IDAI Sebut Campak dan Difteri Lebih Mendesak dari Hantavirus, Ini Alasannya
Ilustrasi campak. Puluhan orang di Kabupaten Sampang, Jawa Timur terserang gejala campak. Hingga kini, belasan sampel sudah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya untuk diuji.((KOMPAS.COM/Shutterstock/Prostock-studio))
22:24
9 Mei 2026

IDAI Sebut Campak dan Difteri Lebih Mendesak dari Hantavirus, Ini Alasannya

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap hantavirus, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai ancaman penyakit infeksi yang sudah lama ada di Indonesia seperti campak dan difteri justru lebih mendesak untuk ditangani.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH mengatakan, Indonesia saat ini masih menghadapi banyak kasus penyakit infeksi yang belum tertangani optimal.

“Yang membuat saya prihatin bahwa saat ini rumah kita ini sudah terbakar. Kasus-kasus infeksi di Indonesia ini begitu banyaknya dan kita tidak memiliki sumber daya yang cukup dalam tanda kutip untuk mengatasinya,” kata Dr. Dominicus dikutip dari ANTARA, Sabtu (9/5/2026).

Campak dan Difteri Dinilai Masih Jadi Ancaman Nyata

Menurut dia, penyakit seperti campak, difteri, tetanus, hingga pertusis masih menjadi persoalan kesehatan yang nyata di berbagai daerah.

Bahkan, beberapa penyakit tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun namun belum sepenuhnya terkendali.

“Sudah sekian belas tahun difteri di kita. Campak ini mulai 2-3 tahun yang lalu sampai hari ini belum tuntas juga,” ujarnya.

Dominicus menilai perhatian terhadap hantavirus tetap penting, tetapi masyarakat dan pemerintah tidak boleh melupakan penyakit yang jumlah kasusnya jauh lebih tinggi dan berdampak besar terhadap anak-anak.

Ia menyebut, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan perlindungan optimal terhadap penyakit infeksi yang sebenarnya dapat dicegah, salah satunya melalui imunisasi.

“Maksud saya, pencegahan kita terhadap misalnya, itu menurut saya tetap lebih penting karena kita lebih banyak kasusnya. Dan fakta menunjukkan orang-orang kita itu sangat banyak yang belum terlindungi dengan memadai,” katanya.

Baca juga: KLB Campak Melonjak, Dampak Influencer Antivaksin?

Mengenal Hantavirus dan Cara Penularannya

Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus dan dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, meski kasusnya relatif jarang.

Penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus di udara yang berasal dari urine, feses, atau air liur tikus, terutama di ruang tertutup.

Selain melalui saluran pernapasan, penularan juga dapat terjadi melalui kulit yang terluka, walaupun kasusnya lebih jarang.

Gejala Hantavirus Bisa Berat

Gejala hantavirus biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah terpapar virus. Gejala awal meliputi demam, nyeri otot, dan kelelahan.

Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami gangguan paru serius hingga tekanan darah rendah yang berpotensi mengancam nyawa.

Sejauh ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk hantavirus sehingga pasien dengan kondisi berat kerap memerlukan perawatan intensif di ICU.

Baca juga: Imunisasi MR Jadi Senjata Utama Cegah Campak dan Rubella

Pentingnya PHBS untuk Pencegahan

Meski demikian, Dominicus menekankan bahwa langkah pencegahan sederhana tetap penting dilakukan masyarakat, terutama dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Menurut dia, kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari paparan tikus, serta meningkatkan kesadaran terhadap penyakit infeksi masih menjadi langkah efektif dan relatif murah untuk mencegah penularan penyakit.

Tag:  #idai #sebut #campak #difteri #lebih #mendesak #dari #hantavirus #alasannya

KOMENTAR