Damai dengan Iran Tak Lantas Menguntungkan bagi AS, Mengapa?
- Tanggal 8 Mei 2026 menandai delapan tahun sejak Presiden Amerika (AS) Donald Trump mengecam Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
JCPOA adalah perjanjian era Presiden Obama yang membatasi program pengayaan nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Pada 8 Mei 2018, Trump menyebut JCPOA, yang diadopsi pada tahun 2015, sebagai salah satu transaksi "terburuk" bagi AS saat ia menarik diri dari perjanjian tersebut.
Baca juga: Trump Mulai Bosan dengan Perang Iran, Tak Sangka Jadi Seperti Ini
Itu mencakup pembatasan kemurnian pengayaan uranium Iran dan pengurangan stok uranium yang diperkaya.
Saat ini, Teheran dan Washington tengah mempertimbangkan kesepakatan baru yang juga mencakup soal nuklir.
Namun, beberapa ahli memperingatkan bahwa AS mungkin tidak akan memperoleh keuntungan yang lebih besar daripada yang diperolehnya saat kesepakatan era Obama.
Kesepakatan baru punya hal mendesak yang perlu diselesaikan
Kesepakatan baru juga menargetkan program nuklir Iran, tetapi berbeda dengan satu dekade lalu.
Kali ini mencakup isu-isu mendesak yang harus segera ditangani, yaitu mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran, menstabilkan pasar minyak, dan membuka kembali Selat Hormuz.
"Kesepakatan damai AS-Iran kemungkinan besar tidak akan terlihat seperti perdamaian sama sekali,” kata Rajneesh Narula, profesor regulasi bisnis internasional di Henley Business School di Inggris kepada Newsweek.
“Paling banter, itu hanya jadi gencatan senjata yang diselimuti ambiguitas, dirancang agar kedua belah pihak dapat mengklaim kemenangan sambil menyerahkan sesedikit mungkin," lanjutnya.
Baca juga: KTT ASEAN, Krisis AS-Iran, dan Mandat Perdamaian Dunia
Trump mengatakan "ekspedisi" yang sedang berlangsung di Iran jauh lebih singkat daripada konflik AS sebelumnya, seperti Perang Vietnam.
Namun, tidak jelas apakah ketentuan kesepakatan yang diajukan dapat menempatkan AS pada posisi yang lebih baik daripada sebelum perang.
"Seperti yang pernah diamati Henry Kissinger tentang Vietnam, terkadang tidak kalah sudah merupakan kemenangan yang cukup," ujar Narula
"Iran telah memenangkan sesuatu yang tak berwujud tetapi sangat berarti: Mereka telah selamat dari konfrontasi dengan AS tanpa perubahan rezim."
Baca juga: Iran Ejek Ancaman Serangan Nuklir Trump, Sebut Aneh dan Tak Masuk Akal
Batas waktu negosiasi terlalu singkat
Suasana menjelang negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026).
Tamsin Hunt, analis senior di S-RM, lembaga intelijen dan keamanan siber global, mengatakan kesepakatan dapat memberi manfaat ekonomi bagi Iran.
"Meskipun Iran akan memperoleh manfaat ekonomi nyata dari kesepakatan ini, seperti pelonggaran sanksi, pencairan dana, dan dimulainya kembali perdagangan minyak, manfaat bagi AS lebih bersifat perbaikan," katanya kepada Newsweek.
Menurut laporan media AS Axios, kesepakatan apa pun akan memicu negosiasi selama 30 hari di Islamabad atau Jenewa.
Dengan catatan ada komitmen dari Teheran untuk moratorium pengayaan nuklir dan persetujuan AS untuk mencabut sanksi dan melepaskan dana Iran yang dibekukan.
Namun, jika perundingan gagal, hal itu juga akan memicu kelanjutan blokade AS dan tindakan militer lebih lanjut.
Baca juga: Misteri Tumpahan Minyak Raksasa Muncul di Dekat Jantung Ekonomi Iran
"Batas waktu 30 hari adalah jangka waktu yang singkat untuk negosiasi yang kompleks jika dibandingkan dengan pembicaraan untuk kesepakatan nuklir tahun 2015 yang memakan waktu hampir dua tahun," jelas Hunt.
Batas waktu ini kemungkinan akan diperpanjang, tetapi tanpa resolusi segera pada area-area utama perselisihan.
Kecil kemungkinan akan ada akhir yang pasti untuk permusuhan dalam jangka pendek, sehingga masih ada potensi bentrokan sporadis selama periode negosiasi, tambahnya.
Moratorium pengayaan uranium, peningkatan inspeksi, dan penghapusan uranium yang sangat diperkaya akan sejalan dengan tujuan Trump.
Tetapi kesepakatan yang memberikan keringanan sanksi besar, sementara kewajiban Iran tetap bersifat sementara, dapat menempatkan AS dalam posisi yang lebih buruk.
Baca juga: CIA Akui Iran Mampu Bertahan dari Blokade AS 4 Bulan, Pengepungan Laut Tak Cukup Kuat
Biaya ekonomi warga AS meningkat
Ribuan warga Amerika Serikat menggelar aksi unjuk rasa menentang kebijakan Presiden Donald Trump, dengan membawa papan bertuliskan 'Lindungi Migran, Lindungi Planet', di New York City, Sabtu (19/4/2025).
Pasar bereaksi dengan minggu ini di tengah harapan ada de-eskalasi besar dalam perang Iran. Harga minyak mentah Brent sempat turun, dan naik lagi pada Kamis (7/5/2026) karena hambatan untuk resolusi jangka panjang masih tetap ada.
American Automobile Association (AAA) memprediksi, sekalipun kesepakatan tercapai, harga minyak tetap sekitar 40 persen lebih tinggi daripada sebelum perang
Dan warga Amerika akan merasakan dampak ekonomi yang ditimbulkannya, dengan harga rata-rata bensin nasional melampaui 4,50 dollar AS (Rp 78.000) per galon untuk pertama kalinya sejak Juli 2022.
Baca juga: Wamen Irak Bantu Selundupkan Minyak Iran, Langsung Disanksi Kemenkeu AS
"Perang Iran telah meningkatkan biaya bagi keluarga di AS hingga ratusan dolar, dan itu sudah menjadi bagian dari permasalahan," kata Wayne Winegarden, peneliti ekonomi senior di Pacific Research Institute.
"Meskipun permusuhan berakhir secara permanen, biaya ekonomi akan tetap ada karena dibutuhkan waktu agar produksi dan transportasi kembali normal," katanya.
Sementara itu, Iran kini percaya bahwa mereka memiliki kendali penuh karena menyandera dunia dengan menutup Selat Hormuz.
"Iran selalu memainkan strategi jangka panjang, dan menunggu pemilihan paruh waktu di AS, berharap AS berubah pikiran dan ingin menyelesaikan masalah secepat mungkin, sehingga bersedia melonggarkan garis merahnya," pungkas Nick Berg, mantan anggota pasukan operasi khusus AS.
Tag: #damai #dengan #iran #lantas #menguntungkan #bagi #mengapa