Ekonomi Iran Jadi Target Baru AS-Israel, Cara Trump Buka Paksa Selat Hormuz
Ilustrasi Iran.(SHUTTERSTOCK)
19:54
6 April 2026

Ekonomi Iran Jadi Target Baru AS-Israel, Cara Trump Buka Paksa Selat Hormuz

Amerika Serikat dan Israel dilaporkan tengah menyiapkan serangkaian target baru di Iran dengan fokus utama melumpuhkan ekonomi negara tersebut. 

Serangan yang menyasar fasilitas energi dan infrastruktur vital dinilai dapat memperpanjang dampak perang secara signifikan. 

Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam kerusakan besar yang butuh puluhan tahun untuk pulih. Di sisi lain, Iran bersiap membalas dengan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur sipil di kawasan.

Baca juga: Dalih Selamatkan Pilot F-15E, AS Dituding Coba Curi Uranium Iran

Infrastruktur ekonomi jadi target

Jembatan yang menghubungkan Karaj dan ibu kota Iran, Teheran, runtuh dibombardir serangan AS.Tangkapan layar X @OSINTdefender Jembatan yang menghubungkan Karaj dan ibu kota Iran, Teheran, runtuh dibombardir serangan AS.

Seorang pejabat Israel menyebut negaranya tengah menunggu persetujuan Washington untuk mulai menyerang fasilitas energi Iran, langkah yang berpotensi melemahkan produksi salah satu minyak dan gas terbesar dunia.

Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Trump mengatakan bahwa AS siap menghantam infrastruktur vital Iran.

Ia menyatakan, kerusakan yang ditimbulkan bisa begitu parah hingga “akan memakan waktu 20 tahun untuk membangun kembali, jika mereka beruntung, jika mereka masih punya negara.”

Langkah ini menandai eskalasi dalam perang lima pekan terakhir, yang juga bertujuan menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

AS terus tekan Iran

Serangan terhadap target non-energi sudah meningkat dalam beberapa hari terakhir, termasuk pabrik baja, petrokimia, dan jembatan penting.

Avner Golov mengatakan, tekanan ini adalah pesan tegas kepada Teheran.

Ia menyebut, “Mereka memberi sinyal, kami serius, dan jika Anda terus tidak setuju mengakhiri perang, harga yang harus dibayar ekonomi Anda akan semakin tinggi.”

Namun, serangan terhadap infrastruktur sipil juga berisiko melanggar hukum internasional. 

AS dan Israel berdalih fasilitas tersebut sah menjadi target karena mendukung kebutuhan militer Iran.

Iran ancam balas AS-Israel

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, akan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur sipil di Israel dan negara-negara Teluk jika ancaman Trump direalisasikan.

Iran telah lebih dulu menyerang fasilitas petrokimia di Bahrain dan Abu Dhabi, serta infrastruktur minyak dan listrik di Kuwait. Pada Minggu (5/4/2026), Iran juga menghantam kawasan industri Neot Hovav di Israel selatan.

Baca juga: AS Dicap Arogan dan Melemah, Begini Cara China Membingkai Perang Iran

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengecam keras langkah AS.

Ia menulis, “Langkah sembrono Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam neraka hidup bagi setiap keluarga, dan seluruh kawasan akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu.”

Harga minyak melonjak

Serangan terhadap sektor energi Teluk berpotensi memicu dampak global jangka panjang. 

Harga minyak telah mencapai level tertinggi sejak 2022 dan berisiko terus naik karena kapal tanker terjebak di Teluk Persia.

Upaya diplomasi untuk membawa Iran ke meja perundingan sejauh ini gagal. 

Iran bahkan menolak membuka Selat Hormuz meski ditawari gencatan senjata sementara.

Ekonomi Iran tertekan

Ekonomi Iran sebenarnya sudah melemah akibat sanksi Barat terkait program nuklir dan misil balistiknya. Perang memperburuk kondisi tersebut.

Warga Iran melaporkan harga pangan melonjak dan pengangguran meningkat karena banyak pabrik tutup akibat serangan. 

Mereka juga khawatir konflik ini tidak akan menjatuhkan rezim, melainkan justru memperparah penderitaan rakyat.

Industri kunci jadi sasaran

Serangan Israel kini fokus pada sektor strategis seperti baja, petrokimia, dan farmasi—yang menyumbang miliaran dolar bagi Iran.

Kompleks petrokimia Mahshahr diserang karena dianggap memasok bahan untuk militer.

Pabrik baja Khuzestan dan Mobarakeh—dua fasilitas terbesar—juga menjadi target.

Pabrik farmasi di Teheran ikut dihantam.

Pakar energi dari Chatham House, Neil Quilliam, menjelaskan pentingnya sektor ini.

Ia mengatakan, “Fasilitas ini memasok bahan baku penting untuk sektor tekstil, otomotif, dan kemasan, yang dapat menyebabkan hambatan produksi, kenaikan biaya, dan hilangnya lapangan kerja.”

Iran siap ambil risiko

Meski mengalami tekanan ekonomi besar, Iran dinilai tetap siap melanjutkan konflik.

Raz Zimmt menyebut Teheran bersedia mengambil risiko.

Sementara itu, Robin Mills memperingatkan dampak jangka panjang pada pasokan energi global.

Ia menjelaskan, “Bahkan jika lalu lintas kembali normal, sebagian dari lima juta barel per hari produk olahan dari Teluk akan hilang selama berbulan-bulan, bahkan mungkin lebih lama.”

Baca juga: Iran Siapkan Aturan Baru di Selat Hormuz, Tak Gubris Ancaman Trump

Tag:  #ekonomi #iran #jadi #target #baru #israel #cara #trump #buka #paksa #selat #hormuz

KOMENTAR