China Tak Terima Rencana Aturan Impor Eropa, Sengketa Dagang Baru?
- Pemerintah China memperingatkan bakal mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya.
Peringatan keras ini muncul menyusul laporan bahwa Uni Eropa (UE) berencana memperluas kuota impor dan memberlakukan tarif tambahan terhadap barang-barang asal "Negeri Panda" tersebut.
Rencana pengetatan ini sebelumnya diungkapkan oleh Kepala Industri Uni Eropa, Stephane Sejourne, kepada Financial Times.
Baca juga: Hadapi Tekanan AS, Kuba Dapat Dukungan China untuk Lawan Penindasan
Sejourne menyatakan, blok tersebut akan menerapkan kuota impor dan tarif secara lebih sistematis untuk melindungi sektor-sektor krusial seperti industri bahan kimia, logam, dan teknologi bersih.
Menurutnya, sektor-sektor tersebut berisiko hancur akibat persaingan tidak sehat dari China, sebagaimana dilansir Reuters.
Menanggapi rencana tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning melayangkan kritik tajam dalam konferensi pers rutin pada Kamis (28/5/2026).
Mao menuduh Uni Eropa sengaja memilih-milih alias cherry picking hanya demi membenarkan klaim sepihak mengenai ketimpangan perdagangan.
Baca juga: Konflik AS-China atas Taiwan Disebut Bisa Picu Eskalasi Perang Nuklir
"Jika seseorang hanya melihat perdagangan barang tanpa mempertimbangkan perdagangan jasa dan pendapatan investasi, serta hanya fokus pada angka perdagangan utama tanpa melihat struktur perdagangan dan ke mana keuntungan mengalir. Hal itu tentu akan mengarah pada kesimpulan sepihak mengenai ketidakseimbangan perdagangan," ujar Mao.
Mao juga menegaskan bahwa narasi-narasi proteksionisme yang dibungkus dengan istilah ekonomi belakangan ini tidak dapat dibenarkan.
"Apakah itu pengurangan risiko, pengurangan ketergantungan, atau apa yang disebut dengan keseimbangan perdagangan, pada hakikatnya semua itu adalah proteksionisme," lanjutnya.
Akar perselisihan dagang
Ketegangan ini terjadi di tengah melonjaknya angka defisit perdagangan barang Uni Eropa dengan China sebesar 2,7 persen dari tahun sebelumnya pada 2025, yang menyentuh angka 359,9 miliar euro (sekitar Rp 7.454 miliar).
Baca juga: Bunuh Mahasiswa Korsel, 6 Warga China Dipenjara Seumur Hidup di Kamboja
Kendati demikian, Mao Ning membantah bahwa China sengaja menciptakan ketimpangan tersebut.
Dia pun mendesak Uni Eropa agar bersikap lebih objektif dalam memandang kemitraan ekonomi kedua belah pihak.
"Tidak ada yang namanya pemaksaan dalam membeli atau menjual. China tidak dengan sengaja mengejar surplus perdagangan dengan Eropa," tegas Mao.
Di sisi lain, Uni Eropa sejak lama menuduh China melakukan praktik dagang yang tidak sehat.
Baca juga: Dituduh Menyusup, Kapal Perang Belanda Diusir Militer China
Bentuknya mulai dari pemberian subsidi massal yang didukung penuh oleh pemerintah, mempersulit akses pasar bagi perusahaan asing, hingga menerapkan kebijakan yang dinilai mendistorsi kompetisi sehat di pasar global.
Saat ini, desakan untuk merombak instrumen perdagangan Uni Eropa semakin kuat.
Negara-negara besar di dalam blok tersebut, termasuk Perancis, Italia, dan Spanyol, terus mendorong Uni Eropa agar mengambil tindakan yang lebih agresif.
Hal itu diserukan demi melindungi industri domestik dari serbuan produk-produk impor yang dinilai terlampau murah.
Baca juga: Racuni Taipan China karena Sakit Hati, Pria Ini Dieksekusi Mati
Tag: #china #terima #rencana #aturan #impor #eropa #sengketa #dagang #baru