Senat AS Sahkan Resolusi untuk Batasi Kewenangan Trump dalam Perang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara kesehatan di South Court Auditorium, Gedung Putih, Washington DC, 18 Mei 2026.(AFP/KENT NISHIMURA)
12:54
20 Mei 2026

Senat AS Sahkan Resolusi untuk Batasi Kewenangan Trump dalam Perang Iran

- Senat Amerika Serikat (AS) mengesahkan resolusi untuk membatasi kewenangan perang Presiden Donald Trump di Iran pada Selasa (19/5/2026).

Senator menyetujui mosi untuk mengeluarkan resolusi itu dari komite dengan suara 50 berbanding 47. Ini menandai terobosan bagi Partai Demokrat setelah tujuh upaya yang gagal.

Dilansir CBS News, Selasa (19/5/2026), empat anggota Partai Republik bergabung dengan mayoritas Partai Demokrat dalam mendukung pengesahan resolusi tersebut.

Baca juga: Trump Klaim Perang Iran Segera Berakhir, Sebut Teheran Kelelahan


Mereka adalah Senator Susan Collins dari Maine, Lisa Murkowski dari Alaska, Rand Paul dari Kentucky, dan Bill Cassidy dari Louisiana.

Sementara itu, Senator John Fetterman dari Pennsylvania adalah satu-satunya anggota Partai Demokrat yang menentang.

Pemungutan suara tersebut juga menandai pertama kalinya Cassidy mendukung pengesahan resolusi kewenangan perang.

Hal itu terjadi beberapa hari setelah ia gagal mengumpulkan dukungan untuk lolos ke putaran kedua dalam pemilihan pendahuluan Senat Partai Republik Louisiana, yang mana Trump mendukung salah satu lawannya.

Baca juga: Taiwan Tegaskan Tak Bisa Didekte Kekuatan Asing, Sindir Trump?

Dan tiga anggota Partai Republik lain tidak memberikan suara, sehingga untuk pertama kalinya sejak mereka mulai mengajukan resolusi kewenangan perang terkait Iran, hasil pemungutan suara pun condong ke pihak Partai Demokrat.

Pemungutan suara ini hanyalah langkah awal di Senat. Dan meskipun kedua majelis menyetujui resolusi tersebut, presiden diperkirakan akan memvetonya.

Meski demikian, pihak Demokrat mengatakan bahwa langkah tersebut memiliki arti penting dan berpotensi mengubah pandangan presiden terkait perang.

Baca juga: Saat Ancaman Trump ke Iran Berubah Jadi Ajakan Negosiasi dalam Sehari...

Pecahnya perang Iran dan AS

Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.US NAVY/CHELSEA PALMER via AFP Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.

Perang Iran bermula ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran pada 28 Februari 2026.

Merespons hal itu, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah, serta secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar pelayaran internasional.

Washington dan Teheran kemudian melakukan gencatan senjata selama dua minggu dan mengadakan perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026.

Baca juga: Jerman Desak Iran untuk Berunding, Siap Kirim Militer ke Selat Hormuz

Sayangnya, perundingan AS dan Iran menemui jalan buntu karena Teheran menolak membuka Selat Hormuz dan menghentikan program uranium.

Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan militernya untuk memblokade selat Hormuz mulai Senin (13/4/2026).

Hal itu dilakukan untuk memberikan tekanan ekonomi tambahan pada Iran dengan memutus salah satu sumber pendapatan yang tersisa.

Blokade tersebut berlaku untuk kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Baca juga: Iran Ternyata Sita Kapal China di Selat Hormuz Saat KTT Trump-Xi, Ada Apa?

Pada Jumat (17/4/2026), Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata selama 10 hari. Di hari yang sama Iran mengumumkan membuka Selat Hormuz menyusul kesepakatan itu.

Langkah yang dipuji oleh Trump, namun tetap memberlakukan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran.

Kemudian, pada Sabtu (18/4/2026), Teheran kembali menutup akses pelayaran di Selat Hormuz karena blokade AS berlanjut.

Tag:  #senat #sahkan #resolusi #untuk #batasi #kewenangan #trump #dalam #perang #iran

KOMENTAR