Dollar Hari Ini Tembus Rp 18.000, Ini Penyebab Rupiah Terpuruk ke Level Terendah
Ilustrasi Sejarah Nilai Tukar Rupiah: Perjalanan Mata Uang Indonesia hingga 2026(canva.com)
11:36
4 Juni 2026

Dollar Hari Ini Tembus Rp 18.000, Ini Penyebab Rupiah Terpuruk ke Level Terendah

Nilai tukar rupiah hari ini kembali menjadi sorotan setelah sempat menembus level psikologis Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS), sebuah posisi yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.

Berdasarkan data Investing, pada Kamis (4/6/2026) sekitar pukul 06.45 WIB, dollar hari ini tercatat berada di level Rp 18.015 per dollar AS. Sementara itu, data Google Finance menunjukkan kurs dolar ke rupiah sempat menyentuh Rp 18.022 per dollar AS pada malam sebelumnya.

Baca juga: Cara Cek Desil Kemensos Juni 2026 Lewat HP, Cek Apakah Nama Anda Masuk Penerima Bansos

Meski demikian, seiring berjalannya perdagangan, nilai tukar dollar ke rupiah hari ini perlahan bergerak turun kembali ke kisaran Rp 17.900 per dollar AS.

Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.966,5 per dollar AS, melemah 127,5 poin atau 0,71 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Lantas, apa yang membuat kurs dollar ke rupiah hari ini terus berada di bawah tekanan?

Baca juga: Kenapa Rupiah Terus Melemah? Ini Penyebab dan Dampaknya bagi Harga Barang hingga PHK

Rupiah tertekan oleh faktor global dan domestik

Chief Economist Bank Tabungan Negara Myrdal Gunarto menjelaskan, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga sejumlah kondisi di dalam negeri.

Mengutip data Bloomberg, pada Kamis (4/6/2026) pukul 09.30 WIB, kurs USD IDR berada di level Rp 18.028 per dollar AS, melemah 62 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Menurut Myrdal, tekanan terhadap rupiah hari ini berasal dari kombinasi keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia, berkurangnya pasokan valuta asing (valas) domestik, hingga meningkatnya ketidakpastian global.

Baca juga: Bansos PKH-BPNT Juni 2026 Sudah Cair, Cek Apakah Nama Anda Terdaftar

Investor global tinggalkan emerging market

Salah satu faktor utama yang menekan harga dolar hari ini terhadap rupiah adalah perpindahan dana investor global dari negara berkembang (emerging market) ke negara maju (developed market).

Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia, investor cenderung mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman.

"Makanya kita lihat indeks di negara-negara maju, untuk indeks saham ya, banyak yang all time high. Dan kalau kita lihat kondisi ini merupakan refleksi dari aksi investor untuk cari aman di tengah kondisi global geopolitik yang kurang kondusif," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Seri SBN 2026 dan Jadwal Penerbitannya, Mana yang Paling Cocok untuk Anda?

Selain kondisi global, investor asing juga disebut memperhatikan sejumlah perkembangan kebijakan di dalam negeri.

"Baik itu ada sorotan dari lembaga rating ataupun juga adanya sorotan dari investor global mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah yang terbaru," ucapnya.

Baca juga: Daftar Pinjol Resmi OJK Juni 2026 Terbaru, Cek Sebelum Ajukan Pinjaman

ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Dolar ke rupiah. Dollar ke rupiah. Rupiah ke dollar. 1 dolar berapa rupiah hari ini.ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Dolar ke rupiah. Dollar ke rupiah. Rupiah ke dollar. 1 dolar berapa rupiah hari ini.

Arus keluar dana asing masih besar

Tekanan terhadap dollar to rupiah juga diperparah oleh derasnya arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia.

Myrdal mengungkapkan, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai sekitar 478,5 juta dollar AS. Sementara pada Selasa (2/6/2026), arus keluar dana asing masih berlanjut sebesar 78,13 juta dollar AS.

Baca juga: Tabel KUR BRI Juni 2026 Pinjaman Rp 1 Juta-Rp 100 Juta, Berapa Cicilan Per Bulannya?

Ia juga menyoroti aksi jual investor asing pada 28 Mei 2026 yang banyak terjadi pada saham-saham konglomerasi dan saham yang terkait dengan penyesuaian komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

"Terutama untuk saham-saham konglomerat ataupun juga saham-saham yang terkait dengan pelepasan posisi MSCI," kata Myrdal.

Baca juga: Tarif Pasang Baru PLN Juni 2026, Biaya Penyambungan Listrik 450 VA hingga 3.500 VA

Konflik Timur Tengah dorong dollar AS menguat

Di sisi lain, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menilai pelemahan dollar ke rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, khususnya konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Ia bahkan sebelumnya memperkirakan rupiah berpotensi menembus Rp 18.000 per dollar AS apabila ketegangan antara AS dan Iran terus berlanjut.

"Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (Pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres," kata Ariston kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: BPNT Juni 2026 Rp 600.000 Sudah Cair, Cek Nama Anda Sekarang

Menurut Ariston, konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat investor global terus memburu dollar AS sebagai aset aman atau safe haven.

"Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dollar AS meningkat sehingga nilai tukar dolar ke rupiah semakin tertekan.

Baca juga: Daftar Harga BBM Pertamina per 1 Juni 2026: Dexlite Turun, Pertamax Turbo Naik

Ilustrasi rupiah, dolar, dollar hari ini, dolar ke rupiah.ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Ilustrasi rupiah, dolar, dollar hari ini, dolar ke rupiah.

Musim dividen ikut menekan rupiah

Selain arus keluar modal asing, pelemahan rupiah ke dollar juga dipengaruhi faktor musiman berupa pembayaran dividen perusahaan kepada pemegang saham.

Setelah musim rapat umum pemegang saham (RUPS), kebutuhan valuta asing biasanya meningkat karena banyak perusahaan harus menyediakan dollar AS untuk membayar dividen kepada investor asing.

"Kalau kita lihat ada faktor musiman lah ini seperti dividen, ini masih ada," ujarnya.

Meningkatnya permintaan valas di dalam negeri membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar.

Baca juga: Selat Hormuz Resmi Ditutup, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Harga minyak naik dan pasokan valas menipis

Faktor lain yang membebani kurs dollar ke rupiah hari ini adalah kenaikan harga minyak dunia.

Ariston menjelaskan, konflik di Timur Tengah telah mendorong harga energi global meningkat. Pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu (3/6/2026) pagi WIB, harga minyak mentah Brent naik 1,02 dollar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dollar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,60 dollar AS atau 1,7 persen menjadi 93,76 dollar AS per barel.

Baca juga: Cara Cek PIP Juni 2026 Lewat HP, Cek Status Penerima dan Pencairan Bantuan

Ilustrasi harga minyak dunia. FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.

Menurutnya, kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor energi.

"Kenaikan harga minyak ini juga mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi yang juga membebani perekonomian Indonesia," ucapnya.

Myrdal menambahkan, tekanan terhadap rupiah semakin besar karena surplus neraca perdagangan Indonesia mulai menipis.

Pada April 2026, surplus perdagangan hanya sekitar 89 juta dollar AS.

Baca juga: Kalender Juni 2026 Lengkap, Cek Tanggal Merah dan Jadwal Liburnya

"Makanya kenapa kemarin dari sisi trade surplus juga tipis banget, bulan April itu hanya sekitar 89 juta dollar AS. Jadi memang supply valas domestik juga kelihatannya ini sedang beratnya karena trade surplus kita juga sekarang lebih tipis," tuturnya.

Tipisnya surplus perdagangan membuat pasokan valuta asing di dalam negeri berkurang sehingga mempersempit ruang penguatan rupiah.

Baca juga: Gaji Ke-13 Mulai Cair 2 Juni 2026, Ini Jadwal, Penerima, dan Komponennya

1 dolar berapa rupiah hari ini?

Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (4/6/2026), 1 dolar berapa rupiah hari ini? Nilai tukarnya sempat mencapai kisaran Rp 18.015-Rp 18.028 per dollar AS, sebelum bergerak kembali ke area Rp 17.900 per dollar AS.

Ke depan, para ekonom menilai arah pergerakan USD IDR masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik global, arus modal asing, harga minyak dunia, serta kondisi pasokan valas di dalam negeri.

Ariston menegaskan, peluang penguatan rupiah akan lebih terbuka apabila ketegangan antara AS dan Iran mereda.

"Kuncinya di perdamaian AS Iran untuk memicu pelemahan dollar AS," sebut dia.

Baca juga: Harga Token Listrik 2-7 Juni 2026, Beli Rp 100.000 Dapat Berapa kWh?

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah" dan "Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Ekonom Ungkap Penyebab Utamanya".

Tag:  #dollar #hari #tembus #18000 #penyebab #rupiah #terpuruk #level #terendah

KOMENTAR