Trump Bocorkan Niatnya soal Iran ke Staf: Tak Mau Perang Lagi, kecuali Hal Ini Terjadi
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut telah memberi tahu para stafnya secara pribadi bahwa ia belum ingin kembali membuka perang besar-besaran dengan Iran.(AFP/NATHAN HOWARD)
08:12
4 Juni 2026

Trump Bocorkan Niatnya soal Iran ke Staf: Tak Mau Perang Lagi, kecuali Hal Ini Terjadi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah memberi tahu para stafnya secara pribadi bahwa ia belum ingin kembali membuka perang besar-besaran dengan Iran, meski serangkaian bentrokan antara kedua pihak terus terjadi.

Namun, ia akan mempertimbangkan mengakhiri gencatan senjata jika Teheran membunuh pasukan Amerika Serikat.

Diketahui, Amerika Serikat dan Iran pekan ini terlibat dalam salah satu pertempuran paling intens sejak gencatan senjata berlaku pada awal April.

Baca juga: DPR AS Muak dengan Perang Iran, Paksa Trump Tarik Pasukan Amerika

Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan serta bandara internasional Kuwait. Serangan tersebut menyebabkan satu orang tewas.

Perselisihan terkait kendali atas Selat Hormuz juga telah mengganggu pasar energi global dan pelayaran internasional.

Iran membatasi arus perdagangan di jalur strategis tersebut, sementara AS memberlakukan blokade ketat terhadap aktivitas keluar-masuk pelabuhan Iran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut serangkaian serangan balasan itu bukan perang skala penuh yang kembali pecah, melainkan tindakan defensif.

“Mereka terjadi sebagai respons terhadap tindakan Iran. Jika mereka tidak menembaki kapal-kapal itu, kami tidak akan menembak, tetapi kami harus merespons,” kata Rubio dalam sidang di DPR AS pada Rabu (3/6/2026), sebagaimana dikutip The Wall Street Journal.

Meski begitu, para pejabat AS mengatakan, serangan berulang tersebut meningkatkan tekanan terhadap Trump dan menimbulkan keraguan mengenai keberlangsungan gencatan senjata dalam jangka panjang.

Trump klaim kesepakatan damai hampir tercapai

Trump berulang kali mengatakan bahwa dirinya hampir menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang, membuka kembali Selat Hormuz, membongkar program nuklir Iran, serta menghilangkan cadangan uranium yang diperkaya milik Teheran.

Namun, Trump juga mengatakan bahwa dirinya tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan tersebut.

Dalam wawancara dengan New York Post yang diterbitkan Rabu, Trump menyebut kemungkinan kecil — meski masih mungkin terjadi — bahwa blokade AS terhadap Iran akan berlangsung hingga Hari Buruh di AS.

Di sisi lain, Trump juga turun tangan ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berencana melakukan operasi militer di Lebanon yang dianggap bisa mengganggu kemajuan diplomasi.

Trump dan para pembantunya sebelumnya menyatakan konflik itu tidak akan berlangsung lebih dari enam pekan sejak dimulai pada 28 Februari. Tujuan awalnya adalah menghilangkan ancaman nuklir dan rudal Iran.

“Di bagian dunia itu, gencatan senjata adalah ketika Anda menembak dalam cara yang lebih terkendali,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval pada Rabu (3/6/2026).

Ia mengatakan, situasi saat ini masih terkendali dan pembicaraan damai dengan Iran terus berjalan.

“Dibutuhkan dua pihak untuk berdansa. Kami menghantam mereka dengan sangat keras terkait sesuatu yang lain, sehingga mereka merespons,” ujar Trump.

Baca juga: Sekutu AS Ini Tak Mau Jauhi Iran, Didesak Trump Pilih Kubu

Negosiasi AS-Iran masih terhambat

Ilustrasi bendera Pakistan, Iran, dan Amerika Serikat. Kapan perundingan AS dan Iran di Pakistan?Chat GPT Ilustrasi bendera Pakistan, Iran, dan Amerika Serikat. Kapan perundingan AS dan Iran di Pakistan?

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, Trump lebih memilih menghapus program nuklir Iran melalui jalur diplomatik, tetapi tetap memiliki batas yang jelas.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa serangan Israel terhadap Beirut akan menyebabkan kembalinya perang besar-besaran. Ia mengaitkan masa depan konflik tersebut dengan kelanjutan gencatan senjata AS-Iran.

Oleh karena itu, Trump menghadapi dilema besar. Ia harus menerima kesepakatan dengan Iran yang jauh dari target maksimalnya atau menunggu persyaratan yang lebih sulit dicapai.

Selama beberapa pekan, Trump dan timnya telah menyusun nota kesepahaman dengan Iran yang akan menjadi dasar pembicaraan selama sekitar 60 hari.

Namun, Trump menolak proposal terbaru Iran karena menurutnya Teheran harus memberikan konsesi serius sejak awal, bukan secara bertahap.

Iran, di sisi lain, menyatakan bersedia membahas program nuklirnya hanya setelah AS mencairkan aset Iran atau memberikan keuntungan finansial tertentu.

Trump terjebak antara tekanan dan diplomasi

Para analis menilai Trump berada dalam posisi sulit karena Iran menunjukkan bahwa mereka masih mampu menahan tekanan.

“Dia tampaknya memang terjebak,” kata Steven Cook, peneliti senior Timur Tengah di Council on Foreign Relations.

“Orang-orang Iran menunjukkan bahwa mereka bersedia menanggung penderitaan dan karena itu belum menyerah. Hal itu membuat presiden berada dalam situasi yang buruk,” ujarnya.

Jika Trump ingin mengakhiri konflik dengan cepat, para analis menilai hal itu mungkin dilakukan, tetapi membutuhkan kesepakatan yang lebih longgar dengan Iran.

Alternatif lain adalah mempertahankan tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran, meski konflik bisa berlangsung lebih lama.

Perang Iran tampaknya menjadi kekacauan pertama yang diciptakan oleh kecenderungan pemerintahan ini terhadap kekuatan militer, pertaruhan besar, yang tidak bisa diabaikan atau ditinggalkan begitu saja oleh presiden,” kata Suzanne Maloney, pakar Iran dan wakil presiden bidang studi kebijakan luar negeri di Brookings Institution.

Baca juga: Kuwait Bantah Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Menyerang Iran

Tag:  #trump #bocorkan #niatnya #soal #iran #staf #perang #lagi #kecuali #terjadi

KOMENTAR