Demo Iran: 2.571 Orang Disebut Tewas, Memori Revolusi 1979 Terulang
Warga Iran menghadiri pemakaman aparat keamanan yang meninggal dalam demo Iran, terkait anjloknya nilai mata uang, di Teheran pada Rabu (14/1/2026).(WANA/MAJID ASGARIPOUR via REUTERS)
20:18
14 Januari 2026

Demo Iran: 2.571 Orang Disebut Tewas, Memori Revolusi 1979 Terulang

- Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS) melaporkan, sedikitnya 2.571 orang tewas sejak demo Iran pecah pada 28 Desember 2025 hingga Rabu (14/1/2026).

Jumlah tersebut naik signifikan dari laporan sebelumnya, mengulang memori kelam tentang Revolusi 1979 yang juga merenggut banyak nyawa.

Juru bicara HRANA kepada CNN mengonfirmasi, dari total korban tewas terdapat 12 orang berusia di bawah 18 tahun.

Selain itu, sedikitnya 18.137 orang dilaporkan telah ditangkap selama rangkaian aksi protes berlangsung di seluruh Iran.

HRANA menyatakan, data tersebut didasarkan pada kasus-kasus yang dapat mereka identifikasi secara langsung, meski belum dapat diverifikasi secara independen.

Organisasi ini juga memperingatkan bahwa pemadaman internet di Iran menyulitkan akses informasi, sehingga kemungkinan angka korban sebenarnya jauh lebih tinggi.

CBS News telah memverifikasi video yang menunjukkan tumpukan jenazah di salah satu kamar jenazah di pinggiran Teheran.

Dalam video tersebut tanpak sedikitnya 366 jenazah, bahkan kemungkinan lebih dari 400, dengan berbagai luka seperti tembakan, peluru senapan angin, hingga luka berat lainnya.

Video itu diunggah oleh aktivis Iran yang dikenal sebagai Vahid Online. Ia mengatakan, rekaman dikirim oleh seseorang yang menempuh perjalanan sekitar 965 kilometer demi mengunggahnya, di tengah pemadaman komunikasi.

Tindakan aparat lebih buruk dari perkiraan

Pedemo Iran anti-pemerintah membakar kendaraan dalam aksi unjuk rasa di Teheran, Iran, 9 Januari 2026.MEDIA SOSIAL via REUTERS Pedemo Iran anti-pemerintah membakar kendaraan dalam aksi unjuk rasa di Teheran, Iran, 9 Januari 2026.Direktur Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia, Mahmood Amiry-Moghaddam, menyebut bahwa kekerasan terhadap demonstran kemungkinan jauh lebih brutal dari yang dibayangkan.

“Informasi yang kami terima menunjukkan bahwa penindakan kekerasan terhadap protes ini kemungkinan jauh lebih buruk daripada yang bisa kita bayangkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Semua garis merah komunitas internasional telah dilanggar.”

Menurut Amiry-Moghaddam, komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara lainnya, memiliki tanggung jawab untuk menghentikan kekejaman yang terjadi.

“Bukan hanya Amerika Serikat atau Presiden Trump, tetapi Uni Eropa dan semua negara pada dasarnya memiliki tanggung jawab untuk menghentikan kekejaman ini,” kata dia.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga koneksi informasi dari Iran ke dunia luar.

“Pemutusan internet di Iran ibarat mengurung rakyat dalam sel isolasi,” ucapnya.

Pedemo anti-rezim Iran membawa bendera lama Iran sebelum Revolusi 1979, bergambar Singa dan Matahari, ketika berunjuk rasa di luar Kedutaan Besar Iran di London, Inggris, 9 Januari 2026.AFP/HENRY NICHOLLS Pedemo anti-rezim Iran membawa bendera lama Iran sebelum Revolusi 1979, bergambar Singa dan Matahari, ketika berunjuk rasa di luar Kedutaan Besar Iran di London, Inggris, 9 Januari 2026.Pemerintah Iran hingga kini belum merilis data resmi maupun reguler soal jumlah korban tewas akibat protes yang terus berlangsung.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintah mendengarkan keluhan para pedagang, dan akan berusaha menyelesaikan persoalan ekonomi dengan cara apa pun yang diperlukan.

Dalam wawancara dengan media nasional yang terkait pemerintah, Pezeshkian menyebut bahwa aksi kekerasan di Iran dilakukan oleh oknum-oknum yang memiliki kaitan dengan kekuatan asing.

Reuters mengutip pejabat anonim di Iran yang menyebut sekitar 2.000 orang tewas sejak unjuk rasa dimulai, sambil turut menuding bahwa kekerasan disebabkan oleh “teroris” yang dipengaruhi pihak asing.

Kepala kepolisian Iran juga mengeklaim bahwa gelombang protes ini diperintahkan dari luar negeri.

Aksi unjuk rasa awalnya dipicu oleh melonjaknya biaya hidup, tetapi dengan cepat meluas menjadi gerakan nasional yang mencakup seluruh 31 provinsi di Iran.

Di pengasingan, Putra Mahkota Iran yang digulingkan, Reza Pahlavi, dalam wawancaranya dengan CBS News mengatakan bahwa rakyat Iran membutuhkan dukungan konkret dari komunitas internasional.

“Cara terbaik untuk memastikan lebih sedikit orang terbunuh di Iran adalah dengan melakukan intervensi lebih awal, sehingga rezim ini akhirnya runtuh dan mengakhiri semua masalah yang kami hadapi,” ujarnya.

Sumber: Kompas.com (Penulis: Inas Rifqia Lainufar | Editor: Inas Rifqia Lainufar)

Tag:  #demo #iran #2571 #orang #disebut #tewas #memori #revolusi #1979 #terulang

KOMENTAR