Industri Herbal RI Mengejar Jejak China dan India
Ilustrasi obat herbal. Mengandalkan herbal tanpa pengobatan medis bisa membuat kuman TBC tidak mati dan berisiko semakin parah.(Shutterstock/pim pic)
10:40
18 Mei 2026

Industri Herbal RI Mengejar Jejak China dan India

Pasar herbal medicine global terus tumbuh dan diproyeksikan menuju 600 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9.720 triliun pada 2030. Di tengah besarnya pasar tersebut, Indonesia mulai mendorong industri obat modern alami berbasis biodiversitas untuk masuk ke pasar global.

Indonesia dinilai memiliki modal besar karena mempunyai biodiversitas terbesar kedua di dunia setelah Brazil dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman obat. Kekayaan hayati tersebut kini mulai diarahkan menjadi produk fitofarmaka berbasis riset dan sains modern.

Prof. Raymond R. Tjandrawinata, Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica sekaligus Guru Besar Kehormatan Bioteknologi Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya mengatakan, keberhasilan China dan India dalam industri herbal bukan hanya berasal dari kekayaan alam, tetapi juga keberanian membangun sistem kesehatan yang terintegrasi.

“Indonesia memiliki biodiversitas terbesar kedua di dunia. Langkah selanjutnya adalah membangun sistem kesehatan yang mengintegrasikan obat berbasis biodiversitas alam ke dalam layanan kesehatan formal, sebagaimana China dan India telah membuktikannya,” ujar Raymond melalui keterangannya, Senin (18/5/2026).

Menurut dia, China berhasil membangun Traditional Chinese Medicine (TCM) sebagai bagian integral dari sistem rumah sakit nasional hingga diterima sebagai global herbal drug. Sementara India mengembangkan Ayurveda melalui rumah sakit berskala nasional yang didukung riset dan uji klinis.

Keduanya dinilai berhasil membuktikan bahwa kekayaan alam yang didukung sains dan sistem kesehatan terintegrasi mampu melahirkan industri kesehatan berskala dunia.

Baca juga: Literasi Konsumen terhadap Produk Herbal Masih Rendah, Ini Tantangan Industri Lokal

Pasar Herbal Terus Tumbuh

Di Indonesia, minat masyarakat terhadap produk herbal juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pergeseran gaya hidup menuju pendekatan alami, meningkatnya kesadaran kesehatan preventif, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah menjadi pendorong pertumbuhan pasar herbal domestik.

Pertumbuhan itu tercermin dari semakin luasnya penggunaan produk berbasis bahan alami sebagai bagian dari perawatan sehari-hari.

Namun, di balik pertumbuhan pasar tersebut, industri herbal dalam negeri masih menghadapi tantangan berupa rendahnya literasi konsumen terkait produk herbal.

Data Profil Statistik Kesehatan 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masyarakat semakin memanfaatkan produk kesehatan nonmedis sebagai bagian dari rutinitas perawatan. 

Meski demikian, masih terdapat kesenjangan pemahaman terkait klasifikasi produk kesehatan, fungsi, hingga batasan penggunaan produk herbal.

Baca juga: Indonesia Pacu Industri Obat Herbal, BPOM Gandeng WHO Perkuat Regulasi

Sebelumnya, pemegang jenama Kutus Kutus, Fazli Hasniel mengatakan, ekspektasi konsumen kerap tidak sejalan dengan karakter produk herbal yang bersifat pendukung dan membutuhkan penggunaan berkelanjutan.

“Masih banyak masyarakat yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, yang disalahkan bukan pemahamannya, melainkan produknya,” ujar Fazli dalam keterangannya, Rabu (25/2/2026).

Fazli menjelaskan, rendahnya literasi konsumen membuat pasar herbal berkembang secara tidak merata.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai memperkuat posisi Indonesia dalam industri obat herbal dunia melalui penguatan regulasi dan riset fitofarmaka.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar mengatakan, pemerintah mendorong kemandirian farmasi nasional melalui pengembangan obat bahan alam dan fitofarmaka.

“BPOM menyediakan regulasi dan pedoman untuk memastikan kepatuhan terhadap keamanan, khasiat, dan mutu. Kami juga terus mendorong integrasi obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional,” ujar Taruna Ikrar dalam acara “The 16th Annual Meeting of the World Health Organization – International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines” di Jakarta, dikutip Rabu (22/10/2025).

Baca juga: Perkuat Bisnis Obat Herbal Tradisional, Produsen Pilkita Merger dengan Produsen Antangin

Fitofarmaka Mulai Diekspor

Di tengah perkembangan pasar tersebut, Dexa Group melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) mengembangkan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) berbasis evidence-based medicine selama lebih dari dua dekade.

Pengembangan itu mencakup riset mendalam, standardisasi bahan alam, hingga uji klinis untuk memastikan efikasi dan keamanan produk.

“Kami sudah mengekspor fitofarmaka Indonesia ke beberapa negara seperti Filipina dan Kamboja,” kata Raymond.

“Tenaga medis di sana menggunakan dan merekomendasikan produk Indonesia karena standar internasional, efikasi, dan safety-nya sudah terbukti,” lanjut dia.

Menurut Raymond, portofolio OMAI kini mencakup terapi kuratif berbasis sains, mulai dari imunomodulator berbasis bahan alam untuk penguatan sistem imun, terapi herbal untuk perempuan dengan polycystic ovarian syndrome (PCOS), hingga terapi pendukung pemulihan stroke berbasis biodiversitas Indonesia.

Sementara itu, BPOM mencatat Indonesia memiliki lebih dari 30.000 jenis tumbuhan, dengan sekitar 9.600 di antaranya memiliki khasiat obat. Namun, dari lebih dari 18.000 produk jamu dan herbal yang terdaftar di BPOM, baru 71 produk berstatus obat herbal terstandar (OHT) dan 20 fitofarmaka.

Taruna menilai kondisi tersebut menunjukkan peluang besar bagi industri dalam negeri untuk mengembangkan produk herbal bernilai ekonomi tinggi.

“Pertemuan ini merupakan momen penting bagi Indonesia untuk memainkan peran sentral dalam memperkuat sistem pengawasan sekaligus membuka pasar,” kata Taruna.

Raymond mengatakan, pengembangan OMAI menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian kesehatan nasional sekaligus kontribusi Indonesia dalam industri farmasi global.

“China dikenal karena TCM. India dikenal karena Ayurveda. Harapannya, dunia mengenal Indonesia karena kemampuan kita mengubah biodiversitas menjadi obat modern yang diterima secara global,” tutup Raymond.

Tag:  #industri #herbal #mengejar #jejak #china #india

KOMENTAR