Bos BEI Beberkan Penyebab IHSG Anjlok
- Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan oleh koreksi yang terjadi di pasar saham Asia.
Selama pasar tanah air libur pada Kamis dan Jumat pekan kemarin, pasar saham Asia telah lebih dulu mengalami koreksi.
Karena itu, ketika perdagangan kembali dibuka di awal pekan ini, IHSG turut menyesuaikan pergerakan dengan akumulasi pelemahan yang sebelumnya terjadi di pasar global.
“Kalau IHSG hari ini, tentu kalau kita cermati memang ketidakpastian di pasar kita masih cukup tinggi Tetapi kita juga melihat bahwa hari Kamis dan Jumat pasar kita libur. Di masa kita libur itu, pasar global khususnya pasar Asia itu juga mengalami koreksi,” ujar Jeffrey saat ditemui di gedung BEI, Senin (17/5/2026).
Baca juga: Rupiah dan IHSG Melemah, Purbaya Tegaskan Beda dengan Krisis 1998, Ajak Investor Saham Serok Bawah
Meski demikian, Jeffrey mengakui ketidakpastian di pasar keuangan dalam negeri juga masih cukup tinggi.
Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai sentimen global yang membuat pergerakan bursa menjadi sangat dinamis.
Namun secara keseluruhan koreksi IHSG masih searah atau inline dengan tren pelemahan yang dialami pasar global.
“Dan kalau kita akumulasikan koreksi dua hari di pasar global, Asia, ditambah dengan sedikit koreksi tambahan hari ini di pasar global itu sama dengan koreksi yang kita alami hari ini. Jadi saya rasa masih inline dengan global market, tetapi memang ketidakpastian di pasar kita itu masih cukup tinggi,” paparnya.
Jeffrey mengingatkan investor ritel tetap memperhatikan fundamental perusahaan dan tidak mengambil keputusan investasi secara emosional di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Pelaku pasar tetap melakukan analisis secara cermat dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing.
“Oleh karena itu, tentu tidak bosan-bosannya kami mengingatkan supaya investor tentu tetap memperhatikan fundamental, tidak panik, menganalisis secara cermat, mengatur strategi berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing karena kondisi pasar sangat dinamis, ketidakpastiannya masih cukup tinggi,” tukas dia.
Terkait arus dana asing, Jeffrey mengatakan pergerakan investor asing yang keluar dan masuk pasar merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi berbagai pertimbangan global maupun domestik.
Meski demikian, BEI terus berupaya menjaga daya tarik pasar modal Indonesia agar investor asing tetap berpartisipasi dalam jangka panjang.
“Kalau investor asing tentu dari waktu ke waktu memang masuk dari keluaran dengan segala pertimbangannya. Nah tentu kita melakukan upaya terbaik Agar investor asing akan terus masuk dan untuk jangka panjang tetap stay dan berpartisipasi di pasar kita,” lanjutnya.
Di sisi lain, Jeffrey menilai pertumbuhan investor domestik menjadi penopang penting bagi pasar modal dalam negeri.
Hingga Rabu lalu, jumlah investor pasar modal Indonesia disebut telah menembus 27 juta investor.
Peningkatan partisipasi investor ritel dan institusi domestik diharapkan dapat membuat pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam dan lebih stabil dalam jangka panjang.
Ia menambahkan, berbagai langkah yang dilakukan BEI saat ini merupakan bagian dari upaya serius untuk memperbaiki kualitas pasar modal dalam jangka panjang.
IHSG ditutup melemah
IHSG hari ini ditutup melemah 1,85 persen atau turun 124,079 poin ke level 6.599,240 pada perdagangan Senin (18/5/2026).
Tekanan jual mendominasi sejak awal sesi perdagangan hingga sempat membawa IHSG menyentuh angka terendah harian di 6.398,786.
Berdasarkan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di posisi 6.628,976 dan sempat menyentuh angka tertinggi harian di 6.631,282, sebelum akhirnya bergerak di zona merah sepanjang perdagangan.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah dominasi saham yang turun. Sebanyak 616 saham ditutup melemah, 125 menguat dan 79 stagnan.
Baca juga: IHSG Ditutup Anjlok 1,85 Persen, Rupiah Tembus Rekor Terlemah Baru