IHSG Anjlok dan Rupiah Terjun: Ini Penyebab Tekanan Pasar Keuangan RI
Ilustrasi saham, IHSG. (canva.com)
10:36
18 Mei 2026

IHSG Anjlok dan Rupiah Terjun: Ini Penyebab Tekanan Pasar Keuangan RI

Tekanan jual di pasar saham domestik semakin dalam pada perdagangan sesi pagi, Senin (18/5/2026).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 283,558 poin atau 4,22 persen ke level 6.439,761 per pukul 09.57 WIB.

IHSG dibuka di 6.628,976 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 6.631,282.

Baca juga: IHSG Dibuka Anjlok 2,80 Persen, Tekanan Asing dan MSCI Bayangi Pasar

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Namun, tekanan jual yang terus meningkat membuat indeks melorot tajam hingga menyentuh area terendah di 6.433,532.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah dominasi saham yang bergerak di zona merah.

Sebanyak 663 saham turun, 76 saham menguat dan 73 saham stagnan.

Nilai transaksi pasar terpantau besar dengan turnover mencapai Rp 6,722 triliun dari volume perdagangan sebanyak 12,634 miliar saham.

Baca juga: IHSG Mei 2026 Diguncang Rebalancing MSCI dan Pelemahan Rupiah, Investor Diminta Lebih Defensif

Sementara frekuensi transaksi menyentuh 1.027.483 kali.

Tekanan serupa juga terjadi di pasar spot, di mana nilai tukar rupiah terdepresiasi 75 poin atau 0,43 persen ke level Rp 17.672 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai faktor eksternal masih menjadi penyebab utama tekanan terhadap kurs rupiah.

Yang paling disorot adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Baca juga: IHSG Awal Pekan Diprediksi Terkoreksi, Ritel Bisa Cermati Saham DEWA, INDY, ELSA

Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.

Ia menyinggung insiden penyitaan kapal China oleh Iran yang terjadi saat pelaksanaan KTT AS dan China.

Peristiwa tersebut dinilai menambah ketidakpastian global dan memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur energi dunia.

“Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri,” kata dia.

Di sisi lain, konflik militer Israel juga dinilai semakin memperburuk situasi geopolitik.

Baca juga: Benarkah Desa Tidak Terdampak Pelemahan Rupiah?

Sebaliknya, Israel disebut masih terus melakukan serangan ke wilayah Lebanon Selatan dan operasi terhadap Hamas untuk menyasar pimpinan kelompok tersebut.

Kondisi itu mendorong penguatan dollar AS sebagai aset safe haven global.

Bersamaan dengan itu, harga minyak mentah dunia juga diperkirakan terus meningkat sehingga menambah tekanan terhadap ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Kenaikan harga minyak akan berdampak langsung terhadap kebutuhan impor Indonesia.

Baca juga: Atur Strategi Saat Rupiah Melemah, Jangan Buru-buru Borong Dollar...

Pasalnya, impor minyak Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta barrel membutuhkan pasokan dollar AS dalam jumlah besar.

“Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor, selalu saya katakan adalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel,” paparnya.

Selain kebutuhan impor energi, tekanan terhadap rupiah juga datang dari pembagian dividen perusahaan dan jatuh tempo utang luar negeri yang membutuhkan valuta asing.

Di saat yang sama, sebagian masyarakat dinilai mulai mengalihkan simpanan dari rupiah ke mata uang asing.

Baca juga: Awali Pekan, Rupiah Kembali Melemah, Sentuh Level 17.661 Per Dollar AS

Ilustrasi utang. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi utang.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa posisi utang pemerintah hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp 9.920,42 triliun, naik dibandingkan dengan akhir 2025 yang sebesar Rp 9.637,9 triliun.

Rasio utang terhadap PDB turut meningkat menjadi 40,75 persen dari 39,86 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tak hanya rupiah, Ibrahim juga memperkirakan pasar saham domestik masih akan bergerak melemah.

Investor disebut masih menunggu pengumuman dari lembaga provider global, FTSE Russell, yang bakal mendepak saham asal Indonesia yang masuk daftar saham konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dalam tinjauan indeks Juni 2026.

Baca juga: Rupiah Melemah Bikin Warga Kota Serba Waswas, Pilih Healing Murah, Dana Darurat Jadi Prioritas

Sentimen rebalancing FTSE Russell, termasuk Morgan Stanley Capital International (MSCI), tetap menekan pasar domestik.

Lalu, pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal pelemahan rupiah tidak berdampak terhadap ekonomi desa karena masyarakat desa tidak mengenal dollar AS.

Ibrahim menilai pernyataan tersebut justru memicu reaksi negatif dari pelaku pasar alias investor.

Ibrahim memandang bahwa setiap pernyataan Presiden akan selalu diperhatikan dan direspons oleh pasar keuangan.

Baca juga: IHSG Mei 2026 Diguncang Rebalancing MSCI dan Pelemahan Rupiah, Investor Diminta Lebih Defensif

Karena itu, pemerintah diminta lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait kondisi ekonomi saat ini.

Meski demikian, ia mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 cukup menopang pasar.

Tag:  #ihsg #anjlok #rupiah #terjun #penyebab #tekanan #pasar #keuangan

KOMENTAR