Anak Orang Terkaya Vietnam Jadi Bos VinFast di Tengah Tekanan Kerugian
- Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, menunjuk Pham Nhat Quan Anh sebagai chairman atau ketua dewan direksi perusahaan.
Ia menggantikan Le Thi Thu Thuy yang sebelumnya memimpin perusahaan otomotif listrik tersebut.
Penunjukan ini menarik perhatian pasar karena Pham Nhat Quan Anh merupakan anak sulung orang terkaya di Vietnam dan Asia Tenggara Pham Nhat Vuong, pendiri konglomerasi Vingroup sekaligus pemegang saham utama VinFast.
Baca juga: VinFast Fokus Riset dan Produk, Pabrik Dialihkan ke Investor Baru
Dalam pernyataan resmi perusahaan, dikutip dari TradingView, Rabu (27/5/2026), VinFast menyebut perubahan kepemimpinan itu berlaku efektif sejak 23 Mei 2026 dan ditujukan untuk mendukung ekspansi global perusahaan pada fase pertumbuhan berikutnya.
Pham Nhat Quan Anh saat ini juga menjabat sebagai Vice Chairman dan Standing Deputy General Director di VinFast Trading and Production JSC.
Perusahaan menyebut ia memiliki pengalaman manajerial lintas industri dan berperan dalam perjalanan pengembangan VinFast, mulai dari fase awal pembangunan pasar domestik hingga strategi ekspansi global.
“Saya merasa terhormat mengemban peran sebagai Chairman of the Board VinFast,” kata Pham Nhat Quan Anh dalam pernyataan perusahaan.
Baca juga: Pham Nhat Vuong, Orang Terkaya di Asia Tenggara Pemilik VinFast dan Taksi Green SM
Ia menambahkan, VinFast akan tetap fokus menjalankan prioritas strategis jangka panjang, mendorong inovasi, serta memperkuat operasi global dan pengalaman pelanggan.
Sementara itu, Le Thi Thu Thuy akan meninggalkan posisi di dewan direksi VinFast dan melanjutkan perannya sebagai vice chairwoman di Vingroup, induk usaha VinFast.
Pergantian kepemimpinan di tengah tekanan bisnis
Pergantian pucuk pimpinan VinFast terjadi ketika perusahaan masih menghadapi tekanan besar dari sisi keuangan dan operasional, terutama di pasar internasional.
VCreator Summit 2025 yang digelar oleh VinFast Indonesia di Bali
Dalam beberapa tahun terakhir, VinFast melakukan ekspansi agresif ke pasar global, termasuk Amerika Serikat (AS), India, dan Indonesia. Namun, strategi tersebut juga membuat perusahaan membakar dana dalam jumlah besar.
Baca juga: VinFast Andalkan IPO dan Taksi Listrik demi Laba 2027
Reuters melaporkan VinFast telah menghabiskan miliaran dollar AS selama satu dekade terakhir untuk mendukung ekspansi bisnis kendaraan listriknya. Perusahaan juga belum mencatatkan keuntungan sejak berdiri pada 2017.
Pada 2025, VinFast mencatat kerugian sekitar 3,9 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 69,55 triliun (asumsi kurs Rp 17.833 per dollar AS). Biaya manufaktur disebut menjadi salah satu penyumbang utama kerugian tersebut.
Di tengah tekanan itu, VinFast mengumumkan restrukturisasi korporasi dengan menjual fasilitas manufaktur domestiknya di Vietnam kepada kelompok investor yang juga melibatkan pendiri perusahaan, Pham Nhat Vuong.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk beralih menjadi model bisnis “asset-light”.
Baca juga: Mengapa VinFast Pilih Indonesia Jadi Basis Produksi Mobil Listrik?
Dalam dokumen perusahaan yang dikutip Reuters, aset manufaktur VinFast Trading and Production JSC akan dialihkan kepada kelompok pembeli yang dipimpin Future Investment Research and Development JSC dengan nilai transaksi sekitar 13,3 triliun dong Vietnam atau sekitar 530 juta dollar AS, setara kurang lebih Rp 9,45 triliun.
VinFast menyebut model bisnis baru itu memungkinkan perusahaan lebih fokus pada penelitian dan pengembangan produk dibandingkan manufaktur.
Struktur transaksi jadi sorotan
Meski dinilai dapat mengurangi beban utang, restrukturisasi VinFast juga memunculkan perhatian terkait tata kelola perusahaan.
Reuters melaporkan transaksi tersebut memicu tanda tanya karena melibatkan sejumlah investor yang memiliki hubungan dengan Vingroup dan Pham Nhat Vuong.
Baca juga: BNI Beri Kredit Sindikasi Rp 1,84 Triliun untuk Bangun Pabrik VinFast di Indonesia
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Nguyen Hoai Nam, pengusaha properti yang mengambil alih perusahaan Future Investment and Trading Development (FIRD), entitas yang akan mengakuisisi lebih dari 95 persen bisnis manufaktur VinFast.
Nam juga tercatat sebagai anggota dewan Vincom Retail, perusahaan yang sebelumnya merupakan bagian dari Vingroup.
Reuters juga melaporkan FIRD sebelumnya merupakan perusahaan hasil pemisahan dari VinFast yang hingga Januari lalu dimiliki Vingroup dan Pham Nhat Vuong.
Perusahaan tersebut memegang hak paten kendaraan listrik generasi pertama VinFast dan memiliki modal terdaftar sekitar 4,6 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 82,03 triliun.
Baca juga: BNI Beri Kredit Sindikasi Rp 1,84 Triliun untuk Bangun Pabrik VinFast di Indonesia
Analis otomotif dari konsultan berbasis Singapura YCP, Mehdi Jaouadi, menilai langkah restrukturisasi tersebut masuk akal secara strategis dan finansial, tetapi tetap menimbulkan pertanyaan dari sisi tata kelola.
“Dari perspektif strategis dan finansial, langkah ini masuk akal dan memberikan fondasi yang kuat bagi VinFast untuk berkembang. Namun dari perspektif tata kelola, keputusan strategis ini memiliki sejumlah tanda bahaya dan menimbulkan pertanyaan,” ujar Jaouadi kepada Reuters.
Ia juga mempertanyakan alasan FIRD menjadi pembeli utama aset manufaktur VinFast tidak lama setelah perubahan kepemilikan perusahaan tersebut.
Fokus ke ekspansi global
Di tengah tekanan tersebut, VinFast tetap melanjutkan agenda ekspansi internasionalnya.
Baca juga: Gandeng VinFast, BNI Percepat Ekosistem Mobilitas Hijau di Indonesia
Perusahaan mempertahankan fasilitas perakitan di Indonesia dan India, serta tetap memegang paten kendaraan listrik generasi terbaru.
Langkah restrukturisasi disebut akan membantu VinFast memangkas utang dan biaya operasional sehingga perusahaan dapat lebih fokus pada pengembangan teknologi, perangkat lunak, dan pasar global.
Analis otomotif Felipe Munoz mengatakan model outsourcing manufaktur dapat memberi ruang bagi produsen kendaraan listrik yang lebih kecil seperti VinFast untuk memusatkan sumber daya pada area yang lebih penting, termasuk pengembangan perangkat lunak.
Di sisi lain, pasar masih mencermati efektivitas strategi tersebut. Reuters melaporkan saham VinFast turun sekitar 12 persen sejak transaksi restrukturisasi diumumkan pada 12 Mei 2026.
Baca juga: VinFast Bakal Bangun Pabrik di RI, Fokus untuk Pasar Ekspor
Dinasti bisnis Pham Nhat Vuong
Penunjukan Pham Nhat Quan Anh juga memperlihatkan semakin besarnya peran keluarga Pham Nhat Vuong dalam struktur bisnis Vingroup dan VinFast.
Pham Nhat Vuong dikenal sebagai orang terkaya di Vietnam dan salah satu miliarder terbesar di Asia Tenggara. Ia membangun Vingroup menjadi konglomerasi besar yang memiliki bisnis di sektor properti, ritel, hiburan, hingga otomotif listrik.
Media Vietnam ZNews menyebut Pham Nhat Quan Anh merupakan anak sulung Pham Nhat Vuong. Sebelum menjadi chairman VinFast, ia telah menduduki posisi strategis di perusahaan, termasuk sebagai vice chairman dan deputy general director.
Pada November 2025, VinFast juga telah menunjuk Pham Nhat Quan Anh sebagai anggota dewan direksi perusahaan.
Baca juga: Vinfast dan Geely dalam Proses Investasi Kendaraan Listrik di RI
Kini, dengan posisi baru sebagai chairman, Pham Nhat Quan Anh akan memimpin VinFast pada periode yang dinilai krusial bagi masa depan perusahaan kendaraan listrik tersebut.
Perusahaan menyatakan perubahan kepemimpinan itu diharapkan dapat “membangun fondasi kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan di masa depan”.
Tag: #anak #orang #terkaya #vietnam #jadi #vinfast #tengah #tekanan #kerugian