Saat Bitcoin Anjlok, ETF Hyperliquid Justru Diburu Investor
– Ketika harga Bitcoin (BTC) dan Ether mengalami tekanan tajam, sebagian investor justru mengalihkan perhatian ke instrumen kripto yang relatif baru di Wall Street, yakni ETF Hyperliquid.
Produk exchange traded fund (ETF) yang melacak aset kripto Hyperliquid atau HYPE mencatat arus dana masuk hampir 160 juta dollar AS hanya dalam hitungan hari sejak diluncurkan.
Capaian tersebut kontras dengan ETF Bitcoin dan Ether yang mengalami penurunan seiring melemahnya harga aset kripto utama.
Baca juga: Pasar Kripto Hari Ini, Bitcoin, Ethereum Turun, USDC dan Tether Naik
Pada Mei 2026, Bitwise dan 21Shares meluncurkan ETF spot yang mengikuti indeks HYPE, aset digital yang berjalan di blockchain Hyperliquid. Produk tersebut diperdagangkan dengan kode BHYP dan THYP.
Hingga awal Juni, kedua ETF tersebut telah mengumpulkan aset kelolaan mendekati 150 juta dollar AS dan mayoritas mencatat arus dana masuk positif setiap hari perdagangan.
Sementara itu, Grayscale turut meramaikan pasar dengan meluncurkan Grayscale Hyperliquid Staking ETF (HYPG) pada Rabu (3/6/2026).
Mengutip CNBC, Minggu (7/6/2026), Chief Investment Officer Bitwise Matt Hougan menilai potensi pasar Hyperliquid masih sangat besar karena tingkat penetrasinya masih rendah.
“Ini adalah pasar yang baru menembus sekitar 1 persen dari potensi sebenarnya. Banyak orang bahkan belum mengetahui apa itu Hyperliquid,” ujarnya.
Baca juga: Bitcoin Bearish di Bawah 60.000 Dollar AS, Ethereum Ikut Anjlok
Apa itu Hyperliquid?
Hyperliquid merupakan bursa perpetual futures terdesentralisasi yang dibangun di atas teknologi blockchain dan beroperasi selama 24 jam.
Platform ini mulai mendapat perhatian luas sejak pertengahan 2025. Menurut Vice President dan Head of Macro 21Shares, Stephen Coltman, lonjakan aktivitas perdagangan terjadi ketika konflik Amerika Serikat-Iran mendorong pelaku pasar mencari akses perdagangan komoditas pada akhir pekan.
Volume perdagangan minyak mentah di platform tersebut bahkan sempat mencapai sekitar 1 miliar dollar AS per hari.
Popularitas Hyperliquid meningkat di tengah kondisi pasar kripto yang kurang bersahabat. ETF Bitcoin spot terus mengalami arus dana keluar, sementara iShares Bitcoin Trust ETF (IBIT) tercatat turun sekitar 16 persen dalam sepekan terakhir.
ETF Hyperliquid mencuri perhatian Wall Street dengan dana masuk hampir Rp 2,4 triliun saat ETF Bitcoin justru tertekan.
Baca juga: Bitcoin Tergelincir ke Level 62.750 Dollar AS, Pasar Masih Tertekan
Daya tarik model buyback
Pelaku industri menilai minat terhadap ETF Hyperliquid bukan semata-mata perpindahan dana dari Bitcoin ke aset kripto lain, melainkan karena investor melihat peluang baru yang berbeda dari aset digital pada umumnya.
Head of Research Grayscale Zach Pandl mengatakan Hyperliquid berhasil menarik investor yang sebelumnya tidak aktif di ekosistem kripto.
“Hyperliquid membawa investor baru dari luar ekosistem kripto ke aset digital ini. Karakter investornya berbeda dengan investor Bitcoin,” kata Pandl.
Salah satu faktor yang menarik perhatian investor adalah model bisnis Hyperliquid yang dianggap lebih mudah dipahami.
Sebagian besar token kripto memiliki hubungan yang tidak langsung dengan aktivitas ekonomi di platformnya. Namun, Hyperliquid menerapkan mekanisme berbeda.
Hougan menjelaskan, sekitar 99 persen biaya transaksi yang dihasilkan platform digunakan untuk membeli kembali token HYPE di pasar.
Baca juga: Apa Itu USDT? Stablecoin yang Banyak Dipakai Trader Kripto
Mekanisme tersebut menciptakan hubungan langsung antara aktivitas perdagangan dan nilai token yang dimiliki investor.
Menurut Coltman, skema tersebut mirip dengan praktik buyback saham yang lazim dilakukan perusahaan terbuka di pasar modal.
“Seluruh aktivitas perdagangan menghasilkan pendapatan yang kemudian digunakan untuk membeli kembali token,” ujarnya.
Jembatan antara keuangan tradisional dan DeFi
Selain model bisnisnya, ETF Hyperliquid juga dinilai memberikan akses yang lebih sederhana bagi investor yang ingin berinvestasi di aset digital tanpa harus membuat dompet kripto atau bertransaksi melalui bursa terdesentralisasi.
Per Jumat (5/6/2026), Grayscale Hyperliquid Staking ETF mengelola aset sekitar 4,5 juta dollar AS. Sementara itu, 21Shares Hyperliquid ETF memiliki aset kelolaan 75,8 juta dollar AS dan Bitwise Hyperliquid ETF sebesar 71,14 juta dollar AS.
Baca juga: Bursa Kripto CFX Gelar Konferensi, Bahas Masa Depan Aset Kripto Indonesia
Presiden NovaDius Wealth Management Nate Geraci menilai ETF kripto berperan sebagai penghubung antara sistem keuangan tradisional (TradFi) dan keuangan terdesentralisasi (DeFi).
Menurut dia, semakin banyak investor mengenal Hyperliquid melalui ETF, semakin besar pula peluang adopsi platform tersebut oleh masyarakat luas.
“ETF kripto spot menjadi jembatan penting antara TradFi dan DeFi. Terlepas dari seberapa besar irisan antara investor ETF dan pengguna Hyperliquid, produk ini jelas meningkatkan kesadaran terhadap platform tersebut,” kata Geraci.
Persaingan dan regulasi masih menjadi tantangan
Meski pertumbuhannya pesat, para pelaku industri mengingatkan bahwa Hyperliquid masih menghadapi sejumlah tantangan.
Tingkat pemahaman investor terhadap platform tersebut masih relatif rendah, sementara persaingan dari pemain keuangan tradisional maupun sektor keuangan terdesentralisasi diperkirakan akan semakin ketat.
Baca juga: AS Sita Aset Kripto Iran Rp 17,8 Triliun, Kini Bidik Vila dan Properti
Geraci menilai lingkungan regulasi yang semakin terbuka justru dapat mempercepat munculnya kompetitor baru.
Dari sisi biaya, Grayscale saat ini menawarkan rasio biaya terendah sebesar 0,29 persen, sedikit di bawah 21Shares sebesar 0,30 persen dan Bitwise sebesar 0,34 persen.
Saat ini, platform Hyperliquid masih belum tersedia bagi pengguna di Amerika Serikat. Namun, Pandl memperkirakan akses tersebut dapat memperoleh kejelasan regulasi dan mulai dibuka pada 2027.
Meski demikian, pertumbuhan cepat aset kelolaan ETF Hyperliquid menunjukkan bahwa sebagian investor tidak menunggu hingga regulasi tersebut sepenuhnya terwujud.
Tag: #saat #bitcoin #anjlok #hyperliquid #justru #diburu #investor