Serangan AS ke Iran Berlanjut, Trump Tuduh Iran Permainkan Negosiasi
Presiden AS Donald Trump berjanji akan menyerang Iran dengan sangat keras.(AFP/SAUL LOEB)
07:48
11 Juni 2026

Serangan AS ke Iran Berlanjut, Trump Tuduh Iran Permainkan Negosiasi

Amerika Serikat melancarkan gelombang baru serangan terhadap Iran pada Rabu (10/6/2026), sementara Presiden AS Donald Trump berjanji akan “menghantam mereka dengan keras” setelah perundingan untuk mengakhiri damai mengalami kebuntuan.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan bahwa pasukan Amerika memulai “serangan pertahanan diri tambahan” pada pukul 17.15 waktu Washington terhadap sejumlah target di Iran, sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai “agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut.”

Media Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah wilayah selatan negara itu dekat Selat Hormuz, wilayah yang sama dengan lokasi pasukan AS sebelumnya menyerang sistem pertahanan udara, radar, dan fasilitas lainnya pada Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Jatah Tiket Fans Iran di Piala Dunia Diduga Dicabut AS, Teheran Murka

Sumber Iran melaporkan serangan “proyektil musuh” menghantam Qeshm, Kargan, dan Sirik.

Trump klaim Iran mengulur-ulur pembicaraan damai

Serangan AS pada hari kedua berturut-turut terjadi setelah Trump menuduh para negosiator Iran “mempermainkan kami” dalam proses perundingan.

“Kami menghantam mereka dengan keras kemarin. Kami akan menghantam mereka lagi dengan keras hari ini,” kata Trump kepada wartawan.

“Kami sebenarnya sudah sangat dekat dengan sebuah kesepakatan, tetapi mereka terus mengulur-ulur kami.”

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengisyaratkan serangan dapat berlanjut hingga malam ketiga, dengan mengatakan bahwa operasi tersebut akan berlangsung “kuat” dan “jelas.”

Peningkatan ketegangan ini memicu seruan internasional agar kedua pihak menahan diri menjelang Piala Dunia, yang diselenggarakan bersama oleh AS dan diikuti Iran.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan agar konflik tidak kembali menjadi “perang penuh.”

Iran tolak ancaman AS

Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menolak ancaman Trump dan mengatakan, “Tidak ada kesepakatan berkelanjutan yang dapat dicapai melalui ancaman, intimidasi, atau penggunaan kekuatan.”

Meski serangan terus terjadi, jalur diplomasi belum sepenuhnya berhenti. Seorang diplomat yang mengetahui situasi tersebut mengatakan negosiator Qatar melakukan perjalanan ke Teheran “untuk bertemu dengan pihak Iran dalam upaya menjembatani kesenjangan yang masih ada.”

Adapun perang ini dimulai pada akhir Februari dengan serangan besar AS-Israel terhadap Iran, yang mengguncang kawasan dan pasar global sebelum gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku.

Konflik tersebut mendorong kenaikan harga energi setelah Teheran membalas dengan hampir menutup Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilewati sekitar seperlima minyak dunia.

Trump mengatakan pada Rabu bahwa militer AS secara diam-diam telah membantu 100 juta barrel minyak melewati selat yang menjadi sengketa tersebut.

Pasar saham global sebagian besar turun pada Rabu karena pertempuran yang kembali meningkat, inflasi AS yang lebih tinggi, serta melemahnya sektor teknologi menekan sentimen investor. Sementara itu, harga minyak naik sekitar dua persen.

Baca juga: Iran Minta Negara Teluk Tanggung Jawab Cegah Serangan AS-Israel

Kawasan Teluk dalam siaga

Iran mengatakan, pihaknya menyerang pangkalan militer Amerika di Yordania dan Bahrain pada Selasa setelah serangan AS terhadap Republik Islam tersebut sebagai balasan atas jatuhnya sebuah helikopter sebelumnya.

Helikopter Apache itu menjadi pesawat berawak kedua yang dikonfirmasi Washington hilang akibat tembakan Iran selama perang. Dua awaknya berhasil diselamatkan, menurut militer AS.

Bahrain mengatakan, mereka mencegat dan menghancurkan “sejumlah serangan udara Iran,” sementara Yordania menyatakan telah menembak jatuh lima rudal tanpa korban maupun kerusakan.

Militer Kuwait juga mengatakan bahwa sistem pertahanan udaranya sedang menghadapi “target udara musuh.”

Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan AS atau Israel menggunakan wilayah mereka untuk melancarkan serangan.

Militer AS juga mengatakan, sebuah pesawat tempur Amerika menembak dan melumpuhkan sebuah kapal tanker di Teluk Oman yang diduga membawa minyak Iran melanggar blokade AS.

Konflik meluas ke Lebanon

Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan kota pesisir selatan Lebanon, Tirus, pada 7 Juni 2026. Israel dan Hizbullah saling baku tembak, tetapi bagian selatan ibu kota Lebanon, termasuk distrik-distrik yang dianggap sebagai benteng Hizbullah, relatif terhindar, hanya dihantam dua kali sejak pertengahan April.AFP/KAWNAT HAJU Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan kota pesisir selatan Lebanon, Tirus, pada 7 Juni 2026. Israel dan Hizbullah saling baku tembak, tetapi bagian selatan ibu kota Lebanon, termasuk distrik-distrik yang dianggap sebagai benteng Hizbullah, relatif terhindar, hanya dihantam dua kali sejak pertengahan April.

Kekerasan tersebut juga memicu seruan deeskalasi dari sekutu Iran, Rusia dan China.

China mendesak kedua pihak untuk “menghentikan peningkatan konflik dan eskalasi situasi.”

Iran sebelumnya menegaskan bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang harus mencakup gencatan senjata di Lebanon, yang ikut terseret ke dalam konflik setelah Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret.

Israel kemudian merespons dengan serangan udara dan invasi darat yang telah menewaskan lebih dari 3.600 orang, sementara bentrokan dengan Hizbullah terus berlangsung meski secara resmi terdapat gencatan senjata.

Seorang sumber medis mengatakan kepada AFP bahwa serangan Israel di Lebanon selatan pada Rabu menewaskan 12 orang.

Baca juga: Trump Tuding Iran Terlalu Lama Negosiasi: Mereka Harus Tanggung Akibatnya

Tag:  #serangan #iran #berlanjut #trump #tuduh #iran #permainkan #negosiasi

KOMENTAR