringkan. Alhasil, kantung-kantung emas itu jatuh ke dalam kaus kaki.
Ilustrasi Natal.
Pada pagi hari, saat ketiga putri pria miskin itu terbangun, mereka menemukan kekayaan yang tidak terduga. Kehidupan keluarga tersebut berubah selamanya.
Terlepas dari kisah tersebut sebagai cerita rakyat, informasi tentang keberuntungan yang datang secara tidak sengaja ini menyebar dengan cepat di seluruh Eropa, dan berkembang menjadi tradisi menggantung kaus kaki kosong di perapian.
Tradisi lain yang turut berkembang berdasarkan kisah tersebut adalah sepatu. Anak-anak di Belanda, Jerman, dan sebagian Perancis, akan meninggalkan sepatu di luar semalaman pada Hari Santo Nikolas, yaitu 6 Desember.
Mereka berharap mendapatkan hadiah kecil, koin, atau permen, saat mengambil kembali sepatu yang ditinggalkan di luar rumah, pada pagi hari.
Seiring waktu, beberapa aspek dalam cerita tersebut berubah. Misalnya adalah kantung emas yang berubah menjadi bola emas atau jeruk.
Tradisi meninggalkan sepatu jadi terikat dengan kaus kaki, dan perlahan menghilang meninggalkan hanya tradisi kaus kaki.
Menjadi tradisi
Pada abad ke-18 dan ke-19, menggantung kaus kaki kosong di dekat perapian sudah menjadi tradisi perayaan Natal, terutama di Inggris dan Amerika.
Puisi “A Visit from St Nicholas” atau “‘Twas the Night Before Christmas” karya Clement Clarke Moore pada tahun 1823, semakin menegaskan tradisi ini.
Moore dalam puisinya menuliskan, kaus kaki digantung dengan hati-hati di dekat perapian dengan harapan Santo Nikolas akan datang.
Bait puisi tersebut membuat kaus kaki semakin tidak terpisahkan dari Natal itu sendiri.
Penegasan tradisi dari Era Victoria
Era Victoria pada abad ke-19, semakin mempertegas ikatan kaus kaki dan Natal, dan bahkan menjadikannya sebagai barang pokok rumah tangga saat Natal.
Ini adalah masa ketika banyak kebiasaan Natal masa kini terbentuk. Para keluarga di era tersebut menggunakan pohon Natal, kartu ucapan, dan kaus kaki.
Kaus kaki yang digunakan dibuat dengan tangan, dipersonalisasi, dan digunakan kembali setiap tahunnya.
Namun, bagian terpenting dalam era ini adalah kaus kaki tidak diisi dengan hadiah mewah. Sebaliknya, kaus kaki diisi dengan barang-barang kecil seperti buah-buahan, kacang-kacangan, koin, dan mainan sederhana.
Seiring berjalannya waktu, isi kaus kaki Natal dikaitkan dengan moralitas. Anak-anak yang sudah berperilaku baik sepanjang tahun, akan menerima hadiah berupa permen di dalam kaus kaki mereka.
Sementara itu, anak-anak nakal diberi hadiah berupa bongkahan batu bara. Ini menjadikan kaus kaki sebagai peringatan ringan akan bagaimana anak harus berperilaku sepanjang tahun.
Tag: #awal #mula #tradisi #menggantung #kaus #kaki #dekat #pohon #natal