TBS Anjlok Saat CPO Dunia Tinggi, Amran: Anomali!
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat ditemui di kediamannya, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
11:04
8 Juni 2026

TBS Anjlok Saat CPO Dunia Tinggi, Amran: Anomali!

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut anjloknya harga tandan buah segar atau TBS sawit beberapa waktu lalu sebagai anomali.

Harga TBS diketahui turun di berbagai daerah setelah pemerintah mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI sebagai eksportir tunggal produk sawit.

Ketika dikonfirmasi apakah penurunan harga TBS terjadi karena kondisi psikologis pasar atau dugaan permainan pengusaha yang keberatan dengan DSI, Amran menyebut kondisi pasar tidak wajar.

“Ya anomali. Tulis anomali. Itu enggak, harusnya tidak terjadi (penurunan),” kata Amran saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Baca juga: Amran Copot Anak Buahnya yang Bohong Jumlah Bibit Kelapa

Amran mengatakan, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil, CPO, di pasar dunia sedang naik.

Pada saat yang sama, dollar Amerika Serikat menguat terhadap rupiah.

Nilai tukar rupiah diketahui sempat menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS.

Menurut Amran, kondisi tersebut seharusnya membuat harga TBS dan CPO di pasar domestik ikut naik, bukan turun.

“Bahkan harusnya naik 10 persen daripada harga sebelumnya karena ada selisih nilai dollar sekarang Rp 18.000,” ujar Amran.

Baca juga: GAPKI: Harga TBS Sawit Mulai Pulih Usai Pemerintah Beri Kepastian Soal DSI

Perusahaan diminta kembalikan harga

Amran mengatakan, ia sedang menjalankan ibadah haji ketika harga TBS dan CPO anjlok.

Pada hari pertama masuk kerja setelah cuti haji, Amran langsung mengumpulkan petani sawit swadaya dan mitra, perusahaan pengolahan atau refinery kelapa sawit, asosiasi pengusaha sawit, Satgas Pangan, serta direktur reserse kriminal umum dari berbagai daerah.

Dalam rapat tersebut, Amran meminta petani swadaya dan mitra menjelaskan kondisi harga TBS saat anjlok dan perkembangan terkini.

Banyak petani menyebut harga TBS belum sepenuhnya kembali normal setelah sempat turun.

Amran kemudian meminta penjelasan dari perusahaan refinery dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI.

“Kenapa turun? Kami tanya, enggak ada bisa jawab. Oke, kita sepakat semua, tidak ada satupun yang menolak, ketua asosiasinya, perusahaannya hadir, pengusahanya hadir, eksportirnya hadir, semua sepakat harga kembali seperti semula,” tutur Amran.

Meski demikian, Amran mengakui masih ada sekitar 270 pabrik kelapa sawit atau PKS dan refinery yang belum menaikkan harga TBS seperti sebelumnya.

Kementerian Pertanian lalu mengirimkan data perusahaan tersebut ke sejumlah kepolisian daerah.

Data itu juga ditembuskan kepada Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk diperiksa.

“Ada kurang lebih 270 sampai 300 perusahaan yang belum menaikkan harga dan kami akan kirim langsung ke Polda tembusan ke Pak Kapolri, Pak Kapolda, dan kepada Dirkrimsus ditindaklanjuti,” ucap Amran.

Sebelumnya, harga TBS anjlok di sejumlah daerah setelah pemerintah mengumumkan pembentukan DSI.

Ketua Umum GAPKI Edy Martono mengatakan, pengumuman itu membuat pengusaha panik sehingga harga TBS di pasar domestik turun.

“Kita juga panik dengan kondisi ini kenapa? Contoh nih ya, waktu di ee sebelum pidato Bapak Presiden itu harga masih Rp 15.300 CPO ya di Dumai (Riau),” kata Edy saat ditemui di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

“Kemudian hitungan jam hanya hitungan jam, 2 jam kemudian harga langsung turun di Rp 14.500,” lanjut Edy.

Tag:  #anjlok #saat #dunia #tinggi #amran #anomali

KOMENTAR