Rosneft Peringatkan Risiko Krisis Energi Global dari Selat Hormuz
Lembaga-lembaga internasional dinilai semakin kehilangan kemampuan untuk menjalankan fungsinya sebagai regulator global.
Kondisi tersebut disebut berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia, termasuk sektor energi, perdagangan, dan rantai pasok global.
Pandangan tersebut disampaikan CEO Rosneft Oil Company Igor Sechin dalam Panel Energi pada St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 yang berlangsung di St. Petersburg, Rusia, 3–6 Juni 2026.
Baca juga: Bahlil: Lemigas Akan Impor Minyak Rusia, Tindak Lanjut Komitmen 150 Juta Barel
Ilustrasi: pertumbuhan ekonomi Indonesia
SPIEF merupakan salah satu forum ekonomi tahunan utama di Rusia yang mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas berbagai isu strategis ekonomi global.
Tahun ini, forum tersebut mengangkat berbagai topik mulai dari ekonomi global, teknologi masa depan, stabilitas pasar, hingga kerja sama internasional.
Dalam forum tersebut, Sechin yang juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Presiden Rusia untuk Pengembangan Strategis Sektor Bahan Bakar dan Energi serta Keselamatan Lingkungan, memaparkan laporan berjudul The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Remains at the Bottom of Pandora’s Box?.
Laporan itu membahas transformasi tatanan dunia, kebijakan sanksi, krisis lembaga internasional, serta risiko yang dihadapi ekonomi global dan sektor energi.
Baca juga: Uni Eropa Pertimbangkan Bekukan Batas Harga Minyak Rusia
Lembaga internasional dinilai kehilangan peran
Menurut Sechin, apa yang selama ini dikenal sebagai tatanan berbasis aturan pada dasarnya telah berhenti berfungsi. Ia menilai ekonomi global saat ini telah menjadi sandera dari berbagai keputusan yang dibuat untuk kepentingan korporasi teknologi, militer, dan finansial.
Ilustrasi pajak ekonomi digital.
“Lembaga-lembaga internasional, seperti PBB, WTO, IMF, dan Bank Dunia, kehilangan kemampuan untuk menjalankan perannya sebagai regulator global,” kata Sechin dalam paparannya, dikutip dari siaran pers, Senin (8/6/2026).
Ia menyebut kondisi tersebut mencerminkan melemahnya efektivitas sejumlah institusi global yang selama ini menjadi pilar tata kelola ekonomi internasional.
Soroti dampak kebijakan sanksi
Selain membahas peran lembaga internasional, Sechin juga menyoroti penggunaan sanksi dalam hubungan ekonomi global. Menurut dia, sanksi telah berkembang menjadi instrumen pemaksaan dan bentuk persaingan yang tidak adil.
Baca juga: Rusia Jual Emas Besar-besaran di Tengah Tekanan Anggaran Perang
Ia mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir volume perdagangan global yang terdampak pembatasan meningkat secara signifikan. Sechin juga menyebut sekitar 32.000 sanksi telah diberlakukan terhadap Rusia dalam kurun 12 tahun terakhir.
Menurutnya, tren tersebut menunjukkan semakin besarnya penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat tekanan geopolitik yang berdampak terhadap perdagangan dan investasi internasional.
Krisis Timur Tengah dan risiko terhadap pasokan global
Sebagian besar pidato Sechin juga membahas perkembangan situasi di Timur Tengah. Ia menilai kondisi di sekitar Selat Hormuz dapat menjadi sinyal awal munculnya potensi krisis global.
Menurut Sechin, jalur tersebut tidak hanya menjadi rute utama distribusi minyak dan gas dunia, tetapi juga dilalui oleh volume perdagangan pupuk dalam jumlah besar. Karena itu, setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas strategis.
Baca juga: Rusia Kembali Masuk Proyek Blok Tuna, Pemerintah Kejar Produksi Migas
Ilustrasi pupuk urea dari ammonium
“Gangguan terhadap pasokan tersebut dapat memicu kenaikan harga pangan,” ujarnya.
Bagi Indonesia, isu tersebut dinilai relevan karena ketahanan pangan nasional turut dipengaruhi oleh perkembangan harga energi dan pupuk di pasar global.
Bank Dunia mencatat indeks harga pupuk global meningkat lebih dari 12 persen pada kuartal I 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh gangguan ekspor yang berkaitan dengan kondisi di Selat Hormuz.
Volatilitas harga pupuk dan energi dinilai dapat memengaruhi biaya produksi pertanian, harga pangan, hingga daya beli masyarakat, khususnya di negara agraris seperti Indonesia.
Baca juga: ESDM Sebut Perusahaan Rusia Lanjut Garap Proyek Blok Tuna
Dampaknya bagi Indonesia
Dalam laporan tersebut disebutkan, perkembangan pasar energi global memiliki relevansi langsung bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai impor Indonesia pada 2024 mencapai 235,2 miliar dollar AS. Dari jumlah tersebut, impor minyak dan gas bumi mencapai 36,3 miliar dollar AS.
Besarnya nilai impor migas tersebut menunjukkan perubahan rute perdagangan internasional, kebijakan sanksi, maupun gangguan geopolitik dapat berdampak langsung terhadap biaya impor, inflasi, serta kebijakan energi nasional.
Karena itu, dinamika yang terjadi di pasar energi global menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Baca juga: Peluang Kerja RI-Rusia Meluas, Sektor Digital Ikut Dibuka
Rute Laut Utara dinilai semakin strategis
Dalam paparannya, Sechin juga menyoroti pentingnya Rute Laut Utara atau Northern Sea Route. Menurut dia, jalur tersebut dapat menjadi salah satu solusi bagi perdagangan global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Ilustrasi kontainer di kapal barang.
Ia mengatakan Rute Laut Utara mampu menyediakan solusi transportasi yang dibutuhkan perdagangan internasional sekaligus memperpendek waktu pengiriman kargo. Selain itu, jalur tersebut juga dinilai dapat membantu menekan biaya transportasi.
Peningkatan peran jalur alternatif seperti Rute Laut Utara disebut menjadi bagian dari perubahan pola perdagangan global yang berkembang seiring meningkatnya risiko pada sejumlah jalur pelayaran utama dunia.
Sistem keuangan global turut berubah
Selain isu energi dan perdagangan, Sechin juga menyoroti perubahan yang terjadi dalam sistem keuangan global. Menurut dia, volume kapital fiktif saat ini telah melampaui 500 triliun dollar AS atau hampir lima kali lipat dari ukuran produk domestik bruto (PDB) global.
Baca juga: Rusia-Indonesia Sepakat Bangun PLTN dan Kerja Sama Migas
Ia menilai penggunaan dollar AS sebagai instrumen sanksi mendorong sejumlah negara untuk mengembangkan sistem pembayaran alternatif.
Dalam kesempatan tersebut, Sechin juga menyampaikan Rusia berpotensi memperoleh tambahan pendapatan lebih dari 400 miliar dollar AS apabila sebelumnya meningkatkan porsi emas dalam cadangan negara.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai transformasi sistem keuangan internasional dan upaya sejumlah negara untuk mengurangi ketergantungan terhadap instrumen keuangan yang selama ini mendominasi perdagangan global.
Tag: #rosneft #peringatkan #risiko #krisis #energi #global #dari #selat #hormuz