Ketegangan Selat Hormuz Memanas Kembali, Iran Serang Zona Industri Minyak Uni Emirat Arab
Rudal Iran
16:00
5 Mei 2026

Ketegangan Selat Hormuz Memanas Kembali, Iran Serang Zona Industri Minyak Uni Emirat Arab

Upaya diplomasi di Timur Tengah terancam runtuh setelah Iran secara terbuka menolak keterlibatan militer asing di wilayahnya.

Abbas Araghchi menekankan bahwa pengerahan kekuatan bersenjata tidak akan pernah menjadi jawaban atas kebuntuan politik saat ini.

Dikkutip dari Sputnik, kehadiran militer Amerika Serikat dan langkah Uni Emirat Arab dinilai hanya akan memperburuk situasi keamanan di jalur perairan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat setelah negosiasi tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. [Tangkap layar X]Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat setelah negosiasi tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. [Tangkap layar X]

Pakistan sebenarnya tengah mengupayakan mediasi, namun bayang-bayang kegagalan negosiasi terus menghantui stabilitas kawasan Teluk.

Iran mendesak semua pihak untuk tetap pada jalur dialog agar tidak terjebak dalam kepentingan aktor-aktor tertentu.

Teheran secara resmi menyatakan penolakan terhadap inisiatif "Project Freedom" yang diusung oleh pemerintah Washington baru-baru ini.

Strategi Amerika Serikat untuk mengawal kapal komersial di Selat Hormuz disebut sebagai rencana yang tidak memiliki masa depan.

Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kehadiran militernya di sekitar Selat Hormuz. [Istimewa]Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kehadiran militernya di sekitar Selat Hormuz. [Istimewa]

"Peristiwa di Hormuz memperjelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik. Dengan adanya pembicaraan yang mengalami kemajuan lewat upaya baik Pakistan, Amerika harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam kubangan oleh pihak-pihak yang berniat buruk; begitu pula UEA," kata Araghchi di platform X, Selasa.

Pernyataan keras ini muncul tepat setelah eskalasi fisik kembali pecah di wilayah pesisir Uni Emirat Arab.

Aksi saling serang ini menjadi noda pertama bagi kesepakatan damai yang sebelumnya diharapkan bisa bertahan lama.

Militer Iran meluncurkan rentetan serangan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan titik-titik vital di wilayah kedaulatan UEA.

Gelombang serangan udara ini merupakan respon langsung atas dinamika keamanan yang dianggap merugikan posisi tawar pihak Iran.

Otoritas pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan telah menembak jatuh 15 rudal balistik serta empat unit drone pengintai.

Meskipun sistem pertahanan udara bekerja maksimal, dampak kerusakan fisik tetap terjadi pada fasilitas infrastruktur energi di pesisir timur.

Zona Industri Minyak Fujairah mengalami insiden kebakaran hebat setelah salah satu fasilitasnya terkena hantaman drone peledak.

Ketegangan masif ini merupakan kelanjutan dari serangan awal yang dilakukan oleh aliansi Amerika Serikat dan Israel.

Selat Hormuz yang menjadi jalur urat nadi minyak dunia sempat ditutup secara total sebagai bentuk protes dari pihak Teheran.

Pakistan sebenarnya telah berhasil memfasilitasi gencatan senjata pada awal April lalu untuk meredam konflik yang lebih luas.

Presiden Donald Trump sendiri telah memberikan instruksi untuk memperpanjang masa tenang tersebut meski tanpa kepastian durasi yang jelas.

Namun, kegagalan mencapai kesepakatan permanen di Islamabad memicu kerentanan baru yang kini meledak menjadi konfrontasi fisik.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Tag:  #ketegangan #selat #hormuz #memanas #kembali #iran #serang #zona #industri #minyak #emirat #arab

KOMENTAR