Ritel Jadi “Penyelamat” IHSG Ketika Asing Kabur, Asal Jangan FOMO
Investor ritel domestik dinilai dapat menjadi kekuatan besar untuk menopang Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG saat dana asing keluar dari pasar saham Indonesia.
Peran tersebut baru efektif apabila investor ritel tidak terjebak perilaku fear of missing out atau FOMO saat pasar naik maupun panic selling saat pasar terkoreksi.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai jumlah investor ritel domestik yang terus membesar dapat menjadi kekuatan utama untuk mendorong IHSG jika diarahkan dengan benar.
Berdasarkan catatan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor domestik terus meningkat dan kini mencapai 26,7 juta. Setengah dari jumlah tersebut merupakan anak muda.
Meski jumlahnya besar, Hendra menilai sebagian besar investor ritel masih bergerak berdasarkan emosi dan momentum jangka pendek. Kondisi itu membuat pasar mudah mengalami FOMO saat naik dan panic selling saat turun.
“Permasalahan saat ini adalah sebagian besar investor ritel masih bergerak berdasarkan emosi dan momentum jangka pendek, sehingga pasar mudah mengalami FOMO ketika naik dan panic selling ketika turun,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Minggu (24/5/2026).
Hendra menilai edukasi investasi perlu lebih agresif untuk mengubah investor ritel menjadi fondasi pasar modal. Edukasi tersebut mencakup investasi jangka panjang, manajemen risiko, serta pentingnya membeli saham berdasarkan fundamental, bukan rumor atau gorengan media sosial.
Bursa dan pelaku industri juga perlu mendorong budaya investasi bertahap atau dollar cost averaging, bukan trading spekulatif harian.
Menurut Hendra, volatilitas IHSG akan lebih sehat jika investor domestik mampu menjadi pembeli stabil saat investor asing keluar. Pasar juga tidak terlalu bergantung pada dana asing.
“Bursa dan pelaku industri juga perlu mendorong budaya investasi bertahap atau dollar cost averaging, bukan trading spekulatif harian,” paparnya.
IHSG dinilai masih dalam proses mencari dasar
Hendra menilai banyak saham berkapitalisasi besar atau big caps sudah berada di level murah secara valuasi dan mulai masuk area undervalue.
Meski demikian, ia menilai masih terlalu dini untuk menyebut IHSG sudah benar-benar berada di titik bottom.
Secara teknikal, area 6.000 sampai 6.100 menjadi support psikologis IHSG yang cukup kuat karena mulai muncul aksi bargain hunting.
Namun, risiko penurunan lanjutan masih terbuka selama rupiah masih melemah tajam di level Rp 17.700 per dollar AS, arus dana asing belum kembali masuk, dan ketidakpastian global masih tinggi.
“Artinya, pasar saat ini lebih cocok disebut sebagai fase pembentukan bottom atau bottoming process, bukan langsung fase bull market baru,” pungkas Hendra.
Fase bottoming biasanya ditandai volatilitas tinggi. Indeks bergerak naik turun tajam, tetapi sejumlah saham mulai dikoleksi pelaku besar secara perlahan.
Menurut Hendra, terdapat beberapa indikator yang perlu diperhatikan untuk menilai saat yang tepat masuk ke pasar.
Indikator pertama adalah stabilisasi rupiah. Rupiah yang kembali menguat dan stabil di bawah Rp 17.000 per dollar AS akan menjadi sinyal positif bagi arus dana asing.
Indikator kedua adalah foreign flow yang mulai berbalik menjadi net buy secara konsisten, terutama pada saham perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Indikator ketiga adalah yield obligasi pemerintah yang mulai turun. Kondisi tersebut menandakan tekanan risiko mulai mereda.
Indikator keempat adalah kemampuan IHSG bertahan di atas area resistance penting dengan volume transaksi yang sehat.
Hendra menilai faktor paling penting adalah perbaikan sentimen terhadap kebijakan pemerintah. Pasar modal pada dasarnya menyukai kepastian.
“Ketika arah kebijakan mulai jelas dan investor merasa pemerintah pro terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar modal, maka kepercayaan akan mulai pulih,” lanjut dia.
Saham yang mulai dicermati
Hendra menilai pendekatan stock picking jauh lebih penting dibanding sekadar memilih sektor dalam kondisi pasar saat ini.
Ia menyebut sejumlah saham mulai menarik dicermati karena valuasinya sudah murah, tetapi fundamentalnya masih cukup baik.
PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dinilai menjadi salah satu saham dengan pertumbuhan laba dan valuasi murah yang menarik. Kinerja perusahaan disebut masih solid karena ditopang sektor bahan bangunan dan ekspansi bisnis. Harga sahamnya juga sudah terkoreksi jauh dari puncaknya.
Menurut Hendra, saham ini menarik untuk trading buy dengan target Rp 2.000 apabila mampu menjaga momentum rebound.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga mulai menarik sebagai recovery play setelah lama tertidur. Perbaikan margin, efisiensi operasional, serta potensi pemulihan daya beli membuat saham tersebut kembali dilirik.
Hendra menilai UNVR layak dicermati dengan target Rp 1.960 dalam jangka pendek karena harganya sudah jauh lebih murah dibandingkan level historis.
PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menjadi pilihan defensif yang menarik. Fundamental perusahaan dinilai sehat, utangnya rendah, laba bertumbuh, dan dividend yield tinggi.
“Di tengah pasar yang volatil, saham seperti ULTJ biasanya menjadi tempat berlindung investor institusi dengan target Rp 1.800,” kata Hendra.
PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dinilai menjadi pilihan spekulatif yang menarik. Transformasi digital perusahaan mulai menunjukkan hasil dan valuasinya sudah murah dibandingkan potensi pertumbuhan bisnis digitalnya. Target jangka pendek saham SCMA berada di area Rp 254.
Faktor penentu IHSG kembali bullish
Hendra mencatat beberapa faktor perlu terjadi secara bersamaan agar tren IHSG kembali bullish.
Dari sisi global, tensi geopolitik Timur Tengah perlu mereda agar harga minyak turun dan tekanan inflasi global ikut menurun.
Harga minyak yang kembali normal dapat membuka peluang Federal Reserve atau The Fed melunak. Kondisi tersebut berpotensi mendorong dana asing kembali masuk ke emerging market.
Dari sisi domestik, pemerintah perlu mengembalikan kepercayaan pasar melalui kebijakan yang konsisten, pro investasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Stabilitas rupiah juga menjadi faktor krusial karena investor asing sensitif terhadap risiko mata uang.
Kinerja emiten pada semester II 2026 juga perlu menunjukkan perlambatan ekonomi masih dapat diatasi dan laba perusahaan tetap tumbuh.
Hendra menilai IHSG berpeluang mengalami technical rebound setelah menguji area psikologis 6.000 jika kombinasi faktor tersebut mulai muncul. Setelah itu, IHSG berpeluang bergerak bertahap menuju area 6.500 sampai 6.800.
“Saat ini pasar memang masih penuh tekanan, namun justru di fase seperti inilah biasanya peluang besar mulai muncul bagi investor yang sabar dan disiplin,” ungkapnya.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ritel #jadi #penyelamat #ihsg #ketika #asing #kabur #asal #jangan #fomo