Simpanan Rupiah Susut Rp 172,9 Triliun, Likuiditas Bank Mulai Tertekan
Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.(UNSPLASH/TOWFIQU BARBHUIYA)
08:08
8 Juni 2026

Simpanan Rupiah Susut Rp 172,9 Triliun, Likuiditas Bank Mulai Tertekan

Likuiditas industri perbankan mulai menghadapi tekanan seiring menyusutnya simpanan dalam mata uang rupiah.

Dana masyarakat dinilai mulai bergeser ke berbagai instrumen investasi dengan imbal hasil lebih menarik.

Pergerakan itu terjadi di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan suku bunga yang masih tinggi.

Data Bank Indonesia atau BI menunjukkan dana pihak ketiga atau DPK rupiah pada April 2026 tercatat sebesar Rp 8.100,4 triliun.

Angka tersebut tumbuh 9,6 persen secara tahunan atau year on year. Meski masih tumbuh positif, realisasi itu turun dibandingkan posisi Maret 2026.

Baca juga: Setor Sampah Bisa Jadi Tabungan, BTN (BBTN) Perluas Program ke 15 Kota

DPK rupiah pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp 8.208,2 triliun dengan pertumbuhan 11,1 persen secara tahunan.

Artinya, simpanan rupiah menyusut Rp 172,9 triliun secara bulanan.

Sementara itu, DPK valuta asing atau valas pada April 2026 tercatat sebesar Rp 1.467,3 triliun.

DPK valas tumbuh 8,6 persen secara tahunan dan relatif stagnan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp 1.450,6 triliun.

Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai penurunan simpanan rupiah mengindikasikan adanya realokasi aset oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Menurut dia, kondisi tersebut bukan semata-mata penarikan dana dari sistem keuangan.

Rizal mengatakan, sebagian dana masyarakat berpotensi berpindah ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Instrumen tersebut antara lain Surat Berharga Negara atau SBN, deposito berjangka, reksa dana pasar uang, dan emas.

“Sebagian dana juga kemungkinan terserap untuk kebutuhan modal kerja perusahaan dan konsumsi rumah tangga,” ujar Rizal kepada Kontan.co.id, Minggu (7/6/2026).

Baca juga: Saat Tabungan Jadi Bantalan Sosial Pribadi

Kenaikan simpanan valas yang hanya sekitar Rp 29,7 triliun menunjukkan perpindahan dana ke valuta asing bukan faktor dominan.

Karena itu, Rizal menilai kondisi saat ini lebih tepat dipahami sebagai fenomena portofolio rebalancing dibandingkan aksi dolarisasi.

Dana murah ikut tertekan

Rizal mengatakan, penurunan simpanan rupiah mulai memberi tekanan terhadap likuiditas perbankan.

Tekanan akan lebih terasa jika dana murah atau current account saving account, CASA, ikut menurun.

Ketika bank kehilangan sumber dana berbiaya rendah, bank cenderung menaikkan suku bunga deposito untuk mempertahankan likuiditas.

Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong kenaikan cost of fund atau CoF.

Namun, tekanan itu masih dapat dikelola selama penurunan simpanan bersifat sementara dan rasio likuiditas industri tetap memadai.

Menurut Rizal, dampak terhadap fungsi intermediasi perbankan dapat melebar jika tren penurunan simpanan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

“Kenaikan CoF akan menekan margin bunga bersih (NIM), sehingga ruang bank untuk menyalurkan kredit dengan bunga yang kompetitif menjadi semakin terbatas. Akibatnya, pertumbuhan kredit berpotensi melambat dan profitabilitas bank ikut tertekan,” katanya.

Rizal menilai bank perlu mengubah strategi untuk menjaga pertumbuhan dana murah.

Bank tidak cukup hanya bersaing pada tingkat bunga.

Bank juga perlu memperkuat ekosistem layanan transaksi yang memberi nilai tambah bagi nasabah.

“Penguatan digital banking, integrasi layanan pembayaran, payroll, cash management, transaksi UMKM, hingga program loyalitas menjadi kunci untuk mempertahankan dana mengendap di rekening,” jelasnya.

Chief Economist BTN Myrdal Gunarto juga melihat adanya pergeseran dana masyarakat dari DPK tradisional ke instrumen moneter dan pasar modal yang menawarkan yield lebih tinggi.

Menurut Myrdal, penerbitan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI dan SBN ritel ikut menyedot likuiditas rupiah dari sistem perbankan.

Selain itu, sebagian dana masyarakat juga dikonversi ke valas.

Konversi itu dilakukan untuk kebutuhan hedging kewajiban luar negeri korporasi, pembayaran dividen investor asing, maupun antisipasi volatilitas nilai tukar.

Myrdal menilai penurunan DPK rupiah secara langsung mulai memberi tekanan terhadap likuiditas dan cost of fund perbankan.

Ketika DPK menyusut, loan to deposit ratio atau LDR perbankan otomatis meningkat.

Akibatnya, ruang likuiditas menjadi lebih sempit.

“Bank-bank, terutama di kelompok menengah ke bawah, akan cenderung merilis special rate deposito demi menahan deposan besar atau institusi. Peralihan dari dana murah ke dana mahal ini akan langsung mendongkrak cost of fund,” ujar Myrdal.

Menurut Myrdal, bank akan lebih selektif menyalurkan kredit baru jika tren outflow rupiah terus berlangsung tanpa pelonggaran likuiditas.

Bank juga cenderung memprioritaskan kualitas aset dibandingkan mengejar pertumbuhan volume kredit.

Kenaikan CoF juga akan menekan net interest margin atau NIM perbankan.

Untuk menjaga pertumbuhan CASA, Myrdal menilai bank perlu memperkuat transaction banking dan cash management system atau CMS.

Layanan tersebut perlu menjadi saluran utama transaksi operasional nasabah korporasi.

Selain itu, optimalisasi pembayaran lintas negara melalui Local Currency Settlement atau LCS dan interkoneksi sistem pembayaran regional dinilai dapat membantu memperkuat likuiditas transaksional di sistem perbankan.

Bank besar klaim likuiditas masih terjaga

Meski likuiditas mulai tertekan, sejumlah bank besar menilai kondisi saat ini masih relatif terjaga.

Head of Deposit Product Management Bank Mandiri Mega Ekaputri Pujianto mengatakan, penghimpunan DPK Bank Mandiri hingga April 2026 masih solid.

Total DPK Bank Mandiri tercatat di atas Rp 1,6 triliun dengan rasio CASA lebih dari 71 persen.

Menurut Mega, penurunan simpanan rupiah industri pada April terutama dipengaruhi faktor musiman.

Faktor tersebut meliputi pembayaran pajak dan dividen, serta pergeseran sebagian dana masyarakat ke instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

“Tekanan terhadap likuiditas maupun cost of fund masih relatif terbatas karena struktur pendanaan bank tetap kuat dan terdiversifikasi,” ujarnya.

Bank Mandiri akan terus memperkuat pertumbuhan dana murah melalui pengembangan ekosistem transaksi, layanan digital, payroll, dan transaction banking.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga CASA tetap kuat sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan juga menyebut kondisi likuiditas perseroan masih cukup baik.

Menurut dia, total DPK dan CASA CIMB Niaga secara bulanan relatif stabil, sedangkan secara tahunan masih tumbuh.

“CASA terutama tumbuh 14% secara tahunan per April. Secara likuiditas masih baik, tentu karena permintaan kredit juga masih lemah,” ujar Lani.

Lani mengatakan, CIMB Niaga tetap menjadikan CASA sebagai tulang punggung likuiditas.

Strategi tersebut dijalankan melalui operating account perusahaan, payroll, dan digital mass segment.

Laporan keuangan CIMB Niaga menunjukkan DPK perseroan per April 2026 tumbuh 3,72 persen secara tahunan menjadi Rp 259,86 triliun.

Komposisi DPK CIMB Niaga makin didominasi dana murah.

Giro tercatat sebesar Rp 101,99 triliun atau tumbuh 19,76 persen secara tahunan.

Tabungan mencapai Rp 90,33 triliun atau tumbuh 8,47 persen secara tahunan. Sementara itu, deposito turun 17,74 persen secara tahunan menjadi Rp 67,52 triliun.

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "Kredit Menganggur Kian Menumpuk, Bank Masih Tunggu Ekspansi Pelaku Usaha", Klik untuk baca: https://keuangan.kontan.co.id/news/kredit-menganggur-kian-menumpuk-bank-masih-tunggu-ekspansi-pelaku-usaha?source=home_headline.

Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Noverius Laoli

Tag:  #simpanan #rupiah #susut #1729 #triliun #likuiditas #bank #mulai #tertekan

KOMENTAR