Bapak-bapak Misterius Tawarkan Rp 3,5 M ke Warga Greenland untuk Gabung AS
Ilustrasi Mengapa Greenland Disebut Tanah Hijau, Padahal Hampir Seluruhnya Es?(canva.com)
13:06
11 Mei 2026

Bapak-bapak Misterius Tawarkan Rp 3,5 M ke Warga Greenland untuk Gabung AS

Seorang pria asal Amerika Serikat menawarkan uang sebesar 200 ribu dollar AS atau setara Rp 3,5 miliar kepada warga Nuuk yang bersedia menandatangani petisi agar Greenland bergabung dengan AS.

Peristiwa itu pertama kali diungkap oleh sopir taksi bernama Danny Brandt, menurut laporan The New York Times.

Ia mengaku menjemput seorang pria lanjut usia di luar sebuah hotel di pusat kota Nuuk pada Rabu (6/5/2026). Awalnya, Brandt mengira penumpangnya hanyalah wisatawan biasa.

Baca juga: Kesal Tak Dibantu NATO Perang Lawan Iran, Trump Ancam Caplok Greenland Lagi

Pria tersebut mengenakan pakaian santai, membawa setumpuk kertas, dan memperkenalkan dirinya dengan aksen Amerika sebagai “Cliff dari Las Vegas”.

Namun, percakapan mereka berubah mengejutkan ketika pria itu mengajukan sebuah tawaran.

“Apakah kamu ingin mendapatkan 200 ribu dollar AS?” kata pria tersebut kepada Brandt.

Menurut Brandt, syaratnya hanya satu, yakni menandatangani petisi untuk menjadikan Greenland bagian dari Amerika Serikat. Brandt langsung menolak tawaran itu.

“Tidak, terima kasih,” jawabnya sebelum menurunkan pria tersebut di hotel lain beberapa menit kemudian. Setelah itu, Brandt segera menghubungi polisi.

Dikaitkan dengan situasi politik Greenland

Mayoritas warga Greenland selama ini diketahui tidak tertarik menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Namun kasus tersebut memicu kegaduhan di Nuuk karena muncul di tengah ancaman berulang Presiden Donald Trump yang ingin mencaplok Greenland, serta tuduhan adanya aktivitas terselubung Amerika di wilayah semi-otonom milik Denmark itu.

Pihak kepolisian Greenland enggan memberikan banyak detail, tetapi menyebut kasus itu kemungkinan berkaitan dengan “situasi politik saat ini” dan akan memulai penyelidikan.

Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, ikut angkat bicara.

“Masa depan kami tidak dinegosiasikan di dalam taksi,” tulisnya di Facebook.

“Itu bukan cara memperlakukan suatu bangsa. Dan itu bukan cara berbicara tentang sebuah negara.”

Sejak Trump tahun lalu mengancam akan “mendapatkan” Greenland “dengan satu atau lain cara”, warga Greenland disebut hidup dalam kekhawatiran.

Warga Greenland curiga

Orang-orang mengibarkan bendera Greenland saat mereka berpartisipasi dalam demonstrasi yang mengumpulkan hampir sepertiga penduduk kota untuk memprotes rencana Presiden AS untuk mengambil alih Greenland, pada 17 Januari 2026 di Nuuk, Greenland. Presiden AS Donald Trump meningkatkan upayanya untuk mengakuisisi Greenland, mengancam beberapa negara Eropa dengan tarif hingga 25 persen sampai pembelian wilayah Denmark tersebut tercapai. ALESSANDRO RAMPAZZO Orang-orang mengibarkan bendera Greenland saat mereka berpartisipasi dalam demonstrasi yang mengumpulkan hampir sepertiga penduduk kota untuk memprotes rencana Presiden AS untuk mengambil alih Greenland, pada 17 Januari 2026 di Nuuk, Greenland. Presiden AS Donald Trump meningkatkan upayanya untuk mengakuisisi Greenland, mengancam beberapa negara Eropa dengan tarif hingga 25 persen sampai pembelian wilayah Denmark tersebut tercapai.

Brandt mengaku mulai merasa tidak nyaman ketika melihat lembaran kertas yang dibawa penumpangnya.

“Ada tulisan besar tentang apakah Greenland ingin menjadi bagian dari AS,” katanya.

Pria berusia 34 tahun yang selama lima tahun bekerja sebagai sopir taksi dan awak kapal penangkap ikan itu mengaku tidak tertarik bergabung dengan Amerika Serikat.

“Saya memang bukan ahli soal Amerika Utara,” ujarnya.

“Tapi saya mendengar banyak hal tentang kemiskinan di Amerika Serikat,” tambahnya sambil mengatakan dirinya “sangat menolak” ide tersebut.

Media Greenland melaporkan bahwa pria yang sama juga mendatangi warga lain dengan tawaran serupa.

Foto-fotonya beredar di media sosial memperlihatkan dirinya mengenakan jas gelap sambil membawa clipboard dan berbicara dengan sejumlah warga Greenland. Ada pula foto ketika ia berbicara dengan dua polisi.

Baca juga: Terpendam 65 Tahun, Pangkalan Militer Rahasia AS Muncul dari Bawah Es Greenland

Mengaku bergerak sendiri

Harian Greenland Sermitsiaq kemudian mewawancarai pria tersebut pada Jumat (8/5/2026) sore.

Dalam wawancara itu, ia memperkenalkan diri sebagai Clifford Stanley, 86 tahun.

Stanley mengeklaim dirinya bergerak sendiri dan tidak bekerja atas perintah pemerintahan Trump.

Ia mengatakan, sedang mencoba “menyelidiki dukungan terhadap pengambilalihan Greenland oleh Amerika Serikat.”

“Saya mencoba memberi kesempatan kepada rakyat Greenland,” katanya kepada Sermitsiaq.

“Keputusan ada di tangan rakyat sendiri. Itu bukan pilihan saya.”

Meski demikian, belum jelas bagaimana petisi yang ia jalankan bisa memiliki dampak hukum.

Dalam pengaturan dengan Denmark, Greenland memang memiliki hak untuk merdeka. Namun status kemerdekaan harus dicapai terlebih dahulu sebelum wilayah itu dapat bergabung dengan negara lain.

Proses tersebut melibatkan pemerintah Greenland, parlemen Denmark, hingga referendum rakyat Greenland.

AS masih ingin kuasai Greenland

Ilustrasi yang diunggah Donald Trump menggambarkan dirinya menancapkan bendera AS di Greenland.tangkapan layar (Truth Social/ Donald Trump) Ilustrasi yang diunggah Donald Trump menggambarkan dirinya menancapkan bendera AS di Greenland.

Pemerintahan AS selama ini terang-terangan menyatakan keinginan mengambil alih Greenland, meski perhatian Trump saat ini lebih banyak tertuju pada Timur Tengah.

Sekutu-sekutu Trump juga disebut beberapa kali datang ke Greenland untuk membangun hubungan dan mencari peluang bisnis.

Tahun lalu, otoritas Denmark bahkan menyebut tindakan tiga warga Amerika yang terkait dengan Trump sebagai “operasi pengaruh terselubung”, meski mereka secara terbuka menyampaikan tujuan mereka.

Belum diketahui pula dari mana angka 200 ribu dollar AS itu berasal. Kepada Sermitsiaq, Stanley mengatakan, uang tersebut bukan berasal dari kantong pribadinya, melainkan kemungkinan dari Amerika Serikat dengan bantuan sekutu-sekutu di Timur Tengah.

Sebagai perbandingan, Denmark setiap tahun memberikan subsidi lebih dari setengah miliar dollar AS kepada Greenland.

Pejabat pemerintahan Trump sebelumnya juga pernah mengisyaratkan kemungkinan pemberian pembayaran bernilai enam digit kepada warga Greenland untuk menarik dukungan mereka. Namun pejabat Greenland dan Denmark menilai ide tersebut bersifat ofensif.

Baca juga: Jejak Ekspansi AS, Tradisi Beli Wilayah ala Amerika dan Ambisi atas Greenland

Tag:  #bapak #bapak #misterius #tawarkan #warga #greenland #untuk #gabung

KOMENTAR