Trump Mendadak Batal Teken Regulasi AI, Khawatir Hambat Dominasi AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara kesehatan di South Court Auditorium, Gedung Putih, Washington DC, 18 Mei 2026.(AFP/KENT NISHIMURA)
14:48
22 Mei 2026

Trump Mendadak Batal Teken Regulasi AI, Khawatir Hambat Dominasi AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana penandatanganan perintah eksekutif baru terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hanya beberapa jam sebelum acara resmi di Gedung Putih, Kamis (22/5/2026).

Trump mengaku khawatir aturan tersebut justru memperlambat dominasi AS dalam perlombaan teknologi AI global.

“Kita memimpin China, kita memimpin semua orang, dan saya tidak ingin melakukan apa pun yang akan menghalangi keunggulan itu,” kata Trump kepada wartawan.

Perintah eksekutif itu sebelumnya dirancang untuk membentuk kerangka evaluasi pemerintah terhadap risiko keamanan nasional dari sistem AI paling canggih sebelum dirilis ke publik.

Menurut sumber yang mengetahui pembahasan di Gedung Putih, kebijakan tersebut disusun sebagai kerja sama sukarela antara pemerintah dan perusahaan teknologi AS seperti OpenAI, Anthropic, dan Google.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen Usai Trump Sebut Negosiasi AS-Iran Masuk Tahap Akhir

Kekhawatiran keamanan siber

Dorongan memperketat pengawasan AI muncul setelah meningkatnya kekhawatiran di sektor perbankan dan keamanan digital.

Pemerintah AS menilai model AI terbaru memiliki kemampuan semakin kuat dalam menemukan celah keamanan siber di berbagai sistem perangkat lunak.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan sempat menggelar pertemuan mendesak dengan para CEO Wall Street pada April lalu bersama Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Pertemuan tersebut membahas risiko keamanan siber dari model AI terbaru milik Anthropic bernama Claude Mythos.

“Model Anthropic yang baru ini sangat ampuh,” kata Bessent dalam forum CNBC Invest in America di Washington.

“Beberapa bank melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam keamanan siber daripada yang lain, dan kami ingin memiliki kemampuan untuk mengumpulkan mereka dan membicarakan praktik terbaik dan ke mana mereka harus menuju,” lanjut dia.

Kekhawatiran itu membuat sejumlah sekutu Partai Republik mulai mendorong pembatasan terbatas, termasuk pemberian akses AI hanya kepada pakar keamanan siber tertentu.

Baca juga: Trump Masih Aktif Main Saham Saat Jadi Presiden, Kekayaan Naik Tajam

Trump dihadapkan pada dilema

Trump selama ini dikenal sangat mendukung industri AI.

Ia bahkan berjanji membatalkan berbagai regulasi keamanan AI buatan pemerintahan Joe Biden sebelumnya.

Gedung Putih memandang AI sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru sekaligus alat strategis untuk mengungguli China.

Pekan lalu, Trump juga membawa sejumlah CEO teknologi dalam lawatan ke China saat bertemu Presiden Xi Jinping.

Namun ambisi tersebut mulai berbenturan dengan keresahan publik.

Masyarakat AS semakin khawatir AI akan mengganggu lapangan kerja, meningkatkan konsumsi listrik pusat data, dan memperbesar risiko keamanan digital.

Partai Republik kini juga terbelah antara kubu yang ingin mempercepat pengembangan AI dan kelompok yang mulai skeptis terhadap dampaknya.

“Hal itu berpotensi menimbulkan biaya yang sangat besar bagi inovasi dan kecepatan pengembangan,” kata Profesor Ilmu Komputer Universitas Brown Serena Booth.

“Saya pikir ada risiko nyata di sini dan saya melihat kedua sisi,” lanjut dia.

Gedung Putih juga menghadapi persoalan lain, yakni konflik hukum dengan Anthropic.

Pada Februari lalu, Trump memerintahkan seluruh lembaga federal menghentikan penggunaan chatbot Claude milik Anthropic setelah perselisihan terbuka antara Pentagon dan CEO Anthropic Dario Amodei.

Subjudul: Ada perpecahan di internal pemerintah

Booth menilai perubahan sikap Gedung Putih yang mendadak menunjukkan adanya tarik menarik di internal pemerintahan Trump.

“Kita memang melihat semacam pertikaian publik,” kata Booth.

“‘Kita akan mengeluarkan perintah eksekutif. Tidak, kita tidak akan. Kita akan menandatanganinya siang ini. Oh, penandatanganannya dibatalkan.’ Saya pikir perubahan mendadak ini terjadi karena kita melihat keretakan-keretakan ini,” ujarnya.

Di satu sisi, ada dorongan memperketat pengawasan AI demi keamanan nasional.

Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran aturan baru justru memperlambat inovasi dan membuat AS kalah cepat dari China.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pemerintah sedang mencari titik tengah.

“Presiden ingin kita pro-inovasi. Dia ingin kita memenangkan perlombaan AI melawan semua negara lain di dunia,” kata Vance.

“Kami juga ingin memastikan bahwa kami melindungi masyarakat,” lanjut dia.

Meski Trump membatalkan perintah eksekutif baru tersebut, pengawasan model AI sebenarnya sudah berjalan di sejumlah lembaga federal.

Awal bulan ini, Departemen Perdagangan AS mengumumkan kerja sama dengan Google, Microsoft, dan xAI milik Elon Musk untuk mengevaluasi model AI mereka sebelum dirilis ke publik.

Kerja sama serupa sebelumnya juga dilakukan pemerintahan Biden dengan OpenAI dan Anthropic.

Namun pengumuman tersebut belakangan menghilang dari situs resmi Departemen Perdagangan AS.

Tag:  #trump #mendadak #batal #teken #regulasi #khawatir #hambat #dominasi

KOMENTAR