Di Balik Perang Iran dan Krisis Hormuz, Perusahaan-perusahaan Ini Malah Panen Cuan
Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)
17:36
8 Mei 2026

Di Balik Perang Iran dan Krisis Hormuz, Perusahaan-perusahaan Ini Malah Panen Cuan

– Di saat orang di seluruh dunia harus menghadapi lonjakan biaya hidup akibat perang Iran, sejumlah perusahaan global justru melaporkan perolehan laba yang melimpah.

Perang tersebut dimulai oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari.

Iran membalas serangan dan menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen minyak dunia.

Baca juga: Harga Barang Elektronik China Bakal Naik Imbas Krisis Hormuz

Akibat perang dan penutupan Selat Hormuz, harga energi langsung melonjak, beserta komoditas turunannya.

Hal tersebut langsung berdampak pada pengeluaran keluarga, perusahaan, hingga pemerintah di berbagai negara. 

Namun, di balik krisis tersebut, sektor-sektor tertentu justru mencatatkan rekor pendapatan.

Hal itu karena karakteristik bisnis mereka yang lebih menguntungkan di masa perang atau volatilitas harga energi.

Dilansir dari BBC, berikut sektor dan perusahaan yang meraup untung besar ketika konflik Timur Tengah berkecamuk.

Baca juga: Babak Belur Akibat Krisis Hormuz, Indonesia dan Asia Bersiap Hadapi El Nino Godzilla

1. Perusahaan minyak dan gas

Dampak ekonomi terbesar dari perang sejauh ini adalah lonjakan harga energi. 

Hal ini dipicu oleh terhentinya pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu.

Padahal jalur tersebut merupakan rute bagi seperlima pasokan energi dunia.

Kondisi ini menguntungkan raksasa minyak asal Eropa yang memiliki unit perdagangan kuat. 

BP, misalnya, melaporkan laba naik lebih dari dua kali lipat menjadi 3,2 miliar dollar AS pada kuartal pertama tahun ini. 

Pihak perusahaan menyebut capaian ini sebagai performa "luar biasa" dari divisi perdagangan mereka.

Langkah serupa diikuti oleh Shell yang melampaui ekspektasi analis dengan laba kuartal pertama sebesar 6,92 miliar dollar AS. 

Sementara itu, raksasa minyak Perancis, TotalEnergies, mencatat kenaikan laba hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar dollar AS pada periode yang sama.

Di sisi lain, raksasa AS seperti ExxonMobil dan Chevron memang mengalami penurunan pendapatan dibandingkan tahun lalu akibat gangguan pasokan. 

Namun, keduanya tetap melampaui prediksi analis dan optimis laba akan terus tumbuh seiring harga minyak yang tetap tinggi.

Baca juga: Di Balik Penarikan Pasukan AS, Eropa Hadapi Krisis Lebih Dalam akibat Trump

2. Sektor perbankan dan investasi

Gejolak pasar finansial juga membawa berkah bagi bank-bank besar. 

Lini perdagangan JP Morgan mencatatkan rekor pendapatan sebesar 11,6 miliar dollar AS dalam tiga bulan pertama tahun 2026. 

Secara keseluruhan, kelompok "Big Six" perbankan AS termasuk Bank of America, Morgan Stanley, Citigroup, Goldman Sachs, dan Wells Fargo, meraup total laba 47,7 miliar dollar AS.

"Volume perdagangan yang besar telah menguntungkan bank investasi, khususnya Morgan Stanley dan Goldman Sachs," ujar Susannah Streeter, kepala strategi investasi di Wealth Club.

Menurut Streeter, banyak investor berbondong-bondong melepas aset berisiko dan beralih ke aset aman, atau justru mencoba memanfaatkan volatilitas pasar.

"Volatilitas yang dipicu oleh perang telah menyebabkan lonjakan perdagangan, karena beberapa investor menjual saham karena takut akan eskalasi, sementara yang lain membeli saat harga turun," tambahnya.

Baca juga: Bos Pupuk Peringatkan Dampak Krisis Hormuz Bisa Sampai ke Piring Kita

3. Sektor pertahanan

Sektor pertahanan menjadi penerima manfaat paling langsung dalam setiap konflik. 

Analis senior di RSM UK, Emily Sawicz, menjelaskan bahwa perang ini telah mendorong percepatan investasi militer.

"Konflik ini telah memperkuat adanya celah dalam kemampuan pertahanan udara, sehingga mempercepat investasi dalam pertahanan rudal, sistem kontra-drone, dan perangkat keras militer di seluruh Eropa dan AS," kata Sawicz kepada BBC.

BAE Systems, produsen komponen jet tempur F35, memproyeksikan pertumbuhan penjualan yang kuat tahun ini karena meningkatnya pengeluaran pertahanan pemerintah global. 

Tiga kontraktor pertahanan terbesar dunia yakni Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman juga melaporkan rekor pesanan pada akhir kuartal pertama 2026.

Baca juga: PM Singapura Akui Ekonomi Bakal Melambat Imbas Krisis Hormuz, Ajak Rakyat Bersiap

4. Sektor energi terbarukan

Menariknya, konflik ini juga mempercepat peralihan ke energi terbarukan sebagai upaya melepaskan ketergantungan pada bahan bakar fosil. 

Susannah Streeter menyebut perang telah membuat investasi energi bersih dianggap krusial bagi stabilitas dan ketahanan negara.

NextEra Energy yang berbasis di Florida mencatat kenaikan saham sebesar 17 persen tahun ini. 

Tren positif juga dirasakan oleh perusahaan turbin angin Denmark, Vestas dan Orsted.

Di Inggris, Octopus Energy melaporkan lonjakan penjualan panel surya hingga 50 persen sejak akhir Februari. 

Selain itu, kenaikan harga bensin turut mendorong permintaan kendaraan listrik, sebuah peluang yang dimanfaatkan secara maksimal oleh produsen otomotif, terutama dari China.

Baca juga: Khawatir Krisis Perang Iran, Trump Adakan Rapat dengan Bos-bos Minyak

Tag:  #balik #perang #iran #krisis #hormuz #perusahaan #perusahaan #malah #panen #cuan

KOMENTAR