Gejala Malaria Knowlesi Mirip Flu dan Malaria Biasa, tapi Bisa Cepat Memburuk
Gejala malaria knowlesi atau yang juga dikenal sebagai monkey malaria disebut mirip dengan malaria pada umumnya. Namun, penyakit ini bisa berkembang cepat menjadi berat jika tidak segera ditangani.
Hal itu disampaikan dokter spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropis dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDipPID M.Ked(Ped)., Sp.A, Subsp IPT(K)., Ph.D dalam webinar IDAI yang diikuti Kompas.com secara daring, Rabu (13/5/2026).
“Gejalanya memang mirip malaria biasa, seperti demam, menggigil, lemas, sakit kepala, nyeri otot, kadang mual muntah. Tetapi pada malaria knowlesi, perburukannya bisa lebih cepat,” ujar dr. Inke.
Ia menjelaskan, Plasmodium knowlesi merupakan parasit malaria yang secara alami menginfeksi monyet ekor panjang dan monyet ekor babi. Namun, parasit ini dapat menular ke manusia melalui gigitan nyamuk.
Menurut Inke, salah satu tantangan dari malaria knowlesi adalah gejalanya yang sering sulit dibedakan dengan malaria biasa pada tahap awal.
Padahal, infeksi ini dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat jika jumlah parasit di dalam darah meningkat cepat.
Baca juga: Monkey Malaria Sudah Ditemukan di Indonesia, Apa yang Perlu Diwaspadai?
Bisa menyebabkan komplikasi berat
Inke mengatakan, kasus berat malaria knowlesi dapat menyebabkan gangguan pada berbagai organ tubuh.
“Bisa terjadi gangguan pernapasan, gangguan ginjal, penurunan kesadaran, hingga komplikasi berat lainnya,” kata dia.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh demam setelah beraktivitas di area hutan atau wilayah yang memiliki populasi monyet dan nyamuk malaria.
Ia menambahkan, pemeriksaan laboratorium penting dilakukan agar jenis malaria dapat diketahui dengan tepat.
Baca juga: Monkey Malaria Mulai Ditemukan di Indonesia, Pendaki Diminta Waspada
Waspada setelah aktivitas di hutan
Ilustrasi demam. Dokter mengingatkan malaria knowlesi sering diawali gejala ringan seperti demam dan lemas, tetapi bisa cepat berkembang menjadi kondisi berat.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada setelah melakukan aktivitas di alam terbuka, termasuk hiking atau masuk kawasan hutan.
“Kalau habis dari hutan lalu mengalami demam, jangan dianggap flu biasa. Perlu diperiksa,” ujar dr. Piprim dalam webinar yang sama.
Meski demikian, IDAI meminta masyarakat tidak panik.
Menurut Piprim, risiko penularan tetap dapat ditekan dengan meningkatkan kewaspadaan dan perlindungan diri saat berada di area berisiko, seperti menggunakan pakaian tertutup dan pelindung dari gigitan nyamuk.
Baca juga: Pembukaan Hutan Disebut Bisa Picu Kenaikan Kasus “Monkey Malaria”
Kasus mulai dilaporkan di Indonesia
Dalam webinar tersebut, IDAI juga menyoroti bahwa kasus malaria knowlesi mulai ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia.
Perubahan lingkungan dan pembukaan hutan disebut dapat meningkatkan interaksi manusia dengan habitat alami nyamuk dan monyet pembawa parasit tersebut.
Karena itu, deteksi dini dinilai penting agar pasien segera mendapat penanganan sebelum kondisi berkembang menjadi berat.
Baca juga: Kemenkes Prioritaskan Eliminasi Malaria di Papua yang Masih Tinggi Kasusnya
Tag: #gejala #malaria #knowlesi #mirip #malaria #biasa #tapi #bisa #cepat #memburuk