Selat Hormuz Masih Tertutup, Cadangan Minyak Global Kian Kritis
- Cadangan minyak mentah yang selama ini meredam gangguan pasokan dari Timur Tengah diproyeksikan akan mencapai titik terendah sepanjang masa karena Selat Hormuz masih tertutup.
Persediaan minyak global menurun dengan kecepatan rekor untuk mengimbangi gangguan pasokan besar di Timur Tengah dan akan mendekati tingkat kritis jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan pekan ini, harga minyak dan bahan bakar kemungkinan akan lebih tinggi menjelang puncak permintaan pada musim panas ini sebagai konsekuensinya.
“Cadangan yang menyusut dengan cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut, dapat menjadi pertanda lonjakan harga di masa mendatang,” kata IEA dikutip dari CNBC, Senin (18/5/2026).
Baca juga: IEA Peringatkan Krisis Minyak Jika Selat Hormuz Tetap Ditutup
Pasar minyak belum merasakan dampak penuh dari hilangnya pasokan berkat persediaan komersial yang dimiliki oleh industri, cadangan strategis yang dikendalikan oleh pemerintah, dan kapal tanker yang sedang dalam perjalanan.
CEO Exxon Mobil, Darren Woods mengatakan persediaan ini mengurangi dampak gangguan pada Maret dan April.
Namun, persediaan komersial pada akhirnya akan turun ke tingkat saat persediaan tidak lagi dapat berfungsi sebagai sumber pasokan.
“Kami memperkirakan, jika hal itu terjadi dan selat tetap tertutup, kita akan terus melihat kenaikan harga di pasar,” kata Woods.
Bank Swiss UBS melaporkan, persediaan minyak berada di dekat level tertinggi dalam satu dekade terakhir, yaitu sedikit di atas 8 miliar barrel pada akhir Februari. Pada akhir April, persediaan turun menjadi 7,8 miliar barrel.
Para analis UBS mengatakan persediaan akan mendekati rekor terendah 7,6 miliar barrel pada akhir Mei jika permintaan tetap sama dari bulan ke bulan.
Para analis JPMorgan mengatakan dalam catatan, penurunan persediaan hingga level tersebut akan memberikan tekanan pada rantai pasokan.
Persediaan miliaran barrel mungkin terdengar banyak, tetapi kenyataannya hanya sekitar 800 juta barrel yang tersedia tanpa membebani sistem. Sisanya dibutuhkan untuk menjaga agar pipa dan tangki tetap terisi pada tingkat minimum sehingga rantai pasokan beroperasi secara efisien.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Kekhawatiran Serangan Kapal di Selat Hormuz
Tingkat kritis pasokan minyak dunia: Juli-September
Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan, Natasha Kaneva ngatakan, hal tersebut diibaratkan seperti tekanan darah dalam tubuh manusia, masalahnya adalah sirkulasi.
“Sistem tidak gagal karena minyak menghilang, tetapi gagal karena jaringan sirkulasi tidak lagi memiliki volume kerja yang cukup,” ujar dia.
JPMorgan memperkirakan persediaan minyak akan turun ke tingkat yang sangat rendah yaitu 6,8 miliar barrel pada bulan September jika Selat Hormuz masih ditutup pada saat itu.
Sementara itu, Rapidan Energy mengatakan, persediaan produk akan mencapai tingkat kritis lebih cepat pada bulan Juli atau Agustus.
Analis Rapidan mencatat, ekonomi global akan macet, dengan infrastruktur transportasi penting yang tidak dapat memperoleh bahan bakar dengan harga berapa pun.
Kendati demikian, persediaan minyak tersebut sangat kecil kemungkinannya untuk mencapai tingkat yang sangat rendah ini.
Sebaliknya, harga minyak dan produk olahan akan melonjak untuk mengurangi permintaan, yang akan menyebabkan kontraksi ekonomi yang parah.
“Kemungkinan besar itu akan terjadi sebelum kuartal III-2026,” kata analis Rapidan.
Tag: #selat #hormuz #masih #tertutup #cadangan #minyak #global #kian #kritis