Prabowo ke Rusia, Menhan Sjafrie ke AS, Apa Taktik Indonesia?
Presiden RI Prabowo Subianto saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow, Senin (13/4/2026). (Dok. Setpres)
16:54
14 April 2026

Prabowo ke Rusia, Menhan Sjafrie ke AS, Apa Taktik Indonesia?

- Pemerintah Indonesia melakukan manuver diplomasi bebas aktifnya pekan ini.

Saat Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Moskwa untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pertemuan tingkat tinggi di Markas Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) alias Pentagon.

Langkah ini dinilai sebagai upaya Indonesia menyeimbangkan kepentingan nasional di tengah krisis energi global dan ketegangan geopolitik yang meningkat.

Baca juga: Indonesia Sepakati Kerja Sama Pertahanan dengan AS di Tengah Kunjungan Prabowo ke Rusia

Prabowo di Rusia

Saat di Rusia pada Senin (13/4/2026), Prabowo menyampaikan, sejumlah kerja sama strategis antara Indonesia dengan Rusia telah mengalami kemajuan pesat.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, kedua negara menyepakati sejumlah poin penting kerja sama strategis, khususnya di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM).

Selain sektor energi, kedua negara juga menegaskan komitmen untuk melanjutkan dan memperluas kerja sama di berbagai bidang lainnya, sebagaimana dilansir dari Kompas.com.

Ian Storey, peneliti senior di ISEAS–Yusof Ishak Institute mengatakan kepada SCMP, kunjungan Prabowo ke Rusia tersebut juga didorong oleh kebutuhan mendesak akan pasokan minyak murah. 

Harga minyak dunia melonjak tajam setelah pecahnya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz.

Baca juga: 5 Jam Pertemuan Prabowo-Putin: Sepakat Kerja Sama Minyak, Akui Rusia Kekuatan Besar Dunia

"Dengan sumber daya energi Timur Tengah yang tersumbat akibat penutupan Selat Hormuz, Indonesia berupaya mendapatkan pasokan alternatif minyak mentah, dan Rusia memiliki banyak stok untuk dijual," kata Storey, sebagaimana dilansir SCMP.

Selain minyak, Prabowo juga menjajaki kerja sama teknologi nuklir sipil dan pasokan pupuk untuk menjaga stabilitas harga listrik dan pangan di dalam negeri. 

Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Ristian Atriandi Supriyanto, menekankan pentingnya langkah tersebut.

Pasalnya, kenaikan harga bahan bakar dapat mendorong jutaan orang kembali ke jurang kemiskinan.

Baca juga: Prabowo Sebut Kerja Sama Indonesia-Rusia Mengalami Kemajuan Pesat

Menhan Sjafrie di AS

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menerima kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin pada Senin (13/4/2026). Indonesia Sepakati Kerja Sama Pertahanan dengan AS di Tengah Kunjungan Prabowo ke RusiaUS Department of War Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menerima kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin pada Senin (13/4/2026). Indonesia Sepakati Kerja Sama Pertahanan dengan AS di Tengah Kunjungan Prabowo ke Rusia

Hampir bersamaan dengan agenda Prabowo di Moskwa, Sjafrie bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon. 

Keduanya menandatangani kesepakatan kemitraan pertahanan dengan nama Major Defence Cooperation Partnership.

Kemitraan ini bertujuan untuk mempercepat modernisasi militer Indonesia, meningkatkan interoperabilitas, serta memperluas latihan gabungan kedua negara guna memperkuat keamanan regional.

James Guild, asisten profesor dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), menyebut dinamika ini sebagai wujud nyata kebijakan non-blok.

"Jika AS ingin menawarkan kerja sama pertahanan yang lebih baik, Indonesia akan menerimanya, sembari secara bersamaan berbicara dengan Rusia mengenai keamanan energi," ujar Guild.

Baca juga: Mengenal MDCP, Kesepakatan Baru Menhan RI dan AS di Bidang Pertahanan

Tantangan diplomasi

Meski strategis, langkah Indonesia ini bukannya tanpa hambatan. 

Di Rusia, kemampuan Moskwa untuk memenuhi permintaan minyak Indonesia diragukan akibat serangan drone Ukraina ke infrastruktur energi mereka dan masalah sanksi Barat.

"Jadi yang terpenting di sini bukanlah seleranya: memang ada selera yang besar terhadap minyak Rusia. Masalahnya adalah apakah Rusia dapat memenuhi permintaan tambahan tersebut dengan keterbatasan yang mereka hadapi saat ini," tutur Yohanes Sulaiman, profesor hubungan internasional dari Universitas Jenderal Achmad Yani.

Di sisi lain, Indonesia juga harus menavigasi kebijakan sanksi AS di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang makin ketat.

Diplomasi dua arah ini dipandang sebagai upaya Indonesia untuk tetap berdaulat. 

Menurut Guild, konsep non-blok sangat berguna, namun tetap memerlukan tujuan strategis dan visi yang jelas agar memberikan hasil yang maksimal bagi kepentingan nasional.

Baca juga: Isi Pertemuan Menhan Sjafrie dan AS: Dari Kerja Sama Militer hingga Isu Overflight

Tag:  #prabowo #rusia #menhan #sjafrie #taktik #indonesia

KOMENTAR