Cara Mengelola Dana Darurat untuk Lansia, Hindari 5 Kesalahan Ini
Ilustrasi lansia.(PEXELS/JIMMY CHAN)
11:12
3 Juni 2026

Cara Mengelola Dana Darurat untuk Lansia, Hindari 5 Kesalahan Ini

Dana darurat merupakan salah satu fondasi penting dalam perencanaan keuangan lansia dan pensiunan.

Berbeda dengan pekerja aktif yang masih memiliki penghasilan rutin, lansia umumnya mengandalkan dana pensiun, hasil investasi, atau tabungan yang jumlahnya terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena itu, keberadaan dana darurat menjadi semakin krusial.

Baca juga: Pensiun Tenang Tanpa Merepotkan Anak, Ini Cara Hitung Dananya

Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.

Dana ini berfungsi sebagai bantalan ketika terjadi pengeluaran tidak terduga, mulai dari biaya kesehatan, perbaikan rumah, hingga kebutuhan mendesak lainnya.

Namun, memiliki dana darurat saja tidak cukup. Cara mengelola dan menggunakan dana tersebut juga menentukan apakah tabungan pensiun dapat bertahan dalam jangka panjang atau justru cepat terkuras.

Dikutip dari laman resminya, organisasi nirlaba yang fokus pada isu lansia, AARP, mengungkap sejumlah kesalahan yang sering dilakukan orang berusia di atas 50 tahun terkait dana darurat.

Kesalahan-kesalahan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas keuangan pada masa pensiun.

Baca juga: Kesenjangan Pensiun di Indonesia: Pilihan atau Tekanan Finansial?

Berikut lima kesalahan yang perlu dihindari.

1. Menyimpan dana darurat terlalu sedikit

Kesalahan pertama adalah memiliki dana darurat yang terlalu kecil dibandingkan kebutuhan hidup.

Selama ini banyak orang mengenal aturan umum bahwa dana darurat ideal setara tiga hingga enam bulan pengeluaran.

Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah

Namun, menurut perencana keuangan bersertifikat sekaligus Vice President First Horizon Advisors, Kristen Beckstead, kebutuhan lansia berbeda dengan pekerja aktif. Ia menyarankan pensiunan memiliki dana darurat yang mampu menutup biaya hidup esensial selama 18 hingga 24 bulan.

Baca juga: Laporan Manulife: Orang Indonesia Paling Optimistis Siapkan Dana untuk Masa Pensiun Panjang

“Di masa pensiun, Anda tidak memiliki bantalan berupa gaji bulanan untuk diandalkan,” kata Beckstead.

Rekomendasi tersebut muncul karena lansia menghadapi risiko yang lebih besar ketika terjadi keadaan darurat.

Jika pekerja aktif kehilangan pekerjaan atau menghadapi pengeluaran mendadak, mereka masih memiliki peluang memperoleh penghasilan baru. Sebaliknya, pensiunan biasanya memiliki sumber pemasukan yang lebih terbatas.

AARP juga menyebut, dana darurat lansia perlu mempertimbangkan berbagai risiko seperti biaya kesehatan yang meningkat, perbaikan rumah, hingga kebutuhan keluarga yang muncul secara mendadak.

Baca juga: Warga Asia Ingin Pensiun Layak, Bukan Sekadar Umur Panjang

Bahkan, penelitian yang dikutip Center for Retirement Research at Boston College menunjukkan rumah tangga lansia rata-rata mengeluarkan sekitar 10 persen pendapatan tahunannya untuk biaya tak terduga selama masa pensiun.

2. Menyimpan dana darurat terlalu banyak

Jika dana darurat terlalu sedikit berisiko, menyimpan terlalu banyak uang tunai juga bisa menjadi masalah.

Menurut AARP, sebagian lansia memilih menempatkan porsi besar aset mereka dalam rekening tabungan atau instrumen yang sangat likuid karena khawatir menghadapi keadaan darurat.

Namun keputusan tersebut dapat mengurangi potensi pertumbuhan kekayaan dalam jangka panjang.

Baca juga: Pensiun Tenang dan Aman: Ini Tips Cara Menyiapkan Dana Hari Tua Sejak Dini

Perencana keuangan bersertifikat dari Mercer Advisors, Eric Doll, menjelaskan dana pensiun idealnya tetap memiliki porsi investasi agar dapat berkembang dan membantu menjaga daya beli terhadap inflasi.

Ilustrasi pensiun, masa pensiun, menikmati masa pensiun. OJK mengingatkan masih banyak pekerja Indonesia yang belum terlindungi secara finansial di masa pensiun. Rasio pendapatan pensiun dan aset dana pensiun nasional pun masih tertinggal jauh dari standar internasional.FREEPIK/JCOMP Ilustrasi pensiun, masa pensiun, menikmati masa pensiun. OJK mengingatkan masih banyak pekerja Indonesia yang belum terlindungi secara finansial di masa pensiun. Rasio pendapatan pensiun dan aset dana pensiun nasional pun masih tertinggal jauh dari standar internasional.

“Biasanya Anda ingin uang tetap diinvestasikan karena itu merupakan komponen penting dalam rencana pensiun,” ujar Doll.

AARP menyebutkan, menyimpan terlalu banyak uang dalam rekening berbunga rendah dapat menghambat pencapaian target imbal hasil yang diperlukan selama masa pensiun.

Karena itu, Beckstead menyarankan agar dana darurat tidak melebihi kebutuhan sekitar 24 bulan biaya hidup.

Baca juga: Penghasilan Warga RI Turun Drastis saat Pensiun, Hanya 10-15 Persen dari Gaji

Risiko lain dari dana darurat yang terlalu besar adalah berkurangnya peluang memperoleh pertumbuhan aset melalui investasi.

Dalam jangka panjang, inflasi dapat menggerus nilai riil uang yang hanya disimpan dalam bentuk kas atau tabungan berbunga rendah.

3. Menempatkan dana darurat di tempat yang sulit diakses

Dana darurat dirancang untuk digunakan saat keadaan mendesak. Karena itu, kesalahan berikutnya adalah menyimpan dana tersebut pada instrumen yang sulit dicairkan.

Menurut AARP, dana darurat sebaiknya ditempatkan pada rekening yang mudah diakses, aman, dan tetap memberikan imbal hasil yang wajar.

Baca juga: Gen Z Bongkar Tabungan Pensiun untuk Lunasi Utang, Apa Risikonya?

Tujuannya agar pemilik dana dapat segera menggunakannya ketika terjadi kebutuhan mendesak tanpa harus menjual aset investasi atau membayar penalti tertentu.

Lansia yang menyimpan dana darurat pada instrumen dengan likuiditas rendah berisiko mengalami kesulitan ketika harus membayar biaya rumah sakit, perbaikan rumah, atau kebutuhan mendadak lainnya.

AARP Foundation juga merekomendasikan penggunaan rekening tabungan berbunga tinggi (high-yield savings account) karena menawarkan akses cepat terhadap dana sekaligus memberikan bunga yang lebih baik dibandingkan rekening tabungan biasa.

Ilustrasi pensiun, tabungan pensiun, dana pensiun. Anak pensiunan PNS, TNI, Polri daftar KIP Kuliah. SHUTTERSTOCK/KHONGTHAM Ilustrasi pensiun, tabungan pensiun, dana pensiun. Anak pensiunan PNS, TNI, Polri daftar KIP Kuliah.

Prinsip utama dana darurat bukanlah mengejar keuntungan investasi setinggi mungkin, melainkan memastikan dana tersedia saat dibutuhkan.

Baca juga: 3 Strategi Keuangan ala Jeff Bezos untuk Siapkan Pensiun

4. Menggunakan dana darurat untuk kebutuhan yang bukan darurat

Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah menganggap semua pengeluaran mendadak sebagai keadaan darurat.

Menurut AARP, dana darurat seharusnya digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar tidak terduga dan tidak dapat ditunda, seperti biaya medis, kerusakan kendaraan, perbaikan rumah yang mendesak, atau kebutuhan penting lainnya.

Sebaliknya, pengeluaran yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya sebaiknya tidak diambil dari dana darurat.

Contohnya adalah biaya liburan, pembelian barang konsumtif, renovasi rumah yang telah direncanakan, atau hadiah untuk anggota keluarga. Pengeluaran seperti itu seharusnya dipersiapkan melalui pos tabungan yang berbeda.

Baca juga: 10 Langkah Menyiapkan Dana Pensiun agar Hidup Tenang

Ketika dana darurat digunakan untuk kebutuhan non-darurat, kemampuan keuangan lansia menghadapi krisis sesungguhnya menjadi berkurang.

Akibatnya, saat terjadi kejadian yang benar-benar mendesak, mereka mungkin terpaksa menjual investasi pada waktu yang tidak tepat atau bahkan berutang.

Kondisi ini menjadi semakin penting mengingat pensiunan menghadapi berbagai risiko pengeluaran tak terduga yang cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok usia produktif, terutama terkait kesehatan dan perawatan jangka panjang.

5. Tidak mengisi kembali dana darurat setelah digunakan

Banyak orang menganggap tugas mereka selesai setelah berhasil membangun dana darurat. Padahal, menurut AARP, dana tersebut perlu terus dipantau dan diisi kembali setiap kali digunakan.

Baca juga: Strategi Menyiapkan Dana Hari Tua, Biar Pensiun Tetap Aman dan Mandiri

Ilustrasi dana darurat.SHUTTERSTOCK/WITSARUT SAKORN Ilustrasi dana darurat.

Misalnya, jika sebagian dana darurat digunakan untuk membayar biaya rumah sakit atau memperbaiki rumah, saldo dana darurat akan berkurang.

Apabila tidak segera dipulihkan, kemampuan menghadapi keadaan darurat berikutnya menjadi lebih lemah.

Karena itu, AARP menyarankan lansia untuk secara berkala mengevaluasi kondisi dana darurat mereka, termasuk menyesuaikannya dengan perubahan biaya hidup, kondisi kesehatan, dan kebutuhan keluarga.

Kebutuhan dana darurat juga dapat berubah seiring bertambahnya usia.

Baca juga: Cara Menyiapkan Dana Hari Tua: Strategi Keuangan untuk Pensiun Tenang

Pengeluaran kesehatan yang meningkat atau perubahan kondisi tempat tinggal dapat membuat kebutuhan kas darurat menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Dengan melakukan evaluasi berkala, lansia dapat memastikan dana darurat tetap sesuai dengan kebutuhan aktual dan mampu berfungsi sebagai pelindung keuangan ketika terjadi situasi yang tidak terduga.

Di tengah meningkatnya jumlah lansia Indonesia, kesiapan menghadapi pengeluaran tak terduga menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan masa tua.

Dana darurat yang dikelola secara tepat dapat membantu lansia mempertahankan kemandirian finansial saat menghadapi berbagai risiko, mulai dari biaya kesehatan hingga kebutuhan mendesak lainnya.

Baca juga: 6 Cara agar Kelas Menengah Bisa Pensiun dengan Nyaman dan Tenang

Karena itu, memahami kesalahan-kesalahan dalam penggunaan dana darurat menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan lansia berdaya yang tetap mampu mengelola keuangannya secara mandiri.

Tag:  #cara #mengelola #dana #darurat #untuk #lansia #hindari #kesalahan

KOMENTAR