Bukan AS, Negara Ini Akan Diuntungkan Saat UEA Keluar dari OPEC
Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari keanggotaan negara-negara OPEC(wikimedia commons)
14:30
30 April 2026

Bukan AS, Negara Ini Akan Diuntungkan Saat UEA Keluar dari OPEC

Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) di tengah gejolak energi global ternyata membuka peluang bagi sejumlah negara.

Salah satu yang disebut paling berpotensi diuntungkan adalah China, importir minyak terbesar kedua di dunia.

“Bagi pembeli, setiap potensi peningkatan pasokan adalah hal positif karena berarti tekanan pada harga. Saya memperkirakan China akan meningkatkan pembelian dari UEA,” kata Muyu Xu, analis minyak mentah senior di Kpler, seperti dilansir South China Morning Post, Rabu (29/4/2026).

Baca juga: Rusia Tanggapi Keluarnya UEA dari OPEC, Berpotensi Turunkan Harga Minyak Global

Dengan fleksibilitas produksi yang lebih besar, China dinilai bisa lebih cepat mengakses minyak UEA, terutama melalui pasar spot.

“Dengan UEA yang lebih fleksibel untuk meningkatkan produksi, China mungkin dapat dengan cepat mengakses minyak tersebut jika mereka memilih membeli di pasar spot,” ujar June Goh, analis pasar minyak senior di Sparta Commodities.

Data Kpler menunjukkan, pada 2025 China mengimpor sekitar 692.000 barel per hari dari UEA, atau sekitar 6 persen dari total impor minyak lautnya. Angka ini berpotensi meningkat jika produksi UEA bertambah.

Di luar sektor energi, langkah UEA juga berpotensi membuka peluang kerja sama finansial yang lebih erat dengan China. Salah satunya terkait penggunaan yuan dalam transaksi energi.

“UEA dapat memiliki fleksibilitas lebih besar untuk bereksperimen dengan aktivitas berbasis yuan secara selektif, jika China memberikan insentif yang cukup, meskipun tidak diharapkan ada perubahan besar pada sistem petrodolar,” ucap Gary Ng, ekonom senior Natixis.

Harga minyak berpotensi turun dalam jangka panjang

Ilustrasi minyak bumi.
Freepik Ilustrasi minyak bumi.

Meski saat ini harga minyak masih tinggi akibat gangguan distribusi, dalam jangka panjang situasi bisa berubah.

Para analis memperkirakan peningkatan produksi, baik dari negara OPEC maupun non-OPEC, akan menekan harga.

“Kita bisa melihat baik produsen OPEC maupun non-OPEC memprioritaskan peningkatan produksi untuk menutupi kekurangan pasokan segera setelah konflik,” kata Xu.

Ia menambahkan bahwa kapasitas besar UEA bisa memicu persaingan yang lebih ketat, bahkan membuka risiko perang harga dalam skenario ekstrem.

Saat ini, gangguan pengiriman—terutama di Selat Hormuz yang menangani sekitar 20 persen aliran minyak dan gas global—masih menjadi faktor utama kenaikan harga.

“Saya tidak melihat dampak langsung, karena apakah suatu negara bergabung atau keluar dari OPEC tidak relevan terhadap gangguan saat ini di Selat Hormuz,” tutur Alfredo Montufar-Helu dari Ankura China Advisors.

Baca juga: Israel Kirim Iron Dome ke UEA, Sinyal Aliansi Baru di Timur Tengah?

UEA fokus kepentingan nasional

Pemerintah UEA menyatakan bahwa keputusan keluar dari OPEC didasarkan pada kepentingan strategis jangka panjang. Langkah ini mulai berlaku pada 1 Mei.

“Keputusan ini mengikuti tinjauan komprehensif terhadap kebijakan produksi UEA serta kapasitas saat ini dan masa depan, dan didasarkan pada kepentingan nasional kami serta komitmen untuk berkontribusi secara efektif dalam memenuhi kebutuhan pasar yang mendesak,” demikian pernyataan Kementerian Energi dan Infrastruktur UEA, dikutip dari DW.

UEA juga menegaskan akan tetap berperan dalam menjaga stabilitas pasar global.

“UEA akan bertindak secara bertanggung jawab dengan membawa tambahan produksi ke pasar secara bertahap dan terukur, sejalan dengan permintaan dan kondisi pasar,” lanjut pernyataan tersebut.

Dampak besar bagi OPEC

Kepergian UEA dinilai menjadi pukulan bagi OPEC, mengingat negara tersebut merupakan salah satu produsen dengan kapasitas cadangan signifikan.

“Penarikan diri UEA menandai perubahan signifikan bagi OPEC,” kata Jorge Leon dari Rystad Energy.

Ia menambahkan bahwa bersama Arab Saudi, UEA termasuk sedikit negara yang memiliki kapasitas cadangan besar yang menjadi alat utama pengaruh OPEC di pasar.

Selain itu, keputusan ini juga mencerminkan pergeseran hubungan dalam aliansi energi.

“UEA telah lama tidak sejalan dengan kebijakan umum OPEC. Jadi ini bukan kejutan, tetapi pasti akan berdampak signifikan dalam jangka panjang,” ujar Ajay Parmar dari ICIS.

Baca juga: Asia Diuntungkan Usai UEA Keluar dari OPEC, Kok Bisa?

Tag:  #bukan #negara #akan #diuntungkan #saat #keluar #dari #opec

KOMENTAR