Pertama Dalam Sejarah Zionis Larang Pemimpin Gereja Ibadah di Makam Kudus
Polisi Israel [shutterstock]
09:56
30 Maret 2026

Pertama Dalam Sejarah Zionis Larang Pemimpin Gereja Ibadah di Makam Kudus

Peristiwa mengejutkan mewarnai prosesi ibadah umat Kristiani di wilayah Yerusalem saat peringatan Minggu Palma berlangsung.

Aparat kepolisian Zionis Israel melakukan tindakan penghadangan terhadap pemimpin tertinggi Gereja Katolik di wilayah tersebut.

Kardinal Pierbattista Pizzaballa yang menjabat sebagai Patriark Latin Yerusalem dilarang memasuki area suci untuk beribadah.

Pihak keamanan mencegah sang Kardinal saat beliau hendak memimpin rangkaian Misa di Gereja Makam Kudus.

Kejadian ini menjadi sorotan dunia internasional karena melibatkan tokoh agama yang sangat dihormati di tanah suci.

Dalam keterangan resminya, pihak Patriark Latin Yerusalem memberikan penjelasan kronologi mengenai insiden tidak menyenangkan tersebut.

Kardinal Pizzaballa saat itu sedang berjalan bersama Kustos Tanah Suci, Romo Francesco Ielpo, menuju lokasi gereja.

Namun langkah kaki kedua tokoh agama tersebut terhenti secara tiba-tiba karena blokade ketat dari kepolisian.

Petugas di lapangan memberikan instruksi keras sehingga rombongan pemimpin gereja tersebut "dipaksa berputar balik" dari jalur.

Upaya paksa ini membuat Kardinal tidak dapat menjalankan tugas spiritualnya pada hari yang sangat penting bagi umat.

Tindakan otoritas keamanan ini tercatat sebagai peristiwa pertama dalam sejarah modern di situs paling suci umat Katolik.

Belum pernah terjadi sebelumnya seorang pemimpin gereja dilarang berpartisipasi dalam perayaan Minggu Palma di lokasi tersebut.

Dampak dari kebijakan represif ini dinilai sangat luas karena menyangkut martabat institusi keagamaan global.

Pihak gereja menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan "preseden buruk" bagi kerukunan antarumat beragama di Yerusalem.

Langkah kepolisian tersebut dianggap telah "mengabaikan kepekaan hati miliaran" umat Katolik yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Padahal selama ini para pemimpin gereja telah berupaya kooperatif terhadap segala aturan keamanan yang ada.

Sejak konflik dengan Iran memanas pada Februari lalu, pihak gereja sudah mengikuti protokol ketat dari otoritas setempat.

Berbagai kegiatan publik yang mengundang massa dalam jumlah besar telah dibatalkan secara mandiri oleh pihak otoritas gereja.

Bahkan pengaturan jadwal ibadah pun telah disesuaikan sedemikian rupa agar hanya disiarkan secara daring ke seluruh dunia.

Semua pengorbanan dan penyesuaian tersebut dilakukan demi menjaga stabilitas keamanan di tengah situasi perang yang berkecamuk.

Namun respon yang diterima dari pihak kepolisian Zionis Israel justru sangat kontradiktif dengan semangat kerja sama tersebut.

Pembatasan terhadap tokoh senior gereja merupakan "langkah yang benar-benar tak masuk akal dan sangat tidak proporsional," kata Patriark Latin Yerusalem.

Kritik tajam tersebut dilontarkan karena tindakan aparat dianggap telah melenceng jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dasar.

Kebijakan tersebut secara langsung telah mencederai prinsip kebebasan beribadah yang seharusnya dijamin bagi setiap individu.

Selain itu penghadangan ini merusak status quo yang telah dijaga selama berabad-abad di tanah suci Yerusalem.

Kini kegelisahan menyelimuti batin umat Katolik, baik yang berada di Yerusalem maupun di negara-negara lainnya.

Patriark Latin Yerusalem mengungkapkan "keprihatinan mendalam" terhadap umat Katolik di Yerusalem dan di penjuru dunia.

Kegiatan rohani yang seharusnya berlangsung khidmat justru terganggu oleh intervensi fisik dari aparat keamanan bersenjata.

Minggu Palma merupakan salah satu hari paling suci dalam kalender liturgi yang sangat dinantikan oleh jutaan jemaat.

Dunia kini menanti pertanggungjawaban atas terganggunya prosesi sakral di salah satu titik paling bersejarah bagi peradaban manusia.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Tag:  #pertama #dalam #sejarah #zionis #larang #pemimpin #gereja #ibadah #makam #kudus

KOMENTAR