Produksi Beras Masih Naik, Mengapa Hasil Panen April 2026 Justru Turun?
Ilustrasi beras.(SHUTTERSTOCK/GOLVR)
16:20
2 Juni 2026

Produksi Beras Masih Naik, Mengapa Hasil Panen April 2026 Justru Turun?

- Produksi beras nasional sepanjang empat bulan pertama 2026 masih menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, capaian pada April 2026 justru mengalami penurunan cukup dalam seiring berkurangnya luas panen padi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada Januari-April 2026 mencapai 14,03 juta ton. Angka ini naik tipis 0,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 14,01 juta ton.

Baca juga: Produksi Beras Naik, Tapi Panen Padi April 2026 Turun 15 Persen

Ilustrasi padiDuc Nguyen Van/Pixabay Ilustrasi padi

Meski demikian, produksi beras pada April 2026 tercatat hanya 4,40 juta ton. Jumlah tersebut turun 0,84 juta ton atau 16 persen dibandingkan April 2025 yang mencapai 5,23 juta ton.

Penurunan produksi beras tersebut terjadi sejalan dengan menyusutnya luas panen dan produksi padi selama bulan April.

BPS mencatat luas panen padi pada April 2026 mencapai 1,40 juta hektare. Angka ini turun 0,26 juta hektare atau 15,47 persen dibandingkan April tahun sebelumnya yang mencapai 1,65 juta hektare.

Penurunan luas panen tersebut kemudian berimbas pada produksi padi, baik dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) maupun Gabah Kering Giling (GKG), yang menjadi dasar penghitungan produksi beras.

Baca juga: Bulog akan Kirim Utusan ke Serawak, Bahas Ekspor Beras Ke Malaysia

Produksi padi menurun pada April 2026

BPS mencatat produksi padi dalam bentuk GKP pada April 2026 mencapai 9,13 juta ton. Realisasi ini turun 1,76 juta ton atau 16,15 persen dibandingkan April 2025 yang sebesar 10,88 juta ton GKP.

Ilustrasi tanaman padi. PIXABAY/HARTONO SUBAGIO Ilustrasi tanaman padi.

Sementara itu, produksi padi dalam bentuk GKG pada April 2026 tercatat 7,63 juta ton. Jumlah tersebut berkurang 1,46 juta ton atau 16,03 persen dibandingkan April tahun lalu yang mencapai 9,09 juta ton GKG.

BPS menjelaskan, berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) April 2026, realisasi panen padi selama April mencapai 1,40 juta hektare. Adapun potensi luas panen pada Mei-Juli 2026 diperkirakan mencapai 2,69 juta hektare.

Dengan demikian, total luas panen padi Januari-Juli 2026 diperkirakan mencapai 7,20 juta hektare atau naik tipis sekitar 1.460 hektare dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Beras Bulog Diusulkan untuk ASN, TNI, dan Polri, Stok Diklaim Tetap Cukup

Dari sisi produksi, potensi produksi padi pada Mei-Juli 2026 diperkirakan mencapai 16,45 juta ton GKP atau setara 13,75 juta ton GKG.

Jika seluruh realisasi dan potensi tersebut digabungkan, total produksi padi Januari-Juli 2026 diperkirakan mencapai 45,58 juta ton GKP. Angka ini turun 0,13 juta ton atau 0,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 45,71 juta ton GKP.

Sementara dalam bentuk GKG, total produksi Januari-Juli 2026 diperkirakan mencapai 38,11 juta ton, turun 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 38,23 juta ton GKG.

Produksi beras masih bertahan

Meski produksi April 2026 mengalami kontraksi dua digit, akumulasi produksi beras nasional sepanjang Januari-April 2026 masih mampu mencatatkan pertumbuhan.

Baca juga: Malaysia Nego 500.000 Ton Beras RI Seharga Rp 8 Triliun

Data BPS menunjukkan produksi beras Januari-April 2026 mencapai 14,03 juta ton. Jumlah tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan Januari-April 2025 yang sebesar 14,01 juta ton.

Kenaikan yang terjadi memang sangat tipis, yakni sekitar 16.810 ton atau 0,12 persen.

Berdasarkan data bulanan, produksi beras pada Januari 2026 mencapai 1,73 juta ton, Februari 2,88 juta ton, Maret 5,02 juta ton, dan April 4,40 juta ton. Produksi Maret dan April menjadi kontributor terbesar terhadap total produksi beras selama empat bulan pertama tahun ini.

Ilustrasi beras.  PIXABAY/MOHD SYAHIDEEN OSMAN Ilustrasi beras.

BPS juga memperkirakan potensi produksi beras pada Mei-Juli 2026 mencapai 7,92 juta ton. Dengan demikian, total produksi beras Januari-Juli 2026 diproyeksikan mencapai 21,95 juta ton.

Namun angka tersebut masih lebih rendah sekitar 0,08 juta ton atau 0,35 persen dibandingkan produksi beras Januari-Juli 2025 yang sebesar 22,03 juta ton.

Baca juga: Wamentan: Beras Pemerintah 5,37 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat masih mendominasi

Secara wilayah, produksi padi nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. BPS mencatat tiga provinsi dengan produksi padi tertinggi pada Januari-Juli 2026 adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Dalam bentuk GKG, Jawa Timur diperkirakan menghasilkan 7,71 juta ton pada Januari-Juli 2026. Jawa Tengah menyusul dengan produksi 6,70 juta ton, sedangkan Jawa Barat mencapai 5,98 juta ton.

Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi penduduk, produksi Jawa Timur diperkirakan mencapai 4,45 juta ton. Jawa Tengah menghasilkan sekitar 3,85 juta ton dan Jawa Barat sekitar 3,45 juta ton.

Di luar Pulau Jawa, sejumlah daerah juga mencatat produksi yang relatif besar. Sumatera Selatan diperkirakan menghasilkan 2,46 juta ton GKG, Lampung 1,99 juta ton GKG, dan Sumatera Utara 1,41 juta ton GKG selama Januari-Juli 2026.

Baca juga: Stok Beras Pemerintah Tembus 5,3 Juta Ton, Bulog Usul Tambahan Penyaluran

Sementara itu, tiga provinsi dengan produksi padi terendah pada Januari-Juli 2026 adalah Kepulauan Riau, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya.

Luas panen nasional relatif stabil

Di tengah penurunan produksi pada April, luas panen nasional Januari-Juli 2026 diperkirakan relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Data BPS menunjukkan total luas panen Januari-Juli 2026 diperkirakan mencapai 7,20 juta hektare. Angka ini hanya bertambah sekitar 1.460 hektare atau 0,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ilustrasi panen padiPixabay/sarangib Ilustrasi panen padi

Beberapa provinsi mencatat kenaikan luas panen yang cukup signifikan. Jawa Timur diperkirakan memiliki luas panen 1,38 juta hektare pada Januari-Juli 2026, naik hampir 78.000 hektare dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Produksi Beras 34,6 Juta Ton, Pemerintah Perkuat Cadangan Hadapi Kemarau

Jawa Tengah bertambah sekitar 34.425 hektare menjadi 1,22 juta hektare, sedangkan Lampung meningkat sekitar 30.020 hektare menjadi 366.918 hektare.

Sebaliknya, sejumlah daerah mengalami penurunan luas panen. Sumatera Utara tercatat berkurang sekitar 68.933 hektare, Kalimantan Barat turun 38.359 hektare, dan Sulawesi Selatan menyusut 25.663 hektare dibandingkan periode Januari-Juli 2025.

Metode penghitungan produksi beras

BPS menjelaskan, produksi padi diperoleh dari hasil perkalian antara luas panen dan produktivitas. Luas panen dihitung menggunakan metode Survei Kerangka Sampel Area (KSA) yang mulai diterapkan sejak 2018.

Metode ini menggunakan pengamatan lapangan secara objektif melalui 31.313 sampel segmen lahan tetap yang diamati setiap bulan.

Baca juga: Stok Beras Pecah Rekor 5,37 Juta Ton, Pemerintah Kejar Serapan 4 Juta Ton

Setiap bulan, petugas melakukan pengamatan pada sembilan titik di setiap segmen menggunakan perangkat berbasis Android.

Hasil pengamatan kemudian dikirim ke server pusat untuk diolah dan menjadi dasar penyusunan estimasi luas panen maupun potensi produksi padi dan beras beberapa bulan ke depan.

Produksi beras dihitung melalui proses konversi dari produksi padi dengan memperhitungkan konversi gabah ke beras, kehilangan hasil akibat susut atau tercecer, serta penggunaan untuk kebutuhan nonpangan.

Produksi beras yang dipublikasikan BPS merupakan beras untuk konsumsi pangan penduduk, termasuk konsumsi rumah tangga maupun sektor nonrumah tangga seperti hotel, restoran, dan katering.

Tag:  #produksi #beras #masih #naik #mengapa #hasil #panen #april #2026 #justru #turun

KOMENTAR