Saham Telkom Rontok 13 Persen, Jadi Pemberat IHSG
PT Telkom Indonesia. (DOK. Telkom.)
14:24
8 Juni 2026

Saham Telkom Rontok 13 Persen, Jadi Pemberat IHSG

- Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi salah satu pemberat utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (9/6/2026).

Hingga pukul 14.07 WIB, emiten telekomunikasi pelat merah itu anjlok 13,41 persen atau 370 poin ke level Rp 2.390 per saham.

Selain TLKM, sektor perbankan juga terkoreksi dan ikut membebani pergerakan indeks.

“Penurunan saham perbankan dan kejatuhan saham TLKM membebani gerak IHSG yang sempat longsor lebih dari 4 persen di sesi awal perdagangan,” ujar Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Baca juga: Telkom Minta Restu Buyback Saham Rp 4 Triliun dalam RUPS

Tekanan jual terjadi sejak awal perdagangan.

Saham TLKM dibuka di kisaran Rp 2.760 sebelum langsung mengalami koreksi tajam dan bergerak di zona merah sepanjang sesi.

Grafik intraday menunjukkan minimnya perlawanan dari pembeli, dengan harga terus mencetak level yang lebih rendah hingga menyentuh area Rp 2.420.

Penurunan hampir 12 persen dalam sesi pertama membuat TLKM menjadi salah satu saham dengan pelemahan terbesar di kelompok saham berkapitalisasi besar.

Lebih jauh, TLKM berencana menggelontorkan dana Rp 4 triliun untuk melaksanakan pembelian kembali saham alias buyback. Periode buyback dijadwalkan dilaksanakan selama setahun atau periode 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 4 Juni 2026, TLKM tengah meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung pada Senin ini.

Apabila memperoleh persetujuan, pelaksanaan buyback dapat dilakukan mulai 9 Juni 2026.

Manajemen Telkom memastikan sumber dana untuk aksi korporasi tersebut sepenuhnya berasal dari kas internal perseroan.

“Perkiraan biaya pembelian kembali saham perseroan adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 4 triliun yang berasal dari kas internal perseroan, sudah termasuk biaya transaksi pembelian kembali saham komisi, pedagang perantara, serta biaya lainnya berkaitan dengan pembelian kembali saham,” tulis manajemen TLKM.

Perseroan memastikan jumlah saham yang beredar di publik (free float) setelah pelaksanaan share buyback tidak akan lebih rendah dari 15 persen dari total saham tercatat.

Ketentuan tersebut tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di pasar modal.

Melalui program pembelian kembali saham ini, TLKM berupaya memperkuat keyakinan investor terhadap nilai jangka panjang serta prospek usaha yang dimiliki perusahaan.

Langkah tersebut juga diambil untuk menjaga keharmonisan antara kondisi pasar dan fundamental perusahaan, sekaligus mempertahankan kepercayaan para pemangku kepentingan dalam mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.

Perseroan meyakini pelaksanaan transaksi pembelian kembali saham tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha.

Keyakinan itu didukung oleh posisi modal kerja dan arus kas (cash flow) yang dinilai memadai untuk membiayai pelaksanaan buyback secara bersamaan dengan kebutuhan operasional dan pengembangan usaha Perseroan.

Dengan demikian, transaksi pembelian kembali saham tersebut diperkirakan tidak akan memengaruhi pendapatan perseroan.

Meski demikian, karena seluruh pembiayaan buyback berasal dari kas internal perusahaan, pelaksanaan aksi korporasi tersebut akan berdampak pada penurunan aset dan ekuitas.

Manajemen memperkirakan penurunan aset dan ekuitas dapat mencapai maksimal Rp 4 triliun, sejalan dengan nilai dana yang dialokasikan untuk program pembelian kembali saham tersebut.

Adapun, total aset TLKM diproyeksikan turun dari Rp 287,759 triliun menjadi Rp 282,280 triliun setelah pelaksanaan buyback. Sementara itu, total ekuitas diperkirakan berkurang dari Rp 150,537 triliun menjadi Rp 145,058 triliun.

Meski terjadi penurunan aset dan ekuitas akibat penggunaan kas internal untuk mendanai buyback, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk diproyeksikan tetap sebesar Rp 17,814 triliun.

Di sisi lain, laba per saham atau earnings per share (EPS) justru berpotensi mengalami peningkatan.

Berdasarkan simulasi perseroan, EPS diperkirakan naik menjadi Rp 183,1 per saham dari sebelumnya Rp 179,8 per saham setelah pembelian kembali saham dilaksanakan.

Manajemen menjelaskan, proyeksi tersebut menggunakan asumsi jumlah saham yang dibeli kembali mencapai maksimal 10 persen dari jumlah saham disetor.

Sementara itu, biaya transaksi seperti komisi perantara perdagangan dan biaya lainnya dipastikan tidak memberikan dampak signifikan terhadap laba rugi perseroan sehingga tidak dimasukkan dalam perhitungan proforma.

Baca juga: IHSG Masih Tertekan, Kapan Investor Bisa Mulai Akumulasi Saham?

Tag:  #saham #telkom #rontok #persen #jadi #pemberat #ihsg

KOMENTAR