Industri Berbasis SDA Diuntungkan Saat Rupiah Melemah
Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai masih memberi keuntungan bagi sejumlah sektor industri yang mengandalkan bahan baku domestik.
Keuntungan tersebut terutama berasal dari selisih kurs.
Produk dijual ke pasar ekspor menggunakan dolar Amerika Serikat (AS), sementara sebagian besar biaya produksi masih memakai rupiah.
Baca juga: Wamentan Sebut Ekspor Sawit Satu Pintu Tak Ganggu Stok MinyaKita
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengatakan sektor yang paling diuntungkan adalah industri berbasis sumber daya alam.
Manufaktur dengan rantai pasok bahan baku dari dalam negeri juga masuk kelompok yang memperoleh keuntungan.
“Kalau yang bahan bakunya mayoritas dari dalam negeri tentu lebih diuntungkan saat rupiah melemah,” ujar Tauhid kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).
Tauhid mencontohkan produk minyak dan gas olahan, nikel, crude palm oil (CPO), hingga sebagian produk elektronik yang masih memiliki kandungan lokal cukup besar.
Sektor berbasis hasil hutan dan perkebunan juga dinilai mendapat keuntungan dari pelemahan rupiah.
Menurut Tauhid, industri kayu, furnitur, karet, pulp, dan paper termasuk kelompok yang berpeluang memperoleh tambahan margin dari ekspor.
“Produk kayu, furniture, kemudian produk berbahan baku karet, pulp dan paper, itu juga mendapat keuntungan karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri,” katanya.
Baca juga: Usulan Ekspor SDA Satu Pintu Dinilai Perlu Terapkan Model “Smart State Trading”
Tauhid menjelaskan, industri tersebut memiliki nilai tambah lebih besar saat rupiah melemah.
Biaya produksi relatif tetap menggunakan rupiah, sedangkan pendapatan ekspor diterima dalam dolar AS.
Meski demikian, tidak semua sektor ekspor menikmati keuntungan serupa.
Beberapa industri manufaktur masih menghadapi tekanan karena ketergantungan terhadap bahan baku impor masih tinggi.
“Kalau produk mesin, reaktor, alas kaki, termasuk tekstil, itu masih memiliki komponen impor yang cukup tinggi sehingga keuntungannya tidak terlalu besar,” ucap Tauhid.
Menurut Tauhid, sektor yang masih bergantung pada impor komponen atau bahan baku tetap menghadapi kenaikan biaya produksi saat nilai tukar rupiah tertekan.
“Jadi yang benar-benar mendapat keuntungan adalah industri yang bahan bakunya dari dalam negeri dan proses produksinya juga dilakukan di dalam negeri,” tutur Tauhid.
Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa bulan terakhir.
Bloomberg mencatat, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.804 per dolar AS pada Selasa (26/5/2026).
Posisi tersebut melemah 0,05 persen dibandingkan penutupan Senin (25/5/2026) di level Rp 17.796 per dolar AS.
Tag: #industri #berbasis #diuntungkan #saat #rupiah #melemah