10 Komoditas Ekspor Terbesar Indonesia Januari-April 2026, Sawit Teratas
– Kinerja ekspor Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan pada empat bulan pertama 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia periode Januari–April 2026 mencapai 92,15 miliar dollar AS atau meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 87,36 miliar dollar AS.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai 87,74 miliar dollar AS atau tumbuh 6,28 persen secara tahunan.
Baca juga: Harga Ekspor Indonesia Melesat, Komoditas Tambang Jadi Motor Utama
Ilustrasi ekspor.
BPS menyebutkan, dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar selama Januari–April 2026, komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang nilai ekspor terbesar sekaligus mencatat kenaikan nilai tertinggi.
Sebaliknya, bahan bakar mineral menjadi komoditas dengan penurunan terbesar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sepuluh komoditas utama tersebut menyumbang 65,10 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia selama Januari–April 2026.
Secara keseluruhan, nilai ekspor dari kelompok sepuluh komoditas tersebut mencapai 57,13 miliar dollar AS atau naik 9,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Misbakhun: Tata Kelola Ekspor SDA Penting untuk Pertebal Cadangan Devisa
1. Lemak dan minyak hewani/nabati masih mendominasi
Komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, yang di dalamnya termasuk minyak sawit dan turunannya, masih menjadi primadona ekspor Indonesia.
Nilai ekspor kelompok barang ini mencapai 11,82 miliar dollar AS selama Januari–April 2026. Angka tersebut meningkat 18,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 9,95 miliar dollar AS.
Ilustrasi minyak kelapa sawit.
BPS mencatat komoditas ini menjadi penyumbang kenaikan ekspor terbesar dengan tambahan nilai mencapai 1,87 miliar dollar AS dibandingkan Januari–April 2025.
Kontribusi kelompok barang ini terhadap total ekspor nonmigas mencapai 13,47 persen, menjadikannya komoditas ekspor terbesar Indonesia pada awal 2026.
Baca juga: Tiga Kali Revisi, Aturan Wajib Parkir Devisa Hasil Ekspor Kian Melonggar?
2. Bahan bakar mineral tetap besar meski menurun
Posisi kedua ditempati bahan bakar mineral dengan nilai ekspor 10,14 miliar dollar AS.
Meski masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar, nilai ekspor komoditas ini turun 3,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 10,51 miliar dollar AS.
BPS menyebut bahan bakar mineral menjadi komoditas dengan penurunan nilai ekspor terbesar, yakni sebesar 372,3 juta dollar AS.
Meski demikian, kontribusi bahan bakar mineral terhadap total ekspor nonmigas masih mencapai 11,56 persen.
Baca juga: Ekspor Indonesia Naik 21,98 Persen pada April 2026, Ditopang Nikel dan CPO
3. Besi dan baja bertahan di tiga besar
Komoditas besi dan baja menempati posisi ketiga dengan nilai ekspor 9,03 miliar dollar AS pada Januari–April 2026. Nilai tersebut meningkat 2,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,81 miliar dollar AS.
Kontribusi besi dan baja terhadap total ekspor nonmigas mencapai 10,30 persen. Produk ini juga menjadi salah satu komoditas utama yang diekspor ke pasar China.
4. Produk elektronik terus tumbuh
Kelompok mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya berada di posisi keempat dengan nilai ekspor 6,17 miliar dollar AS. Dibandingkan Januari–April 2025, ekspor kelompok barang ini meningkat 6,59 persen dari 5,79 miliar dollar AS.
Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.
Komoditas ini menyumbang 7,03 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Baca juga: Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
5. Nikel mencatat lonjakan tertinggi kedua
Nikel dan barang daripadanya menjadi salah satu komoditas dengan pertumbuhan paling impresif. Nilai ekspornya mencapai 4,30 miliar dollar AS, melonjak 63,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 2,62 miliar dollar AS.
Menurut BPS, kenaikan nilai ekspor nikel mencapai 1,68 miliar dollar AS, menjadikannya komoditas dengan peningkatan terbesar kedua setelah lemak dan minyak hewani/nabati.
Kinerja nikel juga disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan ekspor sektor industri pengolahan pada Januari–April 2026.
6. Kendaraan dan bagiannya terus meningkat
Ekspor kendaraan dan bagiannya mencapai 4,14 miliar dollar AS selama Januari–April 2026. Nilai ini meningkat 13,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,64 miliar dollar AS.
Baca juga: China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
BPS mencatat kenaikan nilai ekspor kelompok barang ini mencapai 506,4 juta dollar AS. Kontribusinya terhadap total ekspor nonmigas mencapai 4,72 persen.
7. Berbagai produk kimia menunjukkan pertumbuhan kuat
Kelompok berbagai produk kimia mencatat nilai ekspor sebesar 3,39 miliar dollar AS. Angka ini meningkat 17,16 persen dibandingkan Januari–April 2025 yang sebesar 2,89 miliar dollar AS.
Peningkatan nilai ekspornya mencapai 496,4 juta dollar AS dengan kontribusi sebesar 3,86 persen terhadap total ekspor nonmigas.
ilustrasi ekspor.
8. Mesin dan peralatan mekanis ikut menguat
Mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya menempati posisi kedelapan dengan nilai ekspor 2,80 miliar dollar AS.
Baca juga: Ekspor Ferro Nikel Diatur, Airlangga Sebut Ekosistem EV Tetap Aman
Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai ekspor kelompok ini meningkat 20,25 persen dari 2,33 miliar dollar AS.
BPS mencatat kenaikan nilai ekspor kelompok barang ini mencapai 471,8 juta dollar AS. Kontribusinya terhadap total ekspor nonmigas mencapai 3,19 persen.
9. Logam mulia dan perhiasan justru melemah
Di tengah tren kenaikan sejumlah komoditas utama, logam mulia dan perhiasan/permata menjadi salah satu komoditas yang mengalami penurunan.
Nilai ekspornya tercatat 2,74 miliar dollar AS, turun 9,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 3,02 miliar dollar AS.
Baca juga: Pengusaha Minta Operasional DSI Transparan, Jangan Tambah Beban Biaya Ekspor
BPS menyebut penurunan nilai ekspor kelompok barang ini mencapai 284 juta dollar AS. Meski turun, kontribusinya terhadap total ekspor nonmigas masih sebesar 3,12 persen.
10. Alas kaki menutup daftar komoditas utama
Komoditas alas kaki berada di urutan kesepuluh dengan nilai ekspor 2,59 miliar dollar AS. Nilai tersebut meningkat 6,78 persen dibandingkan Januari–April 2025 yang sebesar 2,43 miliar dollar AS.
Kenaikan nilai ekspor alas kaki mencapai 164,6 juta dollar AS dengan kontribusi sebesar 2,95 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Industri pengolahan menjadi penopang ekspor Indonesia
Ilustrasi manufaktur, industri manufaktur.
Di luar kinerja masing-masing komoditas, BPS mencatat sektor industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor Indonesia sepanjang Januari–April 2026.
Baca juga: Pengusaha Kompak Minta Pemerintah Jamin Kepastian Hukum dalam Tata Kelola Ekspor SDA
Nilai ekspor sektor ini mencapai 75,57 miliar dollar AS atau naik 9,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kontribusinya mencapai 82,01 persen terhadap total ekspor nasional.
BPS menyatakan peningkatan ekspor industri pengolahan tersebut disumbang oleh meningkatnya ekspor nikel.
Pada April 2026, kenaikan ekspor industri pengolahan juga didorong oleh peningkatan ekspor minyak kelapa sawit.
Sementara itu, ekspor produk pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 26,27 persen menjadi 1,60 miliar dollar AS akibat menurunnya ekspor kopi.
Baca juga: Purbaya soal Ekspor via PT DSI: Bukan Program Main-main, Presiden Prabowo Awasi Detail
Ekspor produk pertambangan dan lainnya juga turun 8,44 persen menjadi 10,58 miliar dollar AS yang disebabkan oleh menurunnya ekspor batubara.
Secara keseluruhan, nilai ekspor nonmigas Indonesia selama Januari–April 2026 mencapai 87,74 miliar dollar AS.
Dari total tersebut, sepuluh komoditas utama menyumbang lebih dari dua pertiga nilai ekspor nonmigas, dengan lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja menjadi tiga komoditas terbesar selama empat bulan pertama tahun ini.
Tag: #komoditas #ekspor #terbesar #indonesia #januari #april #2026 #sawit #teratas