Super Flu Terdeteksi di Indonesia, Pakar Ingatkan Risiko Serius pada Lansia dan Anak
Ilustrasi flu. Varian influenza A subclade K atau ?superflu? mulai terdeteksi di Indonesia dan meski tidak lebih ganas dari flu musiman, para pakar mengingatkan risiko serius bagi kelompok rentan jika lengah.(Freepik/benzoix)
12:06
11 Januari 2026

Super Flu Terdeteksi di Indonesia, Pakar Ingatkan Risiko Serius pada Lansia dan Anak

Virus influenza A varian subclade K, yang populer disebut “super flu”, mulai terdeteksi di Indonesia dan memicu kewaspadaan para ahli kesehatan karena potensi dampaknya pada kelompok rentan.

Data hasil pemeriksaan whole genome sequencing menunjukkan varian ini telah beredar sejak Agustus 2025, dengan total 62 kasus terkonfirmasi hingga Desember 2025 dan satu kasus kematian dilaporkan di RS Hasan Sadikin Bandung.

Apa itu super flu dan mengapa perlu diwaspadai

Menurut Dosen Mikrobiologi FK-KMK Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK (K), istilah “super flu” bukanlah terminologi ilmiah, melainkan sebutan populer untuk influenza A subclade K yang masih berkerabat dekat dengan virus flu musiman H3N2.

“Secara genetik memang ada perbedaan dengan virus yang sebelumnya bersirkulasi, tetapi sejauh ini belum ada bukti bahwa varian ini lebih ganas atau mampu menghindari kekebalan dari vaksin maupun infeksi sebelumnya,” ujar Tri, seperti dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada, Jumat (9/1/2026).

Meski demikian, Tri menegaskan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan karena influenza H3N2 dikenal dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada lansia dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu.

Penularan cepat jadi alasan julukan super flu

Dari sisi penularan, dokter spesialis anak konsultan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), menjelaskan bahwa julukan “super flu” muncul karena kemampuan virus ini menyebar dengan cepat.

“Satu orang bisa menularkan ke dua sampai tiga orang di sekitarnya, bahkan mungkin lebih, meskipun belum ada penelitian spesifik soal angka pastinya,” kata Nastiti dalam diskusi daring yang dikutip dari Antara, Minggu (4/1/2026).

Virus ini menyebar melalui droplet pernapasan dan kontak langsung, terutama di lingkungan padat dan bersuhu dingin, yang mempercepat laju penularan.

Gejala mirip flu biasa, tapi risikonya berbeda

Ilustrasi flu. Varian influenza A subclade K atau ?super flu? mulai terdeteksi di Indonesia dan meski tidak lebih ganas dari flu musiman, para pakar mengingatkan risiko serius bagi kelompok rentan jika lengah.Freepik Ilustrasi flu. Varian influenza A subclade K atau ?super flu? mulai terdeteksi di Indonesia dan meski tidak lebih ganas dari flu musiman, para pakar mengingatkan risiko serius bagi kelompok rentan jika lengah.

Secara klinis, gejala super flu sulit dibedakan dari flu biasa, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, batuk, pilek, dan rasa lemas.

Namun, pemeriksaan fisik saja tidak cukup untuk memastikan jenis variannya, karena identifikasi subclade K hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan genomik di laboratorium rujukan.

Kelompok yang berisiko mengalami keparahan meliputi anak balita, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, pasien kanker, serta individu dengan sistem imun lemah.

Virus mudah berubah, pencegahan jadi kunci

Prof. Tri menjelaskan bahwa virus influenza membawa materi genetik RNA yang mudah bermutasi, sehingga perubahan kecil dapat melahirkan varian baru yang berpotensi memengaruhi sistem kekebalan manusia.

“Jika perubahan genetiknya signifikan, ada potensi sistem imun menjadi kurang efektif, termasuk kemungkinan penularan yang lebih cepat,” jelasnya.

Karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling realistis untuk menekan risiko.

Baik Tri maupun Nastiti menegaskan bahwa vaksinasi influenza tahunan tetap dianjurkan, khususnya bagi kelompok rentan.

Selain vaksin, langkah sederhana seperti etika batuk, penggunaan masker saat sakit, mencuci tangan secara rutin, istirahat cukup, dan memastikan ventilasi ruangan yang baik masih menjadi benteng utama pencegahan.

“Imunisasi tahunan tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko penularan,” ujar Nastiti.

Para ahli menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun juga tidak boleh lengah menghadapi kemunculan varian ini.

Dengan pemantauan ketat, disiplin protokol kesehatan, dan perlindungan bagi kelompok rentan, dampak super flu dapat ditekan agar tidak berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.

Tag:  #super #terdeteksi #indonesia #pakar #ingatkan #risiko #serius #pada #lansia #anak

KOMENTAR