Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.(Instagram.com/mirasumanti)
21:05
1 Juni 2026

Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna

- Aplikasi kencan kini menjadi salah satu cara yang paling mudah untuk bertemu orang baru. 

Hanya dengan beberapa kali sentuhan di layar ponsel, seseorang bisa berkenalan dengan puluhan hingga ratusan calon pasangan yang mungkin tidak akan pernah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, kemudahan tersebut ternyata juga menghadirkan fenomena baru yang semakin banyak dirasakan para penggunanya, yaitu dating app fatigue atau kelelahan menggunakan aplikasi kencan.

Baca juga: Kisah Mira Sumanti Gagal Menikah, Bangkit Lewat Dating App hingga Menemukan Jati Diri

Perasaan lelah, jenuh, hingga frustrasi saat mencari pasangan melalui aplikasi kencan menjadi pengalaman yang tidak asing bagi banyak orang. 

Alih-alih menemukan hubungan yang diharapkan, sebagian pengguna justru merasa semakin sulit mendapatkan kecocokan dan kehilangan semangat untuk terus mencoba.

Penulis buku Swipe Therapy, Mira Sumanti menilai, fenomena ini tidak lepas dari ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap aplikasi kencan itu sendiri.

Menurut Mira, banyak pengguna datang ke aplikasi kencan dengan harapan menemukan pasangan yang memenuhi seluruh kriteria ideal yang mereka miliki. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, rasa kecewa pun mudah muncul.

Ketika algoritma dianggap bisa menemukan pasangan sempurna

Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti saat ditemui Kompas.com di Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti saat ditemui Kompas.com di Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).

Mira menyebutkan, salah satu penyebab utama dating app fatigue adalah cara sebagian pengguna memandang aplikasi kencan sebagai sarana untuk menemukan sosok yang sempurna.

"Dating app fatigue itu banyak terjadi sekarang. Aku mikirnya karena ekspektasi anak muda terhadap dating app itu terlalu tinggi," jelas Mira saat ditemui Kompas.com di Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, tidak sedikit pengguna yang datang dengan daftar panjang kriteria pasangan impian.

"Banyak yang ingin cari pasangan yang benar-benar cocok, seagama, pinter, kerjaannya mapan, harus tinggi. Terus penggunanya membiarkan algoritma untuk mencarikan kita sosok yang sempurna," ujarnya.

Harapan tersebut sering kali membuat pengguna menaruh beban yang besar pada aplikasi kencan. Mereka berharap teknologi mampu menyaring dan menghadirkan seseorang yang sesuai dengan seluruh keinginan mereka.

Padahal, hubungan antarmanusia jauh lebih kompleks dibanding sekadar mencocokkan data profil atau preferensi tertentu.

"Tentu ini sangat mudah untuk muncul merasa kecewa, karena belum tentu bisa dapat kriteria yang sempurna itu," kata Mira.

Terlalu banyak pilihan memicu seseorang sulit berkomitmen

Di sisi lain, Mira mengakui, aplikasi kencan memberikan kesempatan yang sangat luas bagi seseorang untuk bertemu orang-orang di luar lingkaran pertemanan atau lingkungan sosialnya.

"Dating app ini juga membuka pintu yang luas untuk penggunanya bertemu orang lain yang di luar circle-nya. Kita diberikan banyak pilihan dan tinggal di-swipe aja," ujarnya.

Baca juga: 3 Cara Memulai Percakapan di Dating App, Anti Canggung

Kemudahan tersebut memang menjadi salah satu daya tarik terbesar aplikasi kencan. 

Namun, di balik banyaknya pilihan yang tersedia, terdapat konsekuensi yang tidak selalu disadari pengguna.

"Kontranya adalah kadang kita itu lupa kalau orang yang di-swipe itu real people. Banyak banget orang yang merasa opsinya banyak di dating app, sehingga enggak bisa komitmen," kata Mira.

Saat seseorang merasa selalu memiliki alternatif lain yang mungkin lebih baik, proses membangun hubungan bisa menjadi lebih sulit. 

Pengguna cenderung terus mencari pilihan berikutnya tanpa benar-benar memberi kesempatan pada hubungan yang sedang dijalani untuk berkembang.

Fenomena ini semakin kuat di tengah budaya digital yang serba cepat. Banyak orang terbiasa mendapatkan hiburan, informasi, hingga kebutuhan sehari-hari secara instan melalui teknologi.

Kondisi tersebut secara tidak langsung turut memengaruhi cara sebagian orang memandang hubungan. 

Ketika merasa bosan atau tidak langsung menemukan kecocokan, mereka lebih mudah beralih ke pilihan lain dibanding meluangkan waktu untuk mengenal seseorang lebih dalam.

Terlalu cepat menilai calon pasangan

Menurut Mira, salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi di aplikasi kencan adalah menilai seseorang hanya berdasarkan kesan awal.

Tidak sedikit pengguna yang langsung memutuskan untuk berhenti berkomunikasi karena tidak merasakan ketertarikan instan saat pertama kali mengobrol atau bertemu.

"Enggak jarang, orang merasa enggak ada spark atau butterfly-nya ketika ketemu atau ngobrol dengan match-nya, alhasil langsung di-skip. Padahal belum kenal sosok tersebut lebih dalam," ujarnya.

Padahal, hubungan yang sehat dan bermakna tidak selalu diawali dengan perasaan yang menggebu-gebu. 

Dalam banyak kasus, kedekatan justru tumbuh seiring waktu ketika dua orang saling mengenal karakter, nilai hidup, dan cara pandang masing-masing.

Baca juga: 10 Tanda Cowok Green Flag di Aplikasi Kencan Online Menurut Pakar

Karena itu, Mira menilai penting bagi pengguna untuk lebih sabar dan terbuka ketika berinteraksi dengan orang baru di aplikasi kencan.

Dating app tidak selalu berakhir dengan menemukan jodoh

Berdasarkan pengalamannya sendiri, Mira melihat bahwa aplikasi kencan tidak harus selalu dipandang sebagai alat untuk menemukan pasangan hidup.

Di balik berbagai pertemuan yang terjadi, seseorang bisa memperoleh banyak pengalaman berharga yang mungkin tidak pernah diduga sebelumnya.

"Menurutku, dating app itu enggak selalu tentang mencari jodoh kita. Bisa saja di perjalanannya kamu menemukan orang yang membantu kamu untuk mencari jati diri," kata Mira.

Bagi Mira, melihat orang lain sebagai manusia dengan cerita dan pengalaman hidupnya masing-masing jauh lebih penting daripada terus mengejar gambaran tentang pasangan yang dianggap sempurna. 

Sering kali hubungan yang bermakna justru lahir ketika seseorang berhenti mencari kesempurnaan dan mulai membuka diri untuk benar-benar mengenal orang lain.

 Baca juga: Mencari Hubungan Ideal di Aplikasi Kencan? Perhatikan 2 Hal Ini

Tag:  #fenomena #dating #fatigue #saat #pengguna #terobsesi #mencari #pasangan #sempurna

KOMENTAR