Trump Tiba-tiba Mengeklaim Bisa Berbagi Kendali Selat Hormuz Bersama ''Ayatollah''
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara di Verst Logistics di Kota Hebron, Negara Bagian Ketucky, 11 Maret 2026.(AFP/JIM WATSON)
18:06
24 Maret 2026

Trump Tiba-tiba Mengeklaim Bisa Berbagi Kendali Selat Hormuz Bersama ''Ayatollah''

- Presiden Amerika Serikat,  Donald Trump melontarkan pernyataan mengejutkan terkait konflik di Timur Tengah. 

Trump mengeklaim bahwa dirinya dan pemimpin Iran dapat berbagi kendali atas Selat Hormuz, jalur air paling strategis yang menampung 20 persen pasokan energi global.

Pernyataan ini muncul pada Senin (23/3/2026) sebagai upaya terbaru Trump untuk meredakan tensi peperangan.

"Mungkin (oleh) saya. Mungkin saya. Saya dan Ayatollah, siapa pun Ayatollah itu," kata Trump kepada wartawan pada ketika ditanya tentang klaimnya bahwa pembicaraan sedang berlangsung untuk mengakhiri  perang AS-Israel di Iran, dikutip dari Middle East Eye.

Baca juga: Negara Teluk Disebut Semakin Dekat Bergabung dalam Perang Lawan Iran

Klaim dialog yang dibantah Iran

Setelah mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran jika Iran tidak membuka Selat Hormuz, Trump tiba-tiba mengeklaim bahwa kedua negara sedang terlibat dalam percakapan yang sangat baik dan produktif tentang mengakhiri perang.

Meski mengakui adanya upaya dari negara-negara kawasan untuk menurunkan ketegangan, Teheran menegaskan bahwa saat ini tidak ada dialog resmi yang sedang berlangsung dengan pemerintahan Trump.

Namun, beberapa bentuk pengakuan AS atas pengaruh Iran di Selat Hormuz akan menjadi tindakan yang disambut baik oleh Teheran.

Pemerintahan Trump baru-baru ini juga telah mencabut sanksi terhadap minyak Iran di laut. 

AS mengatakan, langkah itu dilakukan untuk mengurangi tekanan harga energi, tetapi secara efektif justru menciptakan keuntungan besar bagi Teheran.

Baca juga: Ketika Negara Asia Kembali ke Batu Bara di Tengah Krisis Energi...

Iran kontrol Selat Hormuz, AS terdesak

Ilustrasi Selat Hormuz.Google Maps Ilustrasi Selat Hormuz.

Iran merebut kendali atas Selat Hormuz setelah diserang oleh Israel dan AS.

Ketidakmampuan pemerintahan Trump untuk menjamin keamanan di jalur perairan tersebut telah menjadi aib besar dan memicu laporan tentang potensi invasi darat ke Iran. 

Setelah satu dekade menanggung sanksi yang melumpuhkan, Iran membalikkan keadaan dan memberlakukan aturannya sendiri di Selat Hormuz dengan menggunakan kekuatan militer.

Setidaknya, 17 kapal  telah diserang oleh Iran di Teluk sejak perang dimulai pada 28 Februari. 

Perusahaan asuransi Barat bersikeras bahwa pertanggungan tersedia untuk kapal yang melintasi jalur air tersebut, tetapi hanya sedikit pemilik dan operator kapal di Barat yang bersedia membayar premi yang sangat tinggi atau mempertaruhkan awak kapal mereka. 

Mitra-mitra AS di Teluk Arab sebagian besar terhalang untuk mengirimkan minyak dan gas mereka melalui jalur air tersebut. 

Baca juga: Kekurangan Bahan Bakar, Vietnam Akan Kurangi Penerbangan Domestik

Namun, Iran terus mengekspor antara satu juta dan 1,5 juta barrel minyak per hari (bpd) melalui jalur tersebut.

Iran telah menikmati kekuasaan yang didapat dari kendali atas Selat Hormuz. 

Negara-negara termasuk India, Pakistan, Irak, Malaysia, dan China telah terlibat dalam pembicaraan dengan Teheran mengenai akses ke jalur laut penting tersebut, demikian dilaporkan Lloyd's List, sebuah layanan berita dan analisis maritim, pekan lalu. 

Data pelacakan kapal menunjukkan, Iran memandu kapal-kapal melalui selat di dekat garis pantainya, sebuah langkah yang menurut para ahli keamanan maritim tampaknya merupakan bentuk pengawasan jalur air tersebut.

Lloyd's List menyatakan, Iran secara efektif telah membangun "koridor pelayaran aman de facto" melalui perairan teritorialnya.

Dalam satu kasus, mereka berhasil mendapatkan pembayaran sebesar 2 juta dollar AS untuk mengizinkan sebuah kapal melintasi jalur air tersebut. 

Tag:  #trump #tiba #tiba #mengeklaim #bisa #berbagi #kendali #selat #hormuz #bersama #ayatollah

KOMENTAR