Muncul Tekanan Daya Beli, Lipstick Effect Jadi Alarm Potensi Krisis Ekonomi?
- Fenomena lipstick effect memang tidak dapat langsung dikaitkan sebagai pertanda akan datangnya krisis ekonomi di masa depan.
Kendati demikian, munculnya fenomena ini tidak dapat dipandang sebelah mata.
Pasalnya, peristiwa ini sekurang-kurangnya membuka fakta, masyarakat tengah mengalami tekanan kondisi ekonomi, terutama dalam hal belanja besar.
Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, munculnya fenomena lipstick effect memang tidak otomatis menjadi bukti krisis besar akan terjadi.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 vs 2025, Apa Bedanya?
Menurut dia, lipstick effect lebih tepat dibaca sebagai sinyal tekanan daya beli, bukan bukti krisis besar pasti akan terjadi.
"Jadi, lipstick effect adalah alarm kecil," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Budi menambahkan, fenomena lipstick effect baru menjadi lebih serius jika disertai penurunan tabungan, kenaikan utang konsumtif, meningkatnya kredit macet paylater, dan pelemahan konsumsi barang tahan lama.
Secara umum, fenomena ini terjadi ketika masyarakat mulai menahan belanja besar, seperti rumah, kendaraan, atau elektronik, tetapi tetap membeli barang kecil yang memberi kepuasan emosional, seperti kosmetik, skincare, kopi, makanan, atau hiburan murah.
Di Indonesia, Budi menyebut, ini bisa muncul karena harga kebutuhan naik, pendapatan sebagian masyarakat tertekan, ketidakpastian kerja meningkat, dan budaya self-reward makin kuat.
"Terutama karena media sosial dan promosi digital," ungkap dia.
Masyarakat Harus Bijak Kelola Keuangan
Dalam menanggapi adanya fenomena tersebut, Budi mengimbau masyarakat untuk lebih bijak mengelola keuangan.
Membeli barang kecil untuk menyenangkan diri tidak salah, selama masih sesuai anggaran.
"Yang berbahaya adalah ketika belanja kecil dilakukan terlalu sering, memakai paylater atau utang konsumtif," ungkap dia.
Ia berpesan, prioritas sebaiknya tetap pada kebutuhan pokok, cicilan wajib, dana darurat, dan perlindungan dasar.
"Self-reward boleh, tetapi jangan sampai berubah menjadi pelarian finansial," ucap dia.
Lipstick Effect Diperparah dengan Strategi Penurunan Kelas Produk
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan fenomena lipstick effect ini diperparah dengan munculnya strategi bertahan dari konsumen melalui metode penurunan kelas produk (downtrading) demi mempertahankan kebiasaan sehari-hari.
"Apalagi sekarang mulai terlihat gejala downtrading, konsumen beralih ke produk yang lebih murah, kemasan kecil, atau memanfaatkan paylater untuk menjaga gaya hidup," jelas dia.
Oleh karena itu, ia mengingatkan para pemangku kebijakan dan pelaku pasar agar tidak salah dalam membaca pergerakan data konsumsi mikro yang saat ini tampak bergerak aktif.
"Efek lipstick effect sebaiknya dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, bukan tanda konsumsinya sedang kuat," tegas Yusuf.
Yusuf juga mewanti-wanti adanya dampak jangka panjang bagi ketahanan finansial keluarga jika kondisi stagnasi pendapatan dan tekanan ekonomi ini terus berlanjut tanpa arah perbaikan.
"Kalau tekanan ekonomi berlangsung terlalu lama sementara pendapatan tidak naik, risiko berikutnya adalah tabungan rumah tangga terkuras, konsumsi utang meningkat, dan daya tahan masyarakat semakin melemah," ungkap dia.
Ekonomi Kelas Menengah Stagnan
Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia Teguh Yudo Wicaksono mengatakan, lipstick effect adalah fenomena kelas menengah yang mengalami tekanan.
"Kita ketahui bahwa selama ini banyak kebijakan ekonomi yang membuat kelas menengah stagnan," ungkap dia.
Hal tersebut misalnya adalah ketidakpastian usaha hingga pelemahan nilai tukar.
"Ini membuat investor menahan untuk ekspansi," ucap dia.
Akibat dari peristiwa tersebut dirasakan langsung oleh kelas menengah.
Akhirnya kelas menengah mengalokasikan belanja barang mewah yang besar, seperti mobil dan rumah ke barang mewah yang kecil-kecil.
"Jadi semua memang indikasi kelas menengah dalam tekanan," kata dia.
Suasana antrean panjang pengunjung yang mengular tertib di depan gerai kuliner *coffeebar & saltbread* kawasan Blok M, Jakarta Selatan, pada Minggu (17/5/2026) siang.
Fenomena Lipstick Effect Muncul di Awal Tahun 2000-an
Secara sederhana, efek lipstick effect adalah konsep ekonomi yang menggambarkan kebiasaan konsumen membeli barang kecil yang memberi rasa nyaman atau dihargai pada saat kondisi keuangan sedang sulit.
Barang yang dibeli biasanya bukan kebutuhan utama, tetapi tetap dianggap terjangkau, seperti kosmetik, parfum, kopi, atau makan di luar setelah gajian.
Fenomena ini pertama kali populer setelah Leonard Lauder dari perusahaan kosmetik Estée Lauder melihat penjualan lipstik meningkat saat ekonomi melemah.
Estée Lauder melaporkan kenaikan drastis penjualan lipstik setelah terjadi serangan teroris pada 11 September 2001.
Istilah lipstick effect pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Juliet Schor yang merujuk pada perilaku konsumen yang berbelanja barang mewah dengan harga yang terjangkau, misalnya kosmetik premium.
Dilaporkan dari Forbes (1/6/2022), istilah ini kemudian dikenal sebagai salah satu indikator perilaku konsumen saat resesi.
Selama bertahun-tahun, efek lipstick effect sering dikaitkan dengan anggapan bahwa perempuan membeli produk kecantikan untuk menarik perhatian pasangan atau meningkatkan peluang kerja.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan kinerja yang lebih kompleks.
Ekonom California State University, San Bernardino, Yasemin Dildar mengatakan, peningkatan pembelian produk kecantikan saat ekonomi sulit sebenarnya lebih berkaitan dengan kebutuhan emosional.
"Itu hanyalah bentuk hiburan kecil," kata Dildar, seperti dikutip dari Bloomberg (15/11/2025).
Menurut penelitian yang ia lakukan saat periode resesi besar, konsumen cenderung mengurangi pembelian mahal seperti tas, pakaian, atau perhiasan, lalu menggantinya dengan produk yang lebih murah tetapi tetap memberi rasa puas.
Baca juga: Warga Antre Beli Parfum dan Jam Tangan, Bukan Tanda Ekonomi Baik?
Bukti Fenomena Lipstick Effect di Tengah Masyarakat
Melansir Instagram @localpridegarage, fenomena antrean panjang terjadi di kawasan Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta setelah parfum lokal merek Mykonos viral di media sosial.
Sejumlah unggahan memperlihatkan anak-anak hingga remaja rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan produk parfum yang tengah populer tersebut.
Tren itu diduga dipengaruhi konten kreator dan streamer media sosial yang ramai mengulas produk tersebut, sehingga memicu fenomena fear of missing out (FOMO) alias takut ketinggalan tren di kalangan anak muda dan remaja.
Sementara itu, peluncuran koleksi jam tangan saku terbaru hasil kolaborasi Audemars Piguet dan Swatch memicu kehebohan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia pada Sabtu (16/5/2026).
Banyak penggemar horologi rela mengantre sejak pagi buta di depan gerai Swatch yang berlokasi di mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, dan Pacific Place, Jakarta Selatan, demi mendapatkan seri bertajuk Royal Pop Collection.
Baca juga: Purbaya Masih Tersenyum meskipun Rupiah Melemah, Yakin Ekonomi RI Tetap Aman
Tag: #muncul #tekanan #daya #beli #lipstick #effect #jadi #alarm #potensi #krisis #ekonomi