Hari Parkinson Sedunia, Dokter Ingatkan Gejala Awal yang Kerap Diabaikan
ilustrasi parkinson(freepik)
16:36
11 April 2026

Hari Parkinson Sedunia, Dokter Ingatkan Gejala Awal yang Kerap Diabaikan

Setiap 11 April diperingati sebagai Hari Parkinson Sedunia, sebuah momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Penyakit Parkinson yang kerap datang secara perlahan dan sering terlambat dikenali.

Dokter spesialis neurologi, Dr. dr. Mohammad Kurniawan, Sp.N(K), M.Sc, FICA, menjelaskan bahwa Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif, yaitu kondisi ketika sel-sel saraf di otak mengalami kerusakan secara bertahap dan progresif.

“Sel saraf yang paling terdampak berada di area otak bernama substantia nigra, yang berfungsi memproduksi dopamin. Ketika kadar dopamin menurun drastis, otak kehilangan kemampuan untuk mengatur gerakan tubuh secara halus dan terkoordinasi,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (11/4/2026).

Ia menegaskan, Parkinson bukan penyakit menular maupun gangguan kejiwaan, melainkan gangguan neurologis murni yang bersifat degeneratif.

Gejala awal sering tidak disadari

Menurut dr. Kurniawan, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan Parkinson adalah banyaknya gejala awal yang kerap diabaikan.

Bahkan, gejala tersebut bisa muncul bertahun-tahun sebelum tanda khas seperti tremor terlihat.

  • Beberapa gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain:
  • Gangguan penciuman (anosmia)
  • Sembelit kronis tanpa sebab jelas
  • Gangguan tidur, seperti bergerak aktif saat bermimpi
  • Tulisan tangan mengecil (micrographia)
  • Ekspresi wajah yang datar
  • Suara melemah atau berbicara lebih pelan

“Gejala-gejala ini disebut sebagai gejala prodromal atau non-motorik, dan sering dianggap sebagai bagian dari proses penuaan biasa,” jelas dokter yang berpraktik di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RSUD Tarakan Jakarta ini.

Baca juga: Pemeriksaan Penunjang untuk Diagnosis Penyakit Parkinson

Parkinson tidak selalu ditandai tremor

Selama ini, banyak orang mengira Parkinson selalu identik dengan tangan gemetar. Padahal, tidak semua pasien mengalami tremor.

Sekitar 70 persen pasien memang mengalami tremor saat istirahat.

Namun, ada juga pasien yang lebih dominan mengalami kekakuan otot (rigiditas), gerakan melambat (bradikinesia), hingga gangguan keseimbangan dan postur tubuh.

“Bahkan, ada pasien yang tidak mengalami tremor sama sekali sepanjang perjalanan penyakitnya. Karena itu, tremor bukan satu-satunya tanda Parkinson,” kata dr. Kurniawan.

Faktor risiko dan penyebab

Penyebab pasti Parkinson pada sebagian besar kasus belum diketahui atau disebut idiopatik.

Meski begitu, sejumlah faktor diketahui berperan dalam meningkatkan risiko.

Usia menjadi faktor risiko utama, terutama di atas 60 tahun.

Namun, Parkinson juga bisa terjadi pada usia lebih muda, bahkan sejak usia 40-an.

Selain itu, faktor genetik turut berkontribusi pada sekitar 10–15 persen kasus.

Paparan pestisida, logam berat, riwayat cedera kepala berulang, serta jenis kelamin laki-laki juga disebut dapat meningkatkan risiko.

Dalam beberapa kasus, gejala mirip Parkinson juga dapat muncul akibat gangguan pembuluh darah di otak atau dikenal sebagai vascular parkinsonism, yang berkaitan dengan kondisi seperti stroke, hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

Parkinson bisa dikendalikan, meski belum bisa disembuhkan

Hingga saat ini, Parkinson memang belum dapat disembuhkan.

Namun, gejalanya dapat dikendalikan dengan berbagai terapi yang tersedia.

Penanganan meliputi penggunaan obat-obatan seperti levodopa dan agonis dopamin, serta terapi pendukung seperti fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi.

Pada kasus tertentu, tindakan bedah saraf seperti deep brain stimulation (DBS) juga dapat menjadi pilihan.

Selain itu, penelitian terkait terapi sel punca dan terapi gen masih terus dikembangkan dan menunjukkan potensi.

“Dengan diagnosis dini dan penanganan yang tepat, pasien Parkinson tetap bisa menjalani hidup yang produktif dan berkualitas selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Baca juga: Ozzy Osbourne Meninggal Dunia, Perjuangan Panjang Lawan Parkinson hingga Emfisema

ilustrasi tremorsruilk ilustrasi tremor

Dampak luas pada kualitas hidup

Parkinson tidak hanya berdampak pada kemampuan motorik, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis dan sosial pasien.

Gangguan berjalan, berbicara, hingga menelan dapat menghambat aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, sekitar 30–40 persen pasien juga mengalami depresi, kecemasan, hingga penurunan fungsi kognitif pada tahap lanjut.

Kondisi ini turut berdampak pada keluarga dan perawat (caregiver), sehingga penanganan Parkinson perlu dilakukan secara menyeluruh dengan pendekatan multidisiplin.

Pentingnya deteksi dini

Dr. Kurniawan mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala awal yang sering dianggap sepele. Ia menekankan bahwa deteksi dini berperan penting dalam menjaga kualitas hidup pasien.

“Jika mengalami gangguan penciuman, sembelit berkepanjangan, gangguan tidur, atau gerakan yang melambat, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter,” ungkapnya.

Ia juga memberikan pesan bagi para pasien yang telah terdiagnosis Parkinson agar tetap optimistis.

“Parkinson bukan akhir dari segalanya. Dengan terapi yang tepat, dukungan keluarga, dan semangat yang kuat, hidup yang bermakna tetap bisa dijalani,” tutupnya.

Tag:  #hari #parkinson #sedunia #dokter #ingatkan #gejala #awal #yang #kerap #diabaikan

KOMENTAR