Penyebab IHSG Ambles 3,76% pada Sesi I Hari Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih ambles pada sesi pertama perdagangan Senin, 18 Mei 2026. IHSG pada sesi I turun 252 poin atau 3,76 persen ke level 6.470.
Mengutip riset Pilarmas Investindo Sekuritas, tekanan datang dari sentimen global dan domestik, mulai dari aksi jual tajam di Wall Street hingga memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pilarmas menyebut pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa regional Asia yang juga berada di zona merah setelah pasar merespons negatif aksi jual besar-besaran di pasar saham Amerika Serikat pada akhir pekan lalu.
Selain itu, pasar juga dibayangi kekhawatiran meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global.
IHSG merosot tajam pada perdagangan sesi I hari ini. [ANTARA]."Pasar cenderung lebih berhati-hati di tengah ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah," tulis Pilarmas dalam risetnya.
Sentimen negatif muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran. Sikap keras Washington terhadap Teheran dinilai meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Kondisi semakin memanas setelah muncul laporan adanya serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk Persia pada akhir pekan. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya distribusi minyak dunia, terutama karena Selat Hormuz disebut masih sebagian besar tertutup.
Tak hanya faktor geopolitik, perlambatan ekonomi China juga menjadi perhatian investor. Produksi industri China pada April 2026 hanya tumbuh 4,1 persen secara tahunan, melambat dibandingkan Maret yang mencapai 5,7 persen dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 5,9 persen.
Sementara itu, penjualan ritel China hanya naik 0,2 persen secara tahunan pada April 2026, jauh melambat dibandingkan kenaikan 1,7 persen pada Maret dan di bawah proyeksi pasar sebesar 2 persen.
Pilarmas menilai perang tarif dagang dan konflik Timur Tengah mulai menggerus momentum pertumbuhan ekonomi China sebagai salah satu motor ekonomi dunia.
Dari dalam negeri, pasar keuangan domestik juga mendapat tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat.
Pelaku pasar juga bereaksi negatif terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat di pedesaan tidak menggunakan dolar AS.
Menurut Pilarmas, komentar tersebut justru memunculkan kekhawatiran investor terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kredibilitas ekonomi nasional.
"Pelaku pasar menilai pernyataan itu memperlihatkan kurangnya kepekaan pemerintah terhadap urgensi stabilisasi mata uang," tulis Pilarmas.
Di tengah tekanan pasar, Pilarmas merekomendasikan saham Astra International atau ASII untuk aksi beli dengan level support di 5.725 dan resistance di 6.050.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan sesi I, sebanyak 20,07 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 11,94 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,71 juta kali.
Dalam perdagangan sesi I, sebanyak 90 saham bergerak naik, sedangkan 715 saham mengalami penurunan, dan 154 saham tidak mengalami pergerakan.
Pada sesi pertama perdagangan hari ini, saham-saham yang mencatat penguatan terbesar di antaranya BLUE, BPTR, ABDA, LABS, dan GSMF.
Sementara saham dengan pelemahan terbesar yakni DSSA, TPIA, AMMN, APIC, dan KONI.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.