Wall Street Anjlok Terseret Imbal Hasil Obligasi AS yang Melonjak
Ilustrasi Wall Street.()
07:44
20 Mei 2026

Wall Street Anjlok Terseret Imbal Hasil Obligasi AS yang Melonjak

- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026), terseret lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Tekanan terbesar kembali menghantam saham teknologi sehingga membuat indeks Nasdaq memimpin pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut.

Mengutip Reuters pada Rabu (20/5/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average turun 322,24 poin atau 0,65 persen ke level 49.363,88.

Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,67 persen ke 7.353,61 dan Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam sebesar 0,84 persen ke level 25.870,71.

Baca juga: Hari Ini Prabowo Pidato KEM-PPKF di DPR, Pasar Tunggu Sinyal Penyelamatan

Sentimen pasar dibebani kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 4,687 persen atau menjadi level tertinggi sejak Januari 2025.

Meski kemudian sedikit melandai ke kisaran 4,66 persen, kenaikan yield selama tiga hari beruntun memicu kekhawatiran investor bahwa tekanan inflasi masih sulit mereda.

Kondisi tersebut diperparah harga minyak dunia yang tetap tinggi di atas 110 dollar AS per barrel di tengah ketegangan konflik Iran dan Amerika Serikat.

Pasar masih mencermati perkembangan diplomasi kedua negara setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sempat menunda serangan militer terhadap Iran menyusul proposal perdamaian dari Teheran.

Namun, Trump juga menegaskan AS masih mungkin kembali menyerang Iran jika diperlukan.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan dan kedua pihak tidak menginginkan eskalasi perang kembali terjadi.

Meski demikian, pelaku pasar menilai belum ada kepastian yang cukup kuat untuk meredakan ketegangan geopolitik.

Managing Director Rosenblatt Securities Michael James mengatakan pasar mulai gelisah karena belum ada tanda-tanda gencatan senjata yang benar-benar solid.

Menurut dia, selama konflik belum mereda, harga minyak dan yield obligasi akan tetap tinggi sehingga menambah tekanan terhadap pasar saham.

Kenaikan yield juga memicu perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve.

Pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga kembali jika inflasi bertahan tinggi.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai 41,7 persen.

Bahkan peluang kenaikan 50 basis poin naik menjadi 15,7 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 4,7 persen sepekan sebelumnya.

Investor kini menanti risalah rapat terbaru Federal Reserve yang akan dirilis Rabu waktu setempat untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Tekanan terbesar di pasar datang dari sektor teknologi dan layanan komunikasi yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga.

Yield yang lebih tinggi biasanya menekan valuasi saham pertumbuhan karena prospek keuntungan masa depan menjadi kurang menarik.

Indeks sektor material menjadi yang paling tertekan dengan penurunan hampir 2,3 persen.

Sebaliknya, sektor kesehatan yang bersifat defensif justru menguat 1,1 persen.

Saham-saham perangkat lunak sempat menguat pada awal perdagangan, namun berbalik melemah dan menutup hari dengan penurunan 1,2 persen.

Di sisi lain, indeks semikonduktor Philadelphia bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup nyaris stagnan dengan kenaikan tipis 0,03 persen.

Pelaku pasar juga mulai bersikap hati-hati menjelang laporan keuangan raksasa chip kecerdasan buatan Nvidia yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu.

Kinerja Nvidia dinilai akan menjadi indikator penting untuk mengukur seberapa kuat permintaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sekaligus menentukan apakah valuasi tinggi sektor semikonduktor masih layak dipertahankan.

Di level saham individual, saham perusahaan layanan cloud Akamai Technologies anjlok 6,3 persen setelah mengumumkan penawaran obligasi konversi senilai 2,6 miliar dollar AS.

Secara keseluruhan, tekanan jual mendominasi perdagangan Wall Street. Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang turun melampaui saham naik dengan rasio 2,66 banding 1.

Sementara di Nasdaq, saham yang melemah juga jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 19,45 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 18,38 miliar saham.

Baca juga: Wall Street Ditutup Bervariasi, Nasdaq dan S&P 500 Melemah Imbas Lonjakan Harga Minyak dan Yield Obligasi AS

Tag:  #wall #street #anjlok #terseret #imbal #hasil #obligasi #yang #melonjak

KOMENTAR