Rupiah Sentuh Level Terendah, Pemerintah Jelaskan Beda Kekuatan Ekonomi 2026 dan 1998
- Nilai tukar rupiah menembus level Rp 17.706 per dollar Amerika Serikat (AS), sekaligus mencetak level terendah sepanjang masa.
Angka ini memunculkan kekhawatiran sebagian masyarakat yang teringat pada krisis moneter 1998, saat rupiah anjlok dan ekonomi Indonesia runtuh.
Namun, pemerintah menegaskan situasi saat ini sangat berbeda.
Pada 1998, rupiah terpuruk hingga memicu badai ekonomi besar yaitu inflasi melonjak, bank-bank kolaps, hingga pertumbuhan ekonomi jatuh dalam jurang resesi.
Namun pada 2026, pelemahan rupiah justru terjadi di tengah fondasi ekonomi yang masih kuat.
Baca juga: Rupiah Tembus 17.700 per Dollar AS, Ibu-ibu Mulai Pangkas Hiburan hingga Makan Tabungan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai menyamakan kondisi saat ini dengan 1998 merupakan kekeliruan.
Menurut dia, konteks ekonomi dan stabilitas nasional sekarang jauh berbeda dibandingkan masa krisis dua dekade lalu.
“Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan instability social-politic terjadi setelah setahun kita resesi,” kata Purbaya, Selasa (19/5/2026).
Ia menambahkan, perbedaan paling mencolok terlihat dari kondisi inflasi.
Kondisi inflasi jadi pembeda periode pelemahan rupiah
Purbaya mengungkapkan, pada puncak krisis 1998, Indonesia mengalami lonjakan harga yang sangat tinggi atau hiperinflasi, mencapai lebih dari 77 persen.
Harga kebutuhan pokok melambung dan daya beli masyarakat anjlok.
Kini, meskipun rupiah melemah, inflasi Indonesia pada April 2026 tercatat hanya 2,41 persen, atau masih berada dalam rentang target pemerintah di kisaran plus minus 3 persen.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, jaraknya bahkan lebih kontras.
Pada 1998, ekonomi Indonesia negatif 13 persen.
Aktivitas usaha lumpuh dan pengangguran melonjak tajam.
Sementara pada kuartal I-2026, ekonomi Indonesia justru tumbuh 5,61 persen, menunjukkan konsumsi dan investasi masih bergerak positif.
Kesehatan sektor perbankan juga menjadi pembeda utama.
Saat krisis 1998, banyak bank kehilangan modal sehingga rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di zona negatif.
Kredit macet atau non-performing loan (NPL) bahkan menembus sekitar 30 persen.
Sementara itu, per Februari 2026 CAR perbankan tercatat sebesar 25,83 persen, level yang tergolong kuat.
Di saat yang sama, rasio kredit bermasalah masih terjaga di level 2,17 persen secara bruto.
Dengan demikian, sistem perbankan masih memiliki bantalan modal yang cukup tebal untuk menghadapi tekanan eksternal.
Cadangan devisa beri ruang jaga stabilitas rupiah
Purbaya menuturkan, cadangan devisa juga menunjukkan perbedaan besar.
Pada 1998, Indonesia hanya memiliki sekitar 17,4 miliar dollar AS sebagai penyangga stabilitas nilai tukar dan pembayaran luar negeri.
Kini, posisi cadangan devisa per April 2026 mencapai 146 miliar dollar AS.
Kondisi ini memberi ruang lebih luas bagi otoritas untuk menjaga kestabilan pasar keuangan.
"Jadi fondasi kita memang betul-betul bagus, tidak usah khawatir,” jelas dia.
Dengan kata lain, meski rupiah pada 2026 sama-sama menghadapi tekanan seperti 1998 secara nominal, kondisi ekonomi Indonesia berada di titik yang jauh berbeda.
Kondisi ekonomi krisis 1998
Berdasarkan arsip Kompas, pada Januari 1998 rupiah sempat anjlok hingga sekitar Rp 17.000 per dollar AS.
Pada krisis 1998, nilai tukar rupiah anjlok sekitar 690 persen atau hampir mencapai tujuh kali lipat.
Sebagai gambaran, pada Juni 1997 kurs rupiah masih berada di kisaran Rp 2.442 per dollar AS.
Namun dalam masa kepemimpinan Presiden ke-3 RI BJ Habibie, nilai rupiah kemudian perlahan menguat hingga kembali ke kisaran Rp 6.500 per dollar AS dalam periode sekitar 17 bulan.
Sebelum krisis moneter 1998, sejumlah indikator ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi 1997 tercatat sebesar 4,7 persen, atau berada di bawah target senilai 7,1 persen.
Hal tersebut masih ditambah dengan tingkat inflasi yang mencapai 11,05 persen.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata tingkat inflasi sebelumnya yang terjaga di bawah 10 persen.
Sementara pada 1998, pertumbuhan ekonomi malah tercatat minus 13,1 persen.
Baca juga: Demi Jaga Rupiah, BI Sudah Pakai Cadangan Devisa Sebesar 10 Miliar Dollar AS
Ilustrasi: pertumbuhan ekonomi Indonesia
Nilai tukar rupiah catat nilai terlemah
Sejak awal pekan lalu, rupiah masih tertekan dan belum bisa menguat dari level psikologis 17.700 per dollar AS.
Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026).
Rupiah terdepresiasi 38 poin atau 0,22 persen ke level Rp 17.706 per dollar Amerika Serikat (AS).
Ini merupakan nilai terlemah yang baru setelah kemarin rupiah berada di level Rp 17.668 per dollar AS.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah terhadap dollar AS mulai menguji ketahanan harga pangan nasional.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan membuat tekanan kurs berisiko cepat merambat ke harga makanan pada semester II-2026.
Ibrahim menjelaskan, sejumlah komoditas pangan utama Indonesia masih sangat bergantung pada impor.
Saat ini, kebutuhan gandum di Indonesia masih sepenuhnya dipenuhi melalui impor.
Sedangkan, sekitar 90 persen kebutuhan kedelai juga dipenuhi dari luar negeri.
Selain itu, sekitar 95 persen kebutuhan bawang putih masih impor.
Kebutuhan impor gula masih ada sekitar 60 persen, sedangkan daging sapi dan kerbau sekitar 54 persen.
"Pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi perdagangan internasional memakai dollar AS," ungkap Ibrahim.
Kondisi tersebut berisiko mendorong kenaikan harga pangan di pasar domestik.
Sedikit catatan, fenomena ini dikenal sebagai imported inflation atau inflasi impor.
Tekanan inflasi ini berasal dari pelemahan nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor.
Dampak pelemahan rupiah terhadap harga pangan berbeda pada setiap komoditas.
Menurut Ibrahim, gandum dan kedelai termasuk komoditas yang dampaknya dapat terasa hanya dalam hitungan minggu.
Industri pengolahan langsung menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
“Kenaikan harga bahan baku langsung ditransmisikan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga produk di tingkat konsumen,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, tekanan harga lebih cepat terasa pada produk olahan dibandingkan bahan baku mentah.
Kenaikan harga produk olahan terjadi karena efek berantai dari kenaikan biaya produksi, energi, distribusi, kemasan, hingga logistik.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 vs 2025, Apa Bedanya?
Tag: #rupiah #sentuh #level #terendah #pemerintah #jelaskan #beda #kekuatan #ekonomi #2026 #1998