IHSG Terpuruk dan Rupiah Melemah: Ada Apa dengan Indonesia?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
08:12
4 Juni 2026

IHSG Terpuruk dan Rupiah Melemah: Ada Apa dengan Indonesia?

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada perdagangan kemarin Rabu (3/6/2026).

Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, IHSG kemarin sempat anjlok ke level dekat 5.882 atau kembali ke level terendah 2025.

Sementara itu, nilai tukar rupiah menembus Rp 17,950 per dollar AS dan disertai dengan investor asing (foreign investors) yang melakukan jual bersih (net sell) Rp 66,20 triliun sepanjang tahun berjalan.

Kondisi ini terasa semakin kontras ketika beberapa bursa global justru masih mampu catatkan rekor baru masing-masing.

Baca juga: IHSG Ambruk 4 Persen: Rupiah, Moody’s, dan Investor Asing Jadi Pemicu

"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar dia dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).

Sedikit catatan, IHSG kemarin ditutup ambruk 4,11 persen atau setara 254,36 poin ke level 5.941,066, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 5.841,996.

Sejak awal perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona merah dan tidak mampu keluar dari tekanan hingga akhir sesi.

Indeks dibuka pada posisi 6.207,102 dan hanya sempat menyentuh area tertinggi di 6.213,801.

Liza menjabarkan, sekurang-kurangnya terdapat lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor saat ini.

Kekhawatiran pertama adalah tata kelola dan kredibilitas kebijakan usai outlook negatif dari Moody's dan Fitch yang diikuti dengan tekanan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dollar AS.

Kondisi tersebut diperparah dengan arus modal asing yang terus keluar dari pasar domestik.

Di sisi lain, terjadi penyusutan kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik.

"Serta yang paling hot atau viral belakangan ini adalah meningkatnya leadership and policy communication risk di mata investor global," ucap dia.

Meskipun demikian, Liza bilang, Indonesia belum memasuki fase penurunan peringkat secara struktural atau fase structural de-rating.

"Mungkin saja, tetapi belum tentu," ucap dia.

Kondisi itu dapat dilihat dari pasar yang terlihat mulai memperlakukan Indonesia dengan berbeda dibanding emerging markets lain.

Berdasarkan catatannya, EIDO (Indonesia ETF/Exchange-Traded Fund) mencatat return -28,6 persen sejak awal 2025.

EIDO kerap dianggap sebagai indikator minat investor asing terhadap pasar modal Indonesia.

Sementara itu pasar negara berkembang (emerging markets) naik 64,6 persen dengan Vietnam sebesar 63,2 persen dan Taiwan 107,2 persen.

Sedangkan Amerika Serikat juga menguat 30,9 persen.

"Dengan kata lain, investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets, mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia," ucap dia.

Baca juga: IHSG Anjlok 4 Persen, Asing Jual Bersih Rp 864 Miliar

Penentu arah selanjutnya

Liza mengungkapkan, fokus investor kini bergeser pada periode dua minggu paling krusial tahun ini.

Pasalnya, pada 19 Juni 2026 akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review.

Pada awal pekan berikutnya akan terdapat FTSE Rebalancing efektif 22 Juni 2026.

Kemudian, pada pekan yang sama terdapat pula MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.

"Setelah Moody's dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia," ungkap dia.

Potensi keuntungan tersembunyi

Salah satu hal yang menarik bagi Liza, dalam enam bulan terakhir hampir seluruh berita buruk yang dapat dibayangkan investor sebenarnya sudah terjadi.

Peristiwa tersebut meliputi pelemahan nilai tukar rupiah diikuti arus dana asing keluar (foreign outflow) yang meningkat.

Selain itu, lembaga pemeringkat seperti Moody's dan Fitch juga telah mengeluarkan prospek yang negatif diikuti oleh kekhawatiran terhadap S&P yang meningkat.

Tak hanya itu, indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) juga telah melakukan peninjauan ulang (review) terhadap Indonesia.

Kendati demikian, hingga saat ini Indonesia masih mempertahankan status investment grade. Sedangkan, S&P masih mempertahankan outlook stabil.

Di samping itu, MSCI belum mengubah klasifikasi Indonesia, dan FTSE juga belum menempatkan Indonesia dalam downgrade watch list.

Menurut Liza, kondisi itu berarti sebagian risiko yang saat ini ditakuti pasar masih berupa kemungkinan, bukan fakta yang telah terjadi.

"Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak suka muncul tiba-tiba secara misterius dan seringkali malah memberikan another blow to the market," ungkap dia.

Sementara pasar masih mencerna implementasi awal Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), ada lagi aturan baru pajak untuk UMKM.

Liza berpandangan, saat ini pasar tidak lagi mencari alasan untuk menjual.

Sebaiknya, pasar sedang mencari alasan untuk berhenti menjual.

Dalam jangka pendek, FTSE dan MSCI kemungkinan akan menjadi ujian terpenting berikutnya.

"Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi mengapa IHSG jatuh?, melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif, atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya," ungkap dia.

Tekanan global ke pasar Asia

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menjelaskan, pasar Asia bergerak beragam karena meningkatnya kekhawatiran setelah tarif baru diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) mengusulkan tarif tambahan hingga 12,5 persen terhadap 60 mitra dagang karena dianggap gagal melarang barang yang menggunakan tenaga kerja paksa, termasuk Uni Eropa, China, dan Jepang.

"Para pelaku pasar juga terus melanjutkan perkembangan konflik AS-Iran setelah ketegangan kembali meningkat," ungkap dia.

Washington menuduh Teheran melancarkan serangan baru meskipun gencatan senjata masih berlaku.

Sedangkan di dalam negeri, IHSG melemah setelah surplus neraca perdagangan pada bulan April menyusut ke level terendah sejak 2020, sehingga mengurangi dukungan dari aliran devisa hasil ekspor.

Selain itu, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,08 persen pada Mei dari 2,42 persen pada bulan April, didorong oleh kenaikan harga pangan dan biaya transportasi.

Risiko inflasi masih berpotensi datang dari kenaikan harga energi global serta gangguan cuaca terkait El Niño.

Hal ini juga diperparah dengan sentimen negatif saat Moody's Ratings menetapkan peringkat kredit Baa2 dengan Outlook negatif untuk PT Danantara Investment Management (DIM), sejalan dengan peringkat Sovereign Indonesia.

Arus deras modal asing keluar

Tak hanya itu, aksi jual investor asing juga membebani pasar saham Indonesia pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Di tengah anjloknya IHSG sebesar 4,11 persen ke level 5.941, investor asing membukukan jual bersih atau net sell senilai Rp 864 miliar.

Tekanan jual terbesar terjadi pada saham perbankan dan sejumlah saham yang terdampak rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan penjualan bersih terbesar oleh investor asing, mencapai Rp 686 miliar.

Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga tidak luput dari tekanan dengan net sell asing sebesar Rp 428 miliar.

Di posisi berikutnya ada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mencatat penjualan bersih Rp 361 miliar.

Investor asing juga melepas saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai Rp 183 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 106 miliar.

Meski secara agregat mencatatkan net sell, investor asing masih melakukan akumulasi pada sejumlah saham berbasis komoditas.

Baca juga: IHSG Terjun ke Bawah 5.900, Saham Konglomerasi Jadi Biang Kerok

Tag:  #ihsg #terpuruk #rupiah #melemah #dengan #indonesia

KOMENTAR