Epidemiolog Sebut Risiko Hantavirus di Indonesia Rendah, tapi Perlu Waspada
Para pasien hantavirus dinaikkan dua penerbangan dan sedang dibawa ke Belanda pada Rabu (6/5/2026).(WHO)
22:36
9 Mei 2026

Epidemiolog Sebut Risiko Hantavirus di Indonesia Rendah, tapi Perlu Waspada

Kemunculan kasus Hantavirus di luar negeri belakangan membuat sebagian masyarakat khawatir terhadap potensi penyebarannya di Indonesia.

Namun, epidemiolog dari Griffith University, Dr. Dicky Budiman, PhD menilai risiko hantavirus bagi masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap penting karena Indonesia memiliki sejumlah faktor yang dapat meningkatkan paparan terhadap hewan pengerat, terutama tikus sebagai reservoir utama hantavirus.

“Untuk saat ini risiko populasi di Indonesia masih sangat rendah, tetapi kewaspadaan tetap perlu dijaga,” ujar Dr. Dicky saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Penularan paling sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus.

Berbeda dengan Covid-19, hantavirus umumnya tidak menyebar mudah antarmanusia.

Baca juga: Siapa yang Rentan Terpapar Hantavirus? Ini Penjelasan Epidemiolog

Faktor yang perlu diwaspadai

Menurut Dr. Dicky, Indonesia memiliki beberapa kondisi yang membuat kewaspadaan terhadap hantavirus tetap penting.

Faktor tersebut antara lain populasi tikus yang tinggi, banjir musiman, sanitasi lingkungan yang kurang baik, hingga kepadatan area pelabuhan dan pergudangan.

Lingkungan lembap dan kotor dapat menjadi tempat berkembangnya tikus sekaligus meningkatkan risiko kontaminasi.

Selain itu, kelompok tertentu juga dinilai lebih rentan terpapar hantavirus, seperti petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, hingga masyarakat yang sering berada di lingkungan dengan infestasi tikus.

“Risiko lebih besar pada orang yang sering kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi kotoran tikus,” kata dia.

Baca juga: 5 Fakta tentang Hantavirus, dari Penularan hingga Risiko di Indonesia

Gejalanya mirip penyakit lain

Dicky mengatakan, tantangan lain dalam penanganan hantavirus adalah gejalanya yang sering menyerupai penyakit lain.

Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, tubuh lemas, mual, dan sakit kepala.

Namun dalam beberapa kasus, kondisi dapat berkembang menjadi sesak napas berat akibat paru-paru terisi cairan.

Menurut dia, di Indonesia hantavirus berpotensi tidak terdiagnosis karena gejalanya mirip leptospirosis, demam berdarah, maupun pneumonia berat.

Karena itu, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala tersebut setelah terpapar lingkungan dengan sanitasi buruk atau banyak tikus.

Baca juga: IDAI Sebut Campak dan Difteri Lebih Mendesak dari Hantavirus, Ini Alasannya

Masyarakat diminta tetap tenang

Meski hantavirus tengah menjadi perhatian global, Dr. Dicky meminta masyarakat tidak panik berlebihan.

Ia menilai langkah paling penting saat ini adalah menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta mencari informasi kesehatan dari sumber yang kredibel.

“Waspada tetap penting, tetapi harus rasional. Jangan mudah percaya informasi yang belum jelas sumbernya,” ujar dia.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menurunkan risiko berbagai penyakit zoonosis, termasuk hantavirus.

Baca juga: Singapura Isolasi 2 Warga Terkait Klaster Hantavirus MV Hondius

Tag:  #epidemiolog #sebut #risiko #hantavirus #indonesia #rendah #tapi #perlu #waspada

KOMENTAR