Studi Ungkap Orang Optimistis Hidup Lebih Lama, Ini Bedanya dengan Pesimistis
Ilustrasi lansia. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.(Freepik/Freepik)
12:06
23 Maret 2026

Studi Ungkap Orang Optimistis Hidup Lebih Lama, Ini Bedanya dengan Pesimistis

Sikap optimistis ternyata bukan sekadar pola pikir, tetapi berkaitan langsung dengan peluang hidup lebih lama karena cara seseorang mengelola emosi dapat memengaruhi kondisi tubuh dalam jangka panjang.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang yang terbiasa berpikir positif memiliki risiko kesehatan lebih rendah dibandingkan pesimistis karena tekanan mental yang mereka alami cenderung lebih terkendali.

Temuan ini dilaporkan dalam artikel Science Alert (18/3/2026) dan diperkuat oleh studi dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS) (10/9/2019), yang mengaitkan optimisme dengan usia hidup yang lebih panjang.

Baca juga: Dick Van Dyke Ungkap Rahasia Panjang Umur, Studi Sebut Kebiasaan Ini Berpengaruh

Perbandingan antara optimistis dan pesimistis

Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa individu yang sejak muda mengekspresikan emosi positif memiliki peluang hidup lebih tinggi karena kondisi mental yang stabil membantu tubuh tetap bekerja secara optimal.

Hasil penelitian lain juga menemukan bahwa kelompok optimistis memiliki kemungkinan hidup lebih lama dibandingkan pesimistis karena mereka lebih mampu menghadapi tekanan hidup tanpa membiarkan stres berlangsung terlalu lama.

Studi dalam jurnal PNAS menyebut bahwa tingkat optimisme yang tinggi berkaitan dengan peluang lebih besar untuk mencapai usia lanjut, termasuk kemungkinan hidup hingga usia 85 tahun atau lebih.

Baca juga: 9 Perubahan Kecil yang Direkomendasikan Ahli untuk Panjang Umur

Perbedaan cara tubuh merespons stres

Ilustrasi lansia makan. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.Freepik/jcomp Ilustrasi lansia makan. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.

Perbedaan utama antara optimistis dan pesimistis terlihat dari cara tubuh merespons stres karena individu yang optimistis cenderung lebih cepat menenangkan diri saat menghadapi tekanan.

Sebaliknya, sikap pesimistis lebih sering dikaitkan dengan stres yang berkepanjangan karena emosi negatif sulit dikendalikan dan terus memengaruhi kondisi tubuh.

Stres ini dapat memicu pelepasan hormon seperti adrenalin dan kortisol yang memberi tekanan pada sistem jantung dan pembuluh darah jika terjadi secara berulang.

Baca juga: 6 Rutinitas Pagi yang Meningkatkan Peluang Panjang Umur

Dampak pada risiko penyakit dan kesehatan jantung

Tekanan yang berlangsung dalam waktu lama akibat stres dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius karena tubuh terus berada dalam kondisi siaga.

Kondisi ini berkaitan dengan penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2 yang menjadi penyebab utama kematian dini di banyak kasus.

Sikap optimistis membantu menurunkan tekanan tersebut sehingga fungsi tubuh, terutama jantung, dapat bekerja lebih stabil dalam jangka panjang.

Baca juga: Secangkir Kopi Bisa Jadi Resep Panjang Umur Perempuan

Pengaruh terhadap proses penuaan tubuh

Selain memengaruhi kesehatan jantung, stres juga berdampak pada proses penuaan karena berkaitan dengan telomer yang berfungsi melindungi ujung kromosom dalam sel tubuh.

Stres yang berkepanjangan dapat mempercepat pemendekan telomer sehingga sel tubuh kehilangan kemampuan untuk memperbaiki diri secara optimal.

Ketika proses ini terjadi lebih cepat, tubuh akan mengalami penuaan lebih dini dibandingkan kondisi normal.

Perbedaan gaya hidup antara optimistis dan pesimistis

Orang yang optimistis cenderung menjalani kebiasaan hidup yang lebih sehat karena mereka lebih terdorong untuk menjaga kondisi tubuh.

Mereka biasanya lebih rutin berolahraga, menjaga pola makan, serta memiliki pola hidup yang lebih teratur dibandingkan individu yang pesimistis.

Studi dalam jurnal PNAS juga menunjukkan bahwa kebiasaan ini ikut berkontribusi pada umur panjang, meski bukan satu-satunya faktor penentu.

Perbedaan antara optimistis dan pesimistis tidak hanya terlihat dari cara berpikir, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesehatan karena kondisi mental memengaruhi cara tubuh merespons tekanan.

Sikap optimistis membantu mengelola stres, menjaga kesehatan jantung, dan memperlambat proses penuaan sehingga meningkatkan peluang hidup lebih panjang.

Temuan ini menegaskan bahwa pola pikir menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas hidup dan kesehatan dalam jangka panjang.

Baca juga: Selenium Bisa Jadi Nutrisi Mikro yang Meningkatkan Peluang Hidup Panjang Umur

Tag:  #studi #ungkap #orang #optimistis #hidup #lebih #lama #bedanya #dengan #pesimistis

KOMENTAR