Bermusuhan Puluhan Tahun, Kim Jong Un Mendadak Puji Korsel Imbas Aksi Presiden
Hubungan Korea Utara dan Korea Selatan yang telah bermusuhan selama puluhan tahun tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda “pelonggaran”.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, secara tak terduga melontarkan pujian kepada Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menurut laporan The Wall Street Journal, Rabu (8/4/2026).
Pujian itu muncul di tengah retorika keras Pyongyang yang sebelumnya menyebut Seoul sebagai “musuh utama yang tak berubah”.
Baca juga: Presiden Korsel Ungkap Penyesalan ke Korut, Tuai Respons Adik Kim Jong Un
Diketahui, Korea Utara dan Korea Selatan yang dulunya merupakan satu negara terpecah setelah konflik Perang Korea pada 1950–1953 dan hingga kini belum pernah menandatangani perjanjian damai.
Akibatnya, kedua negara secara teknis masih berada dalam kondisi perang meski pertempuran telah berhenti sejak gencatan senjata 1953
Pujian langka dari Pyongyang
Adik Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menyampaikan pujian terhadap sikap "hormat" Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung atas insiden drone.
Dalam sebuah kongres Partai Buruh yang jarang digelar, Kim Jong Un sebelumnya menegaskan bahwa Korea Selatan adalah “musuh utama yang tidak berubah” dan memperingatkan bahwa Seoul bisa mengalami “kehancuran total” jika Pyongyang diprovokasi.
Namun, penilaian terbaru Kim terhadap Lee justru berbeda. Melalui pernyataan sang adik, Kim Yo Jong, pemimpin Korea Utara itu menilai Lee sebagai sosok yang “terus terang dan berpikiran luas”.
Pujian tersebut muncul setelah Lee menyampaikan permintaan maaf atas insiden warga Korea Selatan yang menerbangkan drone ke wilayah udara Korea Utara.
Tak lama setelah itu, Kim Yo Jong menyampaikan apresiasi dan memuji sikap Lee sebagai “perilaku yang sangat beruntung dan bijaksana”.
Menanggapi hal itu, kantor Lee menyatakan harapan bahwa “penyampaian niat yang cepat” tersebut dapat mengarah pada “koeksistensi damai di Semenanjung Korea”.
Isyarat redanya ketegangan
Di tengah situasi global ketika sejumlah negara terlibat konflik terbuka, sikap mendadak Korea Utara yang lebih ramah sempat menurunkan tensi di Semenanjung Korea, yang secara teknis masih dalam kondisi perang sejak Perang Korea.
Pyongyang juga dinilai tidak memiliki alasan kuat untuk memulai konflik saat ini, meskipun Amerika Serikat tengah mengalihkan sebagian kemampuan pertahanan udara dan pasukan Marinirnya ke Timur Tengah.
Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump sempat menyinggung hubungannya yang hangat dengan Kim, bahkan ketika ia melontarkan ancaman keras terhadap Iran dalam konferensi pers.
Baca juga: Lawan Dominasi Barat, Kim Jong Un dan Lukashenko Teken Perjanjian Persahabatan
Strategi Pyongyang
Sejumlah analis menilai sikap lebih lunak Korea Utara tidak lepas dari dinamika politik global. Korea Utara disebut berupaya mengelola risiko eskalasi menjelang agenda besar antara kekuatan dunia, termasuk rencana kunjungan Trump ke China.
Profesor hubungan internasional Universitas Seoul, Hwang Jihwan, mengatakan langkah tersebut lebih bersifat taktis.
“Namun, retorika de-eskalasi ini kecil kemungkinan akan mengubah hubungan antar-Korea,” ujarnya, dikutip dari The Wall Street Journal.
Di sisi lain, pemerintahan Lee berupaya meredakan ketegangan dengan menawarkan kerja sama sektor swasta dan mengurangi beberapa latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat. Meski demikian, Korea Utara belum memberikan respons atas berbagai tawaran tersebut.
Ketegangan kembali memanas
Namun, sinyal positif itu ternyata tidak bertahan lama. Seorang pejabat senior Korea Utara kemudian menyebut interpretasi Korea Selatan terhadap pernyataan Kim Yo Jong sebagai respons bersahabat sebagai “omong kosong” dan “pembacaan penuh harapan” atas peringatan Pyongyang agar tidak terjadi lagi pelanggaran drone.
Sebagai penegasan sikap, Korea Utara pada Rabu pagi bahkan meluncurkan beberapa rudal balistik jarak pendek ke perairan di antara Semenanjung Korea dan Jepang.
Baca juga: Iran Diserang, Kim Jong Un Ambil Pelajaran soal Nuklir
Tag: #bermusuhan #puluhan #tahun #jong #mendadak #puji #korsel #imbas #aksi #presiden