IHSG Ambles 1,70 Persen ke 5.839, Bos BEI Pastikan Fundamental Emiten Masih Kuat
Tekanan jual masih membayangi pasar saham Indonesia pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 101,28 poin atau 1,70 persen ke level 5.839,785.
IHSG tertekan sejak awal perdagangan setelah dibuka di level 5.919,565.
Aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat indeks sempat terperosok hingga menyentuh level terendah harian di 5.644,234.
Menjelang akhir perdagangan, IHSG memangkas sebagian besar pelemahannya.
Baca juga: IHSG Turun 206 Poin ke 5.734,256 Penutupan Sesi I, CUAN Perkasa
Indeks bahkan sempat bergerak ke area tertinggi harian di 5.924,508 sebelum akhirnya ditutup di zona merah.
Dominasi tekanan jual tercermin dari jumlah saham yang melemah mencapai 623 emiten.
Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat sebanyak 106 emiten.
Sebanyak 85 saham ditutup stagnan. Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai.
Volume transaksi mencapai 38,59 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 24,65 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 2,27 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di level Rp 10.284,95 triliun.
Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengimbau investor tetap mengambil keputusan investasi secara rasional dan berdasarkan fundamental perusahaan.
“Kami mencermati perkembangan pasar dalam dua hari ini. Kami dari Bursa Efek Indonesia ingin menyampaikan kembali bahwa kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada investor untuk dapat mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan juga berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing investor,” ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Kamis sore.
Baca juga: IHSG Ambles di Sesi I, Kurs Rupiah Rp 18.040 Picu Kekhawatiran Pasar
Jeffrey mengatakan terdapat tiga hal yang perlu menjadi perhatian investor dalam menyikapi kondisi pasar terkini.
Pertama, fundamental pasar modal Indonesia dinilai masih berada dalam kondisi baik.
Jeffrey mencatat, berdasarkan laporan keuangan seluruh emiten hingga akhir 2025, perusahaan tercatat membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen.
“Kalau kita mencermati laporan keuangan yang sudah disampaikan oleh seluruh emiten per akhir tahun 2025, seluruh perusahaan tercatat membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen,” paparnya.
Kinerja tersebut berlanjut pada kuartal I 2026.
Khusus emiten yang tergabung dalam indeks LQ45, pertumbuhan laba bersih tercatat hampir mencapai 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat perkembangannya sampai dengan kuartal pertama tahun 2026 dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2025, khususnya untuk saham-saham dalam kelompok LQ45, terjadi pertumbuhan laba bersih hampir 30 persen, tepatnya 29,9 persen,” kata Jeffrey.
Jeffrey juga menyoroti tingginya jumlah perusahaan tercatat yang membukukan laba bersih pada kuartal I 2026.
Menurut dia, sebanyak 80 persen perusahaan tercatat berhasil mencetak laba.
Angka tersebut menjadi persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Pada 2020, hanya sekitar 63 persen perusahaan tercatat yang membukukan laba bersih.
Pada periode 2021 hingga 2025, persentasenya berkisar 73 persen hingga 76 persen.
“Pada kuartal pertama tahun 2026, sebanyak 80 persen perusahaan tercatat membukukan laba bersih. Itu tentu menunjukkan bahwa fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini berada dalam kondisi yang baik. Tentu ini dapat dijadikan landasan dalam mengambil keputusan investasi,” lanjutnya.
Kedua, Jeffrey mengingatkan investor mengenai berbagai kebijakan yang masih berlaku untuk menjaga stabilitas pasar modal.
Salah satunya kebijakan buyback saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang masih berlaku.
Selain itu, penundaan pelaksanaan short selling juga masih diterapkan.
Ketiga, BEI meminta investor lebih berhati-hati terhadap informasi yang beredar di pasar.
Investor diminta memastikan setiap informasi telah diverifikasi sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan investasi.
“Kami tentu sangat berharap investor bisa mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat,” ujarnya.
Jeffrey juga menyinggung beredarnya tangkapan layar yang menyebut Indonesia akan ditempatkan dalam kategori frontier market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
BEI memastikan informasi tersebut tidak benar dan berpotensi menyesatkan pelaku pasar.
“Kemarin kita mengikuti bersama ada informasi yang tidak akurat beredar di pasar terkait tangkapan layar yang seolah-olah merupakan pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di frontier market. Ternyata itu adalah informasi yang salah,” katanya.
BEI kembali mengimbau investor selalu mengecek dan memverifikasi informasi yang beredar sebelum mengambil keputusan investasi.
Tag: #ihsg #ambles #persen #5839 #pastikan #fundamental #emiten #masih #kuat