Perang Iran Bikin Taiwan Ragukan Senjata AS, Tak Yakin Bisa Lawan China
Keraguan publik Taiwan terhadap pemerintah dan militer Amerika Serikat kian menguat di tengah memanasnya perang di Iran.
Sebuah jajak pendapat terbaru yang dirilis Democracy Foundation di Taipei mengungkapkan bahwa 57 persen responden tidak percaya AS akan mengirim pasukan untuk membela Taiwan jika terjadi konflik dengan China. Bahkan, kurang dari seperempat responden yang yakin Washington akan memberikan bantuan militer secara langsung.
Selain itu, 55,6 persen responden meragukan kemampuan pasukan AS dalam memberikan bantuan militer yang cepat dan efektif saat krisis. Kepercayaan terhadap senjata buatan AS juga rendah, dengan 49 persen responden tidak yakin pada daya pertahanannya, sementara hanya sedikit di atas sepertiga yang menyatakan percaya.
Baca juga: Iran Bawa-bawa Selat Malaka dalam Konflik dengan AS, Ingatkan Trump soal Blokade Hormuz
Dalam survei yang sama juga terungkap bahwa 57,6 persen responden menilai Taiwan tidak bisa benar-benar melindungi diri hanya dengan mengandalkan pembelian senjata dari AS. Sebanyak 66 persen bahkan menganggap berbahaya jika Taiwan sepenuhnya bergantung pada perlindungan Washington.
Dampak konflik global terhadap persepsi Taiwan
Ilustrasi perang Iran.
Peneliti Democracy Foundation, Chang Chun-kai, mengatakan, persepsi publik Taiwan berubah setelah serangkaian konflik global, termasuk perang Ukraina, konflik India-Pakistan, serta operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.
“Peristiwa-peristiwa ini telah mengubah cara orang memandang kekuatan militer AS, kekuatan Tentara Pembebasan Rakyat China, dan risiko yang dihadapi Taiwan,” ujarnya, seperti dikutip South China Morning Post, Rabu (22/4/2026).
Ia menambahkan bahwa banyak warga Taiwan kini meragukan kemampuan AS dalam menjalankan operasi strategis di berbagai kawasan sekaligus.
“Ketika sebuah negara tidak dapat secara bersamaan menangani Timur Tengah dan Selat Taiwan, orang mulai mempertanyakan seberapa besar dukungan nyata yang bisa diberikan,” kata Chang.
Baca juga: Belum Sehari Gencatan Senjata Diperpanjang, Iran Tembaki Kapal di Dekat Selat Hormuz
Munculnya pendekatan lain
Survei tersebut juga menunjukkan perubahan sikap publik Taiwan yang lebih pragmatis dalam menghadapi hubungan lintas selat.
Ketika ditanya apakah upaya mencapai perdamaian melalui negosiasi politik sama dengan menyerah, hanya 17,6 persen yang setuju. Sebaliknya, 57,4 persen menyebut pendekatan itu sebagai “kebijaksanaan bertahan hidup” untuk melindungi jiwa dan harta benda.
Hampir setengah responden memilih negosiasi proaktif dengan China sebagai jalan terbaik untuk menghindari perang, dibanding sekitar 28 persen yang memilih tetap mempercayai AS dan membeli lebih banyak senjata.
Meski demikian, mayoritas responden tidak mendukung reunifikasi sebagai satu-satunya solusi. Sebanyak 57,4 persen menolak anggapan bahwa menerima prinsip “satu China” dan bernegosiasi untuk reunifikasi adalah satu-satunya cara menghindari perang.
Legislator oposisi dari Kuomintang, Weng Hsiao-ling, menyebut hasil survei tersebut menunjukkan perubahan pola pikir masyarakat.
“Publik memahami bahwa Amerika Serikat akan bertindak sesuai kepentingannya sendiri dan belum tentu melindungi Taiwan,” ujarnya.
Pengamat lain, Chou Yang-shan, mengatakan, hasil survei mencerminkan keinginan Taiwan untuk lebih menentukan nasibnya sendiri. Ia menilai konflik di Ukraina, Iran, dan Gaza turut memengaruhi perubahan pendekatan tersebut.
Baca juga: Trump Sikat 14 Pemasok Senjata ke Iran, Ada dari Negara Sekutu AS
Tag: #perang #iran #bikin #taiwan #ragukan #senjata #yakin #bisa #lawan #china