OECD: Geopolitik Kini Jadi Penentu Utama Ekonomi Global
Tangkapan layar dari video militer Israel memperlihatkan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menghancurkan infrastruktur Hizbullah di Lebanon pada 27 April 2026, di tengah masa gencatan senjata kedua kubu.(MILITER ISRAEL via AFP)
16:12
4 Juni 2026

OECD: Geopolitik Kini Jadi Penentu Utama Ekonomi Global

– Selama beberapa tahun terakhir, arah ekonomi global banyak ditentukan oleh kebijakan bank sentral.

Kenaikan dan penurunan suku bunga menjadi faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar, investor, maupun pemerintah dalam membaca prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Namun, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) melihat lanskap tersebut berubah pada 2026.

Baca juga: Perang Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 2 Persen

Seorang pria yang membawa bungkusan di pundaknya berjalan melewati papan reklame besar yang menampilkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di sebuah jalan di Teheran pada 20 April 2026.ATTA KENARE Seorang pria yang membawa bungkusan di pundaknya berjalan melewati papan reklame besar yang menampilkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di sebuah jalan di Teheran pada 20 April 2026.

Dalam laporan OECD Economic Outlook: Under Pressure yang dirilis pada Rabu (3/6/2026), lembaga tersebut menilai konflik di Timur Tengah kini menjadi faktor dominan yang membentuk prospek ekonomi global.

Perubahan ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik kembali menjadi penentu utama arah ekonomi dunia.

Gangguan pasokan energi, terganggunya jalur perdagangan internasional, hingga kenaikan harga komoditas menjadi ancaman yang dampaknya menjalar ke berbagai negara, termasuk negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Dalam laporan tersebut, Kepala Ekonom OECD Stefano Scarpetta menyebut ekonomi dunia sebenarnya memasuki 2026 dengan kondisi yang lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Baca juga: Rupiah Kian Terpuruk, Analis Sebut Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

"Perekonomian dunia memasuki tahun 2026 lebih kuat dari yang diperkirakan banyak pihak. Aktivitas ekonomi menunjukkan ketahanan yang cukup besar yang didukung oleh investasi yang kuat dalam kecerdasan buatan, kondisi keuangan yang mendukung, dan meredanya ketegangan perdagangan. Prospek pertumbuhan global tampak siap untuk revisi ke atas yang signifikan," tulis Scarpetta.

Seorang wanita Iran berjalan melewati mural anti-AS dan anti-Israel di Teheran pada 21 April 2026, di tengah gencatan senjata di wilayah tersebut.ATTA KENARE Seorang wanita Iran berjalan melewati mural anti-AS dan anti-Israel di Teheran pada 21 April 2026, di tengah gencatan senjata di wilayah tersebut.

Namun kondisi tersebut berubah setelah konflik di Timur Tengah meningkat dan mengganggu pengiriman barang melalui Selat Hormuz.

Konflik Timur Tengah menjadi sumber tekanan baru

OECD menilai gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz serta kerusakan infrastruktur energi telah memicu lonjakan harga energi global.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Teluk, tetapi juga menjalar ke seluruh dunia melalui perdagangan internasional dan rantai pasok global.

Baca juga: Krisis Timur Tengah Dorong Dunia Kembali Andalkan Batu Bara

"Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, bersamaan dengan kerusakan infrastruktur energi, telah memicu kenaikan tajam harga energi dan meningkatkan biaya pupuk serta input industri penting lainnya," tulis OECD.

Kenaikan harga energi tersebut kemudian mendorong kenaikan biaya produksi, meningkatkan tekanan inflasi, melemahkan kepercayaan konsumen dan dunia usaha, serta menekan aktivitas ekonomi.

OECD mencatat konflik tersebut terjadi ketika ekonomi global sebenarnya sedang memperoleh dorongan dari investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kondisi keuangan yang masih mendukung, serta meredanya ketegangan perdagangan internasional.

Namun, faktor-faktor positif tersebut kini harus berhadapan dengan risiko geopolitik yang jauh lebih besar.

Baca juga: Harga Emas Dunia Stabil, Pasar Cermati Ketidakpastian Akhir Perang Timur Tengah

Dalam penilaian OECD, dampak ekonomi konflik tidak akan langsung hilang meskipun konflik berakhir.

Kerusakan infrastruktur energi dan transportasi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki sehingga gangguan terhadap perdagangan dan pasokan komoditas masih akan terasa setelah konflik mereda.

Dunia terlalu bergantung pada Timur Tengah

Besarnya dampak konflik tidak terlepas dari peran penting kawasan Teluk Persia dalam ekonomi global.

Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran. Apa Isi Proposal Terbaru Iran ke AS untuk Mengakhiri Perang?TASNIM/MEYSAM MIRZADEH via AFP Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran. Apa Isi Proposal Terbaru Iran ke AS untuk Mengakhiri Perang?

Menurut OECD, kawasan tersebut merupakan pemasok utama berbagai komoditas strategis dunia, mulai dari minyak mentah, gas alam cair (LNG), pupuk, sulfur, helium, hingga berbagai bahan baku petrokimia.

Baca juga: Harga Minyak Naik Imbas Konflik di Timur Tengah, EV Kian Laku

Gangguan produksi dan ekspor dari kawasan tersebut menyebabkan harga berbagai komoditas melonjak tajam sejak Februari 2026.

OECD mencatat produksi minyak dari negara-negara Teluk turun sekitar 45 persen pada April 2026. Sementara itu, ekspor LNG dari kawasan tersebut juga terhenti akibat kerusakan fasilitas produksi, terutama di Qatar.

Pasokan gas global diperkirakan sekitar 15 persen lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Tidak hanya energi, pasokan berbagai input industri penting juga terganggu.

Baca juga: Harga Minyak Mentah RI Melonjak Jadi 117 Dollar AS Per Barrel Imbas Konflik Timur Tengah

"Terjadi juga pengurangan pasokan banyak input industri lainnya yang berasal dari ekstraksi hidrokarbon, termasuk pupuk, helium, sulfur, dan senyawa petrokimia," tulis OECD.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi dunia masih sangat bergantung pada satu kawasan yang memiliki peran strategis dalam rantai pasok global.

Asia menjadi kawasan paling rentan

OECD menilai dampak konflik akan terasa di seluruh dunia, tetapi negara-negara Asia menghadapi risiko yang lebih besar karena ketergantungan mereka terhadap impor energi dari Timur Tengah.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa banyak negara Asia merupakan pihak yang paling terpapar terhadap gangguan pasokan energi dan bahan baku dari kawasan Teluk.

Baca juga: Harga Minyak Mentah RI Melonjak Jadi 117 Dollar AS Per Barrel Imbas Konflik Timur Tengah

Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.

Selain ketergantungan langsung terhadap impor minyak dan gas, negara-negara Asia juga menghadapi risiko melalui keterkaitan rantai pasok global.

OECD juga mencatat, beberapa negara Asia memiliki cadangan energi yang relatif terbatas dibandingkan kebutuhan impornya sehingga lebih rentan terhadap gangguan pasokan berkepanjangan.

Jika konflik berlangsung lebih lama, risiko kelangkaan energi dan bahan baku industri akan semakin besar.

"Banyak perekonomian Asia akan terpukul keras dalam skenario ini, yang mencerminkan ketergantungan besar mereka pada pasokan energi dari Timur Tengah," ungkap OECD terkait skenario gangguan berkepanjangan.

Baca juga: IMF: Ekonomi Singapura Melambat akibat Perang Timur Tengah

Suku bunga bukan lagi satu-satunya penentu

Dalam situasi normal, bank sentral dapat menggunakan instrumen suku bunga untuk mengendalikan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi.

Namun OECD menilai lonjakan harga yang dipicu gangguan pasokan energi berbeda dengan inflasi yang berasal dari tingginya permintaan masyarakat.

Karena itu, ruang gerak bank sentral menjadi lebih terbatas.

"Bank sentral dapat mengabaikan kenaikan harga yang didorong oleh penawaran selama ekspektasi inflasi tetap terkendali dan efek putaran kedua dapat diatasi," terang Scarpetta.

Baca juga: IATA: Trafik Penumpang Pesawat Global Merosot Imbas Konflik Timur Tengah

OECD menilai kebijakan moneter mungkin tidak cukup efektif untuk mengatasi dampak konflik geopolitik yang berasal dari sisi pasokan. Jika gangguan berlangsung lama, tantangan yang dihadapi bukan hanya inflasi, tetapi juga perlambatan ekonomi secara bersamaan.

Dalam skenario gangguan berkepanjangan, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya mencapai 2,1 persen pada 2026 dan melambat lagi menjadi 1,8 persen pada 2027.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong beberapa negara masuk atau mendekati resesi. Tingkat pengangguran juga diperkirakan meningkat, sementara investasi melemah.

Pada saat yang sama, inflasi global justru meningkat akibat kenaikan harga energi dan komoditas.

Baca juga: IEA: Industri Petrokimia dan Penerbangan Paling Terdampak Konflik Timur Tengah

OECD memperkirakan inflasi global dapat bertambah 0,4 poin persentase pada 2026 dan 1,3 poin persentase pada 2027 dibandingkan skenario gangguan yang lebih singkat.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa keputusan suku bunga tidak lagi menjadi satu-satunya faktor yang menentukan arah ekonomi dunia.

Risiko geopolitik mengubah peta ekonomi global

Sebelum konflik meningkat, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia masih akan didukung oleh investasi AI, perdagangan teknologi, serta menurunnya ketidakpastian kebijakan perdagangan.

Bahkan perdagangan terkait AI disebut menjadi salah satu motor utama pertumbuhan global, terutama di Asia.

Baca juga: IEA: Cadangan Minyak Dunia Terus Menipis akibat Konflik Timur Tengah

Namun konflik di Timur Tengah mengubah arah tersebut.

OECD memperingatkan, gangguan pasokan energi juga berpotensi menghambat investasi AI karena infrastruktur kecerdasan buatan membutuhkan energi dalam jumlah besar dan bergantung pada berbagai komponen yang rantai pasoknya terkait dengan kawasan Teluk.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga berpotensi memicu penyesuaian besar di pasar keuangan global, meningkatkan biaya pembiayaan, dan memperlemah investasi.

Menurut OECD, tantangan ini menunjukkan pentingnya membangun ketahanan ekonomi jangka panjang.

Baca juga: Asia Terjepit Krisis Energi akibat Konflik Timur Tengah

"Kerentanan perekonomian kita terhadap satu titik hambatan tunggal menunjukkan perlunya mengintensifkan upaya untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan, dalam hal ini, khususnya untuk mendiversifikasi pasokan energi, dan untuk meningkatkan efisiensi energi," jelas Scarpetta.

Laporan OECD memperlihatkan pada 2026, arah ekonomi global tidak lagi hanya ditentukan oleh keputusan bank sentral mengenai suku bunga.

Konflik geopolitik, keamanan energi, ketahanan rantai pasok, dan stabilitas perdagangan internasional kini menjadi faktor yang sama pentingnya dalam menentukan pertumbuhan, inflasi, serta prospek ekonomi dunia.

Tag:  #oecd #geopolitik #kini #jadi #penentu #utama #ekonomi #global

KOMENTAR