Bertanam Bonsai Santigi, si Kulit Kering bak Pohon Tua, Akar Terikat Karang Besar, Harga Makin Mahal
EKSOTIS: Ariel Hidayat (kiri) bersama sang anak, Muhammad Bayu Abisatya, dengan koleksi bonsai santigi. (FOTO: ALLEX QOMARULLA/JAWA POS)
12:00
22 Januari 2024

Bertanam Bonsai Santigi, si Kulit Kering bak Pohon Tua, Akar Terikat Karang Besar, Harga Makin Mahal

Tua malah nggak laku? Ucapan itu tak berlaku bagi bonsai santigi. Tanaman tersebut dikenal dengan corak batangnya yang menyerupai kulit pohon berusia puluhan tahun. Kering dan penuh guratan. Kolektor harus merogoh kocek agak dalam untuk memiliki santigi.

BONSAI santigi tumbuh di pesisir pantai. Akar-akarnya terikat pada karang-karang di pantai. Membuat bonsai santigi ’’kekurangan’’ gizi. Hal itu juga yang membuat bonsai santigi punya karakteristik batang seperti pohon berusia puluhan tahun. ”Karena gizinya sedikit, ia berhemat dengan memiliki karakter kulit seperti itu,” ucap Arief Hidayat, kolektor bonsai asal Surabaya.

Tanaman pesisir itu biasanya dimiliki kolektor, lengkap dengan karang yang terikat akar. Karang tersebut juga yang membuat bonsai santigi makin estetis. Harganya turut meroket jika karang itu punya ukuran besar. ”Jangan pernah dipisahkan. Karangnya itu yang membuat santigi bisa stabil dan bertumbuh,” tutur Arief.

BUTUH SINAR MATAHARI DAN AIR: Bayu merapikan santigi yang sudah dibonsai. Pemotongan atau pembentukan batang lakuakn saat santigi dalam kondisi sehat. FOTO: ALLEX QOMARULLA/JAWA POS (FOTO: ALLEX QOMARULLA/JAWA POS)

Sebagai pencinta bonsai, tak sekali dua kali Arief menjajal reproduksi bonsai santigi. Ada yang gagal, ada yang berhasil. ”Kadang kita nih suka di-prank sama santigi,” ucapnya. Sebab, bonsai santigi bisa tumbuh tanpa akar hingga dua bulan. Ia hanya tumbuh dengan konsumsi kambium di lapisan batangnya. ”Terus tiba-tiba drop mati. Kan kaget ya,” sambung pria kelahiran Surabaya itu.

Setelah diperhatikan, bonsai santigi yang bergantung pada kambium akan jarang memunculkan cabang baru. Tanaman hanya bertambah panjang dan memunculkan beberapa helai daun. Batang-batang baru akan tumbuh di ketiak daun jika akar sudah tumbuh dan menguat. ”Ini setelah eksperimen beberapa kali. Ketahuan tanda-tandanya sebelum drop,” imbuhnya.

Arief mengatakan, perawatan bonsai santigi memang gampang-gampang susah. Kebutuhan panas dan air wajib dipenuhi. Bonsai santigi sebaiknya diletakkan di taman terbuka agar terkena matahari sepanjang hari. ”Penyiraman juga wajib dua kali sehari. Mau itu hujan atau tidak,” jelasnya.

BUTUH SINAR MATAHARI DAN AIR: Bayu merapikan santigi yang sudah dibonsai. Pemotongan atau pembentukan batang lakukan saat santigi dalam kondisi sehat. (FOTO: ALLEX QOMARULLA/JAWA POS)

Air hujan saat ini dinilai lebih banyak membawa asam bagi bonsai santigi. Polusi udara jadi salah satu penyebab tingginya asam dalam air hujan. Dampaknya, daun-daun bisa menguning jika kondisi medium terlalu asam. ”Makanya, kalau sore hujan, malam tetap saya siram lagi. Ini dilakukan supaya air hujannya malah terbuang dan nggak banyak terserap,” tutur alumnus arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu.

Dia juga punya trik untuk menjaga kecantikan bonsai santigi. Satu sendok makan garam gosok rutin ditaburkan ke medium bonsai setiap tiga bulan. ”Ini menggantikan asinnya air laut di tempat bonsai santigi tumbuh,” jelasnya. Jika daun mulai menunjukkan warna kuning, garam gosok bisa diberikan lebih cepat. ”Biasanya seminggu setelahnya, warna daun sudah hijau lagi,” ucap anak bungsu dari tujuh bersaudara itu.

Pruning atau pemotongan dan pembentukan batang bonsai bisa dilakukan saat kondisi santigi sehat. Jika terkena hama, pruning sebaiknya ditunda. ”Ini bedanya dengan bonsai-bonsai lain. Kalau yang lain, kena hama malah cocok di-pruning. Kalau santigi, justru malah stres,” lanjutnya saat ditemui di Kopi Bonsai beberapa waktu lalu. Saat terkena hama, bonsai santigi sebaiknya dirawat dengan pestisida hingga hama sepenuhnya hilang.

Bonsai Santigi (FOTO: ALLEX QOMARULLA/JAWA POS)

Bonsai santigi ukuran kecil dengan karang bisa dibanderol Rp 1 juta hingga 1,5 juta. ”Bandingkan dengan bonsai jenis lain yang seukuran, itu hanya Rp 150 ribu sampai Rp 600 ribu,” tuturnya.

Arief dan Muhammad Bayu Abisatya, putranya, kini sudah merawat sekitar 30 pot bonsai santigi berbagai jenis dan ukuran.

”Bonsai kami yang paling besar ditanam di depan rumah. Harganya Rp 40 juta,” ucap Bayu, sapaan Muhammad Bayu Abisatya. Tinggi tanaman tersebut bahkan hampir menyentuh 2 meter. Tanaman itu sudah dirawat Bayu dan Arief selama dua tahun terakhir. ”Sempat ada yang nawar, tapi belum cocok,” ungkapnya. (dya/c7/ai)

---

TIPS MERAWAT SI TANAMAN PESISIR

  • Jika daun mulai kekuningan, taburkan satu sendok makan garam di media tanah sekeliling bonsai santigi. Pemberian garam juga bisa dilakukan tiga bulan sekali.
  • Pembentukan bonsai santigi bisa dilakukan dengan memotong beberapa batang kecil, justru agar memperkuat batang-batang besar yang ingin dijaga.
  • Upayakan membentuk bonsai sesuai dengan kondisi karang supaya lebih awet dan makin cantik.
  • Tetap siram bonsai santigi beberapa jam setelah hujan. Tujuannya, keasaman air hujan bisa langsung tergantikan dengan air ber-pH netral sehingga daun tidak menguning.

Editor: Ilham Safutra

Tag:  #bertanam #bonsai #santigi #kulit #kering #pohon #akar #terikat #karang #besar #harga #makin #mahal

KOMENTAR