Mitos Kanker Paru yang Masih Banyak Dipercaya, Ini Faktanya
Kanker paru masih sering dianggap hanya menyerang perokok berat, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Mengutip CNN (30/4/2026), sejumlah mitos tentang kanker paru membuat banyak orang tidak menyadari risiko dan akhirnya terlambat menjalani pemeriksaan.
Padahal, kanker paru dapat lebih mudah ditangani jika ditemukan sejak dini melalui pemeriksaan yang tepat.
Beberapa ahli menilai pemahaman yang terlalu sempit tentang risiko kanker paru membuat banyak kelompok rentan justru luput dari skrining.
Baca juga: AI Bisa Deteksi Kanker Hanya dari Suara, Ini Temuan Terbaru
Kanker paru bukan hanya penyakit perokok
Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa kanker paru hanya dialami perokok.
Sebanyak seperempat kasus kanker paru dapat muncul pada orang yang tidak pernah merokok atau hanya merokok kurang dari 100 batang sepanjang hidupnya.
Kanker paru pada bukan perokok juga disebut lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Pada perempuan dengan keturunan Asia Timur atau Asia Selatan, risiko ini bahkan disebut lebih menonjol.
Baca juga: Waspadai Gejala Kanker Kolorektal, BAB Berdarah dan Nyeri Perut
Perokok ringan juga tetap berisiko
Ilustrasi rokok. Banyak mitos tentang kanker paru membuat orang merasa tidak berisiko, padahal penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja dan sering terlambat terdeteksi.
Mitos lain menyebut hanya perokok berat yang perlu khawatir terhadap kanker paru.
Dokter bedah toraks di Mass General Brigham Cancer Institute, Dr Chi-Fu Jeffrey Yang, mengatakan risiko kanker paru tidak hanya ditentukan oleh jumlah rokok yang dihisap.
Menurut Yang, lama seseorang merokok juga perlu diperhitungkan.
“Saya pikir ini lebih tentang berapa tahun seseorang merokok, bukan hanya seberapa intens kebiasaan merokoknya,” kata dr. Yang.
Ia menjelaskan, risiko kanker paru juga dapat dipengaruhi faktor lingkungan seperti polusi udara, gas radon, faktor genetik, dan riwayat merokok.
Baca juga: Bukan Hanya untuk Perempuan, Vaksin HPV Juga Lindungi Pria dari Kanker
Skrining kanker paru masih sering terlewat
Pemeriksaan kanker paru umumnya dilakukan dengan low-dose CT atau CT dosis rendah.
Namun, skrining ini tidak dilakukan seluas pemeriksaan kanker lain karena pedoman resmi masih berfokus pada kelompok risiko tertentu.
Kepala bedah toraks University of Chicago, Dr Jessica Donington, menilai kriteria skrining saat ini masih terlalu sempit.
“Kriterianya terlalu sempit,” kata Donington.
Akibatnya, lebih dari separuh kasus kanker paru muncul pada orang yang tidak memenuhi syarat skrining.
Skrining bisa menyelamatkan nyawa
Sebagian orang juga masih menganggap skrining kanker paru tidak terlalu bermanfaat.
Namun, CNN mencatat bahwa National Lung Screening Trial pada 2011 menemukan pemeriksaan CT dosis rendah dapat menurunkan angka kematian hingga 20 persen.
Yang mengatakan, tindakan lanjutan setelah ditemukan nodul mencurigakan tidak selalu berupa operasi.
Biasanya, dokter akan meminta pemindaian ulang beberapa bulan kemudian untuk melihat apakah nodul berubah atau membesar.
Baca juga: Hasil Skrining di Kota Malang, Puluhan Perempuan Positif Kanker Serviks
Usia muda dan gejala tidak khas tetap perlu diwaspadai
Kanker paru juga tidak selalu menyerang orang lanjut usia. Sekitar 1 dari 10 pasien kanker paru yang baru didiagnosis berusia di bawah 55 tahun.
Pada pasien muda, penyakit ini justru lebih sering ditemukan pada stadium lanjut karena gejalanya tidak langsung dicurigai sebagai kanker.
Gejala kanker paru tidak selalu diawali batuk.
Selain batuk yang tidak kunjung hilang, tanda lain dapat berupa sesak napas, nyeri dada, penurunan berat badan tanpa sebab, kelelahan terus-menerus, batuk darah, nyeri tulang, pembengkakan kaki, atau perubahan bentuk kuku.
Baca juga: Kasus Kanker Payudara Melonjak, BPJS Kesehatan Catat Tambahan 860 Ribu
Teknologi baru bantu prediksi risiko
Perkembangan teknologi juga mulai membuka peluang deteksi dini yang lebih personal.
Direktur Cancer Early Detection and Diagnostics Program di Mass General Brigham Cancer Institute, Dr Lecia Sequist, membantu mengembangkan program kecerdasan buatan bernama Sybil untuk membaca CT scan dan memperkirakan risiko kanker paru.
“Gagasan utama deteksi dini adalah menemukan kanker saat ukurannya masih kecil,” kata Sequist.
Ia menilai sistem skrining seharusnya tidak terlalu bergantung pada riwayat merokok saja.
“Kita bisa lebih cerdas jika sistem tidak terlalu erat dikaitkan dengan kebiasaan merokok,” ujarnya.
Dengan memahami mitos dan fakta kanker paru, masyarakat dapat lebih waspada terhadap risiko yang sering tidak terlihat.
Pemeriksaan lebih awal menjadi penting, terutama bagi orang dengan faktor risiko atau gejala yang menetap.
Baca juga: Benarkah Aspirin Bisa Cegah Kanker Kolorektal? Ini Temuan Terbarunya
Tag: #mitos #kanker #paru #yang #masih #banyak #dipercaya #faktanya